ADVERTISEMENT
Rabu, Mei 6, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Agama

Antonilda, SSPS: Mataloko, Uta Tabha dan Budaya Matrilineal

Uta Tabha merupakan campuran jagung, sayur-sayuran, ubi, kestela, kelapa parut, sambal agak pedas, sedikit berair dan makan dalam keadaan panas.

7 Juli 2024
0
Antonilda, SSPS: Mataloko, Uta Tabha dan Budaya Matrilineal

RD. Stefanus Wolo Itu dan Sr. Antonilda SSPS. (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Seri Lepas Rindu Mantan Misionaris Flores (Bagian- 1)

Oleh : RD. Stefanus Wolo Itu

ADVERTISEMENT

HARI Sabtu 29 Juni 2024 saya pergi ke Laupheim. Kota kecil berpenduduk 22.863 ribu jiwa itu terletak di negara bagian Baden-Württemberg, Jerman Selatan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Jarak Eiken (Swiss) dan Laupheim (Jerman) 205 Km dan ditempuh hampir tiga jam dengan mobil atau empat jam dengan kereta.

Baca Juga

890 Jemaah Haji asal Provinsi Papua Diberangkatkan ke Tanah Suci, Wagub Aryoko Pesan Pererat Ukhuwah Islamiyah

Riswandy Jemaah Haji Termuda asal Mimika: Usia 18 Tahun, Gantikan Almarhum Ayah

Laupheim disebut pertama dalam sejarah tahun tahun 778. Kota ini pernah dikuasai beberapa kerajaan berbeda: Hungaria, Waldburg, Habsburg-Austria dan Württemberg.

Setelah perang dunia kedua sempat dikuasai Perancis. Tahun 1947 secara resmi menjadi wilayah negara bagian Baden-Württemberg.

Laupheim juga sejak tahun 1724 dikenal sebagai pusat komunitas Yahudi terbesar (843 orang) di Baden-Württemberg.

Jumlah mereka terus menurun, terutama ketika Hitler berkuasa. Banyak yang berpindah ke luar negeri. Dan yang tersisa menjadi korban kejahatan kemanusiaan, Holocaust tahun 1942.

Saya pergi ke Laupheim untuk mengunjungi “oma-oma suster SSPS, mantan misionaris Flores”.

Sejak tahun 1966, para suster SSPS Jerman membeli tanah bekas pemukiman Yahudi dan mendirikan rumah misi.

Komunitas ini pernah menjadi pusat provinsialat SSPS Jerman Selatan.

Saat ini hampir tidak ada lagi panggilan baru di Jerman. Anggota konggregasi yang tersisa 76 orang. Mayoritas mereka berusia di atas 80 an tahun.

Konggregasi bersepakat menjual tanah dan bangunan kepada “illerSENIO atau Caritas Lembah Iller”. IllerSENIO membangun rumah jompo di samping bangunan lama.

Beberapa bangunan tua SSPS sudah dirobohkan. Satu bangunan bertingkat sedang direnovasi.

Kapela dibiarkan tetap berdiri menyatu dengan gedung baru yang sudah ditempati orang-orang jompo.

Ketujuhpuluhan “oma-oma suster SSPS” juga menyewa dan tinggal di sana.

Mereka tinggal di bagian khusus agar tetap menjalankan aktivitas komunitas: doa, ekaristi, penyembahan sakramen, sharing kitab suci dan retret pribadi.

Jam 11.52 saya tiba di stasiun kereta api Laupheim Stadt. Dari stasiun saya berjalan kaki delapan menit menuju rumah jompo illerSENIO di Albert-Magg-Strasse 1.

Sr. Anna Maria, mantan provinsial SSPS Jerman menerima dan menghantar saya menuju kamar makan. Kebetulan mereka sedang makan siang.

“Schwester Antonilda und Reginardis, Sie haben einen Besuch, Pfarrer Stefan von Flores. Er ist im Bistum Basel Schweiz tätig. Suster Antonilda dan Reginardis, kamu mendapat kunjungan, pastor Stefan dari Flores. Dia bekerja di Keuskupan Basel Swiss”, kata Sr. Anna Maria.

Sr. Antonilda dan Reginardis yang kebetulan duduk semeja berusaha berdiri. Saya berjabat tangan dan memeluk mereka, menyerahkan madu, marmalade dan coklat Swiss.

Mereka sudah mempersiapkan satu kursi kosong, mempersilahkan saya duduk. Sr. Anna Maria menyodorkan sup dan makanan utama untuk saya cicipi. Sambil makan kami berceritera.

Setelah makan mereka menghantar saya menuju kapela. Kami hening, berdoa Bapa Kami dan Salam Maria.

Saya menyanyikan lagu Mengasih Maria dan memberikan berkat penutup. Wajah mereka berbinar-binar.

Dari kapela kami menuju pendopo dan berbagi ceritera tentang masa lalu di Flores. Sambil minum kopi kami ngobrol santai tentang masa lalu di Flores.

Mereka sudah lupa-lupa bahasa Indonesia. Karena itu kami ngobrol dalam bahasa Jerman.

Mataloko, Uta Tabha dan Budaya Matrilineal

Saya mengenal Sr. Antonilda saat kelas empat SD tahun 1978 di BP. Palang Suci Mataloko.

Beberapa kali saya sakit cukup serius. Bapak dan kakak Yohanes menghantar saya ke sana. Saya selalu tertolong.

Suster Antonilda tangan dingin. Dia memberi obat terbaik. Dia selalu tersenyum saat menyuntik pasien. Suntikannya tidak sakit.

“Saya menderita batu kering hampir dua tahun. Sr. Antonilda memberikan 2000 tablet INH dan sembuh, ” demikian kesaksian ayah saya.

Sr. Antonilda SSPS lahir di Hohentengen, Sigmaringen Baden-Württemberg tanggal 7 Agustus 1937.

Tahun 1968 Antonilda menuju tanah misi Flores dan tinggal di Hokeng.

Akhir tahun 1968 – 1975 ia bekerja di rumah sakit St. Elisabeth Lela Maumere. Tahun 1975-1982 ia pindah ke BP. Palang Suci Mataloko.

Tahun 1982-1998 Antonilda pindah ke RS Kewapante Maumere. Tahun 1998 ia kembali ke Mataloko hingga tahun 2008.

Tahun 2008, Sr. Antonilda kembali ke Jerman dan ingin menikmati masa tua di negeri asal.

Ia menetap di Laupheim, rumah induk saat pertama diutus ke tanah misi Flores.

“Laupheim terletak tidak jauh dari kampung halaman saya, 50 an kilometer. Bila rindu kampung, saya bisa ke sana”, kata Sr. Antonilda.

Saya coba menggali isi hatinya: “Selama 40 tahun Sr. Antonilda berada di Flores. Adakah hal berkesan selama di Flores secara khusus Mataloko ?” Suster Antonilda mulai berkisah penuh semangat.

Mataloko hat angenehmes klima. Cuaca Mataloko sangat nyaman dan menyenangkan. Suasananya seperti di Eropa. Tanahnya subur, banyak sayur dan buah.

“Markis, terung Belanda, stroberi bisa tumbuh dan berbuah di sana. Saya suka pisang bakar dan makan Uta Tabha, makanan khas orang Mataloko dan Ngada umumnya”.

Makanan Uta Tabha merupakan campuran jagung, sayur-sayuran, ubi, kestela, kelapa parut, sambal agak pedas, sedikit berair dan makan dalam keadaan panas.

“Saya juga ingat Mataloko dengan pohon-pohon albesia yang rindang. Albesia itu datangnya dari Amerika. Kalau tidak salah dibawa oleh misionaris Amerika P. William Popp SVD untuk melindungi tanaman kopi”.

“Orang-orang Mataloko dan sekitarnya rajin misa. Gereja selalu penuh. Mereka menyanyi sambil menari. Terutama pada saat pesta tubuh dan darah Kristus dan Kristus Raja Semesta Alam”.

Setelah perayaan ada makan dan minum moke bersama. Beda dengan situasi kita di Eropa. Setiap hari Minggu atau hari raya hanya sedikit orang yang mengikuti perayaan ekaristi. Bangku-bangku banyak kosong.

“Saya juga mengagumi budaya matriarkat orang Ngada. Perempuan tidak dibelis. Mereka dihormati dan mempunyai otoritas dalam keluarga. Mereka berwewenang untuk mengambil keputusan penting”.

“Pembagian harta warisan berdasarkan garis keturunan ibu. Saya harap perempuan-perempuan dari budaya matrilineal bisa lebih berperan penting dan strategis dalam ranah publik”, kata Sr. Antonilda penuh harapan.

Sr. Antonilda berceritera: “Dulu di beberapa wilayah Eropa, peran perempuan di ranah publik sangat terbatas.

Mereka bahkan diperlakukan secara tidak adil. Pada masa awal gerakan feminisme di Eropa, banyak wanita memilih masuk biara.

Biara menjadi tempat pelarian dan sering tampak seperti penjara.

Tapi di sisi lain, biara merupakan tempat pemenuhan sejati agar perempuan bisa membaca, menulis, berhitung, berpendidikan lebih layak dan tampil di ranah publik.

“Saya tak tahu maksud Sr. Antonilda mengisahkan cerita ini. Yang pasti ia ingin agar generasi baru, wanita-wanita istimewa bisa terus bermunculan dari kawasan budaya matrilineal yang dia kagumi. Semoga mereka berperan lebih di ranah publik gereja, politik dan kemasyarakatan”.

Terima kasih Sr. Antonilda atas perjumpaan penuh sukacita. Terima kasih atas jasamu membangun tanah misi Flores.

Engkau pernah menjadi bagian dari masyarakat, budaya dan kehidupan kami. Saya akan datang lagi ke Laupheim dan melanjutkan ceritera indah tentang Hokeng, Lela, Kewapante, Mataloko. Ya tentang Flores, Nusa Bunga.

Eiken AG Swiss, Minggu Malam Menjelang 1 Juli 2024. (**)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Belum Ada Hasil Evaluasi, 133 Kepala Kampung di Mimika Diminta Tetap Aktif Bekerja

Belum Ada Hasil Evaluasi, 133 Kepala Kampung di Mimika Diminta Tetap Aktif Bekerja

5 Mei 2026
Jalan Poros Timika-Mapurujaya Kembali Memakan Korban, Seorang Wiraswasta Tewas di TKP

Jalan Poros Timika-Mapurujaya Kembali Memakan Korban, Seorang Wiraswasta Tewas di TKP

5 Mei 2026
John NR Gobai Dorong Kampung Nelayan di Mimika, Minta Tidak Dipolitisasi

John NR Gobai Dorong Kampung Nelayan di Mimika, Minta Tidak Dipolitisasi

5 Mei 2026
Dua Tersangka Begal yang Putuskan Tangan Pelajar di Timika Masuk Tahap II

Dua Tersangka Begal yang Putuskan Tangan Pelajar di Timika Masuk Tahap II

5 Mei 2026
Satgas Yonif 4 Marinir TNI AL Pasang Lampu Penerangan Jalan di Distrik Ekadide – Paniai

Satgas Yonif 4 Marinir TNI AL Pasang Lampu Penerangan Jalan di Distrik Ekadide – Paniai

5 Mei 2026
DPR PPT dan Pemkab Mimika Sepakati Pembukaan Kembali Rute Kapal Perintis ke Jita

DPR PPT dan Pemkab Mimika Sepakati Pembukaan Kembali Rute Kapal Perintis ke Jita

5 Mei 2026

POPULER

  • Tragis! Kecelakaan Motor di Timika Berujung Pembacokan, Dua Nyawa Melayang

    Tragis! Kecelakaan Motor di Timika Berujung Pembacokan, Dua Nyawa Melayang

    664 shares
    Bagikan 266 Tweet 166
  • Praka Aprianus Gugur di Papua: Harapan Ibunya Terkalahkan dengan Niat Bahagiakan Orang Tua

    625 shares
    Bagikan 250 Tweet 156
  • Belum Ada Hasil Evaluasi, 133 Kepala Kampung di Mimika Diminta Tetap Aktif Bekerja

    581 shares
    Bagikan 232 Tweet 145
  • Dari Rp46 Miliar, Hanya Tersisa Rp5 Miliar untuk Operasional Satpol PP Mimika

    580 shares
    Bagikan 232 Tweet 145
  • “Kau Keluar Kau Aman”, Seorang Pria Ditemukan Tewas di Timika, Tiga Pelaku Diburu

    553 shares
    Bagikan 221 Tweet 138
  • Jalan Poros Timika-Mapurujaya Kembali Memakan Korban, Seorang Wiraswasta Tewas di TKP

    535 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Dua Tersangka Begal yang Putuskan Tangan Pelajar di Timika Masuk Tahap II

    524 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
Next Post
Reginardis SSpS: Bunga Bakung dari Lippach

Reginardis SSpS: Bunga Bakung dari Lippach

KKB Pembunuh Rusli Ditembak Mati Satgas OCD 2024, Berikut Catatan Kriminalnya

KKB Pembunuh Rusli Ditembak Mati Satgas OCD 2024, Berikut Catatan Kriminalnya

Polres Mimika Gelar Operasi Patuh Cartenz 2024, Berikut Tujuh Sasaran Tindak Pelanggaran

Polres Mimika Gelar Operasi Patuh Cartenz 2024, Berikut Tujuh Sasaran Tindak Pelanggaran

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id