TIMIKA, Koranpapua.id – Mimika dikenal sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, termasuk emas. Namun, di tengah kekayaan itu, seorang pelajar justru harus turun mendulang emas di pinggir Sungai Ajkwa untuk mendapatkan uang membeli seragam agar bisa kembali bersekolah.
Kisah tersebut disampaikan Benediktus Omkoro, warga asal Kampung Ipaya, Distrik Amar, Kabupaten Mimika, melalui surat terbuka yang ditujukan kepada pemerintah di tingkat kabupaten, provinsi hingga pusat.
Dalam surat berjudul “Surat Terbuka untuk Pemerintah dari Tanah Emas”, Benediktus awalnya menceritakan sosok seorang pelajar SMK Tunas Bangsa di Timika yang menurutnya rajin dan aktif di sekolah. Namun, keterbatasan ekonomi membuat pelajar tersebut harus meninggalkan bangku sekolah sementara waktu.
“Ada anak SMA di Timika. Anak kami. Anak Bapak/Ibu juga. Dia anak yang rajin, aktif di sekolah. Tapi hari ini bangkunya kosong,” tulis Benediktus.
Pelajar itu, kata Benediktus, bukan sedang membolos. Ia meminta izin tidak masuk sekolah karena harus mencari uang dengan mendulang emas.
“Bukan karena dia bolos. Dia ijin tidak sekolah, karena harus mendulang,” tulisnya.

Uang yang dicari pun bukan untuk membeli barang mewah. Pelajar tersebut hanya berusaha memenuhi kebutuhan sekolah agar dapat kembali mengikuti kegiatan belajar.
“Untuk apa? Bukan untuk membeli motor. Bukan untuk membeli HP mahal. Dia mendulang untuk membeli baju olahraga dan baju batik agar dia boleh tetap bersekolah,” katanya.
Kondisi itu menjadi pertanyaan bagi Benediktus. Ia mempertanyakan bagaimana seorang anak di daerah yang dikenal kaya sumber daya alam masih harus mencari sendiri uang untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikannya.
“Pak, Bu, Ini Timika. Tanah yang katanya surga, tanah yang penuh susu dan madu. Dari tanah ini, berton-ton emas dikirim ke seluruh dunia,” tulisnya.
Namun, di tengah kekayaan tersebut, menurut Benediktus, masih ada anak yang harus turun ke lumpur untuk mendapatkan perlengkapan sekolah.
“Tapi mengapa di atas tanah terkaya ini, seorang anak harus turun ke lumpur untuk membeli seragamnya sendiri?” lanjutnya.
Benediktus mengatakan surat tersebut bukan untuk menyalahkan pihak tertentu. Ia hanya ingin pemerintah melihat secara langsung kondisi anak-anak yang masih menghadapi keterbatasan untuk bersekolah.
“Kami tidak menyalahkan siapa-siapa. Kami hanya ingin bertanya dengan hati seorang orang tua: Apakah negara sudah hadir untuk dia?” tulisnya.
Ia juga mempertanyakan sejauh mana berbagai program pendidikan pemerintah benar-benar dirasakan oleh siswa, termasuk bantuan pendidikan, dana BOS dan program yang bersumber dari Otonomi Khusus (Otsus).
“Apakah dana BOS, dana Otsus, program pendidikan gratis sudah sampai ke seragam di badannya?” katanya.
Menurut Benediktus, persoalan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari angka capaian atau laporan administratif. Pemerintah juga perlu memastikan kebutuhan dasar siswa terpenuhi sehingga tidak ada anak yang terpaksa meninggalkan sekolah untuk mencari uang.
“Pak, Bu, tolong lihat dia. Jangan hanya lihat angka laporan di atas meja,” tulisnya.
Bagi Benediktus, harga satu set baju olahraga dan satu baju batik mungkin tidak besar dibandingkan anggaran pemerintah. Namun bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, kebutuhan tersebut bisa menjadi persoalan besar bagi keberlanjutan pendidikan seorang anak.
“Satu baju olahraga dan satu baju batik harganya tidak seberapa bagi anggaran negara. Tapi bagi dia, itu harga dari masa depannya,” ujarnya.
Namun, di bagian akhir suratnya, Benediktus mengungkap fakta yang membuat kisah tersebut menjadi lebih personal.
Pelajar yang ia ceritakan ternyata adalah dirinya sendiri.
Benediktus adalah siswa SMK Tunas Bangsa yang harus meninggalkan bangku sekolah sementara dan turun mendulang emas di pinggir Sungai Ajkwa untuk mengumpulkan uang membeli baju olahraga dan baju batik.
Dengan kisah itu, Benediktus ingin pemerintah melihat bahwa di balik berbagai program dan anggaran pendidikan, masih ada anak yang membutuhkan bantuan agar tetap bisa bersekolah.
Ia berharap tidak ada lagi pelajar di Mimika yang harus meninggalkan bangku sekolah dan mendulang emas hanya untuk membeli perlengkapan sekolah.
“Jangan biarkan emas di perut bumi lebih berharga daripada emas di dalam kelas – yaitu anak-anak kita,” tulis Benediktus. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







