TIMIKA, Koranpapua.id – Ketua Lembaga Masyarakat Hukum Adat (Lemasa) Kabupaten Mimika, Sem Bukaleng meminta pemerintah lebih serius memperhatikan para perajin asli Papua di Mimika.
Kepada koranpapua.id, Sem menilai mama-mama Papua yang menghasilkan noken dan berbagai kerajinan budaya memiliki potensi ekonomi besar, tetapi belum mendapat ruang pemasaran yang layak.
Menurutnya, pemerintah seharusnya menyediakan sentra khusus kerajinan dan budaya Papua agar para perajin tidak lagi berjualan di pinggir jalan.
“Pemerintah harus menyediakan tempat khusus, semacam gedung atau sentra kerajinan, supaya hasil karya mama-mama Papua bisa dipasarkan dengan baik,” ujarnya, Kamis 13 Agustus 2026.
Sem juga menyoroti keberadaan sejumlah penjual kerajinan di ruas jalan yang dinilai mengganggu aktivitas lalu lintas.
Menurutnya, persoalan tersebut harus ditata pemerintah tanpa mematikan mata pencaharian masyarakat.
Ia mendorong agar produk seperti noken, koteka dan kerajinan khas berbagai suku Papua ditempatkan dalam satu kawasan yang mudah dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.
Jangan Sampai Kerajinan Papua Justru Tak Punya Ruang
Sem mengatakan, setiap suku memiliki karakter dan model kerajinan yang berbeda. Karena itu, kerajinan tersebut harus diberi ruang untuk berkembang sekaligus menjadi bagian dari promosi budaya Papua.
“Kerajinan orang Dani berbeda dengan suku lainnya. Noken juga memiliki model dan makna yang berbeda sesuai budaya masing-masing. Ini yang harus dijaga dan dikembangkan,” katanya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat kerajinan sebagai aktivitas jual beli, tetapi juga sebagai identitas budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat asli Papua.
Sem juga meminta penataan pedagang di pinggir jalan dilakukan secara tegas dan adil. Pedagang dapat diarahkan ke pasar atau lokasi khusus sehingga tidak menggunakan badan jalan dan mengganggu pengguna jalan.
“Kalau ada tempat yang disediakan, silakan jualan di situ. Jangan sampai badan jalan dipakai untuk berjualan dan akhirnya jalan menjadi sempit,” tegasnya.
Sem mengusulkan agar pemerintah bersama lembaga adat dapat mencari solusi untuk memberikan ruang bagi masyarakat Papua untuk berkarya, berjualan, mempertahankan budaya, sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru







