TIMIKA, Koranpapua.id – Gangguan keamanan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, mulai meninggalkan trauma pada tenaga kesehatan.
Seorang nakes bahkan harus dipindahkan setelah dokter spesialis kejiwaan menyatakan yang bersangkutan tidak lagi diperbolehkan bertugas di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Godfried Maturbongs mengatakan, trauma itu cukup berat. Suara yang menyerupai tembakan dapat memicu reaksi spontan pada nakes tersebut untuk menghindar.
“Ketika dia mendengar bunyi seperti tembakan, secara spontan ada refleks untuk berlari menghindari bunyi tersebut,” ujar Godfried Jumat 11 September 2026.
Kondisi itu membuat Dinkes Mimika harus mempertimbangkan kembali keberadaan nakes di Jila. Menurut Godfried, keselamatan petugas tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan pelayanan kesehatan.
“Ada gangguan keamanan, sehingga suka atau tidak suka saya harus berusaha bagaimana mengevakuasi seluruh nakes yang ada di Jila,” katanya.
Godfried mengatakan, Dinkes saat ini berkoordinasi dengan Bupati dan Wakil Bupati Mimika untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan mengevakuasi seluruh nakes dari Jila.
Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa hanya meminta nakes tetap bertugas tanpa memberikan jaminan keamanan.
“Tugas dan tanggung jawab saya adalah menghadirkan tenaga kesehatan. Tapi pada satu sisi, nakes-nakes ini juga membutuhkan jaminan. Mereka mau bekerja, tetapi apakah ada jaminan keamanan, keselamatan dan kenyamanan?” ujarnya.
Evakuasi atau Pelayanan Tetap Berjalan
Persoalan menjadi rumit karena penarikan seluruh nakes berisiko membuat masyarakat Jila kehilangan pelayanan kesehatan.
“Jangan sampai pelayanan kesehatan di sana kosong,” kata Godfried.
Karena itu, Dinkes harus mencari skema yang memungkinkan keselamatan nakes tetap terjamin tanpa memutus pelayanan kesehatan masyarakat.
Koordinasi lintas pihak terus dilakukan untuk menentukan langkah, termasuk kemungkinan evakuasi sementara dan penempatan kembali nakes jika situasi keamanan telah dinilai aman.
Bagi Dinkes, kondisi di Jila kini bukan sekadar persoalan ketersediaan tenaga kesehatan. Pemerintah juga harus memastikan mereka dapat bekerja tanpa dibayangi rasa takut dan trauma. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru







