TIMIKA, Koranpapua.id- Perekonomian Kabupaten Mimika masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Dari PDRB yang mencapai lebih dari Rp131 triliun, sekitar 80 persen di antaranya masih ditopang sektor pertambangan dan penggalian.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Mimika untuk memperkuat sektor ekonomi lain, terutama industri pengolahan yang kontribusinya terhadap PDRB baru sekitar 1 persen.
Hal itu disampaikan Direktur Industri Aneka Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian (Ditjen IKMA) Reny Meilany saat berada di Timika, Rabu 2 September 2026.
Menurut Reny, besarnya kontribusi pertambangan menunjukkan kuatnya posisi sektor tersebut dalam perekonomian Mimika. Namun, di sisi lain, masih terbuka ruang yang besar untuk mengembangkan industri pengolahan agar struktur ekonomi daerah tidak terlalu bertumpu pada satu sektor.
“Kondisi ini kemudian menunjukkan bahwa industri pengolahan di Kabupaten Mimika masih memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan,” kata Reny.
Ia mengatakan Mimika memiliki posisi strategis sebagai salah satu penggerak perekonomian di kawasan Indonesia Timur dan Papua Tengah. Karena itu, potensi ekonomi yang ada perlu dikembangkan menjadi sektor-sektor usaha yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat.
Reny menilai industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang penting untuk diperkuat karena memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pengembangan sektor ini juga dapat membuka ruang bagi tumbuhnya usaha-usaha baru di tengah masyarakat.
“Karena memang kita ketahui bahwa sebenarnya industri pengolahan ini justru mampu menyerap jumlah tenaga kerja yang cukup besar,” ujarnya.
Menurut dia, pengembangan industri pengolahan juga menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian ekonomi global. Gejolak geopolitik, risiko inflasi hingga perubahan iklim menjadi tantangan yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, Reny mengatakan perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 5,11 persen pada 2025. Kondisi tersebut, menurut dia, perlu diikuti dengan penguatan ekonomi di daerah melalui pengembangan sektor-sektor yang memiliki potensi besar.
Pengembangan industri pengolahan di Mimika, kata Reny, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga perlu didorong untuk melihat peluang usaha yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan pasar setempat.
Ia berharap semakin banyak pelaku usaha yang mampu mengolah potensi ekonomi daerah menjadi produk bernilai tambah, sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor pertambangan.
Dengan demikian, penguatan industri pengolahan diharapkan dapat menjadi salah satu jalan bagi Mimika untuk memperluas basis ekonominya sekaligus menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







