TIMIKA, Koranpapua.id- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menilai upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas kesehatan atau memberikan pelayanan medis.
Perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dilakukan secara terus-menerus.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, S.IP., M.M.Kes kepada koranpapua.id usai apel gabungan di Lapangan Kantor Bupati Mimika, Senin 10 Agustus 2026.
Godfried mengatakan promosi kesehatan melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bagian penting dalam mendorong masyarakat meninggalkan kebiasaan hidup yang tidak sehat.
Menurutnya, promosi kesehatan tidak hanya menjadi tugas Dinkes tetapi juga membutuhkan dukungan berbagai mitra, termasuk organisasi dan lembaga yang selama ini bekerja bersama pemerintah dalam bidang kesehatan masyarakat.
“Promosi kesehatan itu wajib dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan. Di dalamnya ada berbagai kegiatan bagaimana kita mempromosikan kesehatan kepada masyarakat, mulai dari perkotaan, daerah pesisir sampai daerah pedalaman,” ujar Godfried.
Ia menjelaskan, kegiatan promosi kesehatan dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk keterlibatan Puskesmas dan mitra kerja di lapangan.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pesan-pesan kesehatan tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Godfried juga menyebut keterlibatan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) dan sejumlah mitra lainnya dalam mendukung kegiatan promosi kesehatan di Mimika msih sangat diperlukan.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan besar di lapangan. Salah satunya adalah tingkat kesadaran sebagian masyarakat terhadap pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Kalau kita bicara kesehatan, kesehatan itu harus dipromosikan terus-menerus,” tegasnya.
Menurut Godfried, masyarakat tidak boleh hanya sekali diberikan sosialisasi kemudian dianggap langsung memahami dan mengubah perilakunya. Edukasi kesehatan membutuhkan proses panjang dan berulang.
Ia bahkan mengibaratkan masyarakat yang terlihat belum menerima pesan promosi kesehatan bukan berarti menolak, tetapi bisa jadi karena informasi yang diberikan belum cukup dipahami.
“Kalau ada masyarakat yang belum menerima, sebenarnya bukan tidak menerima. Mungkin mereka belum mengerti. Karena mereka baru sekali mendengar,” katanya.
“Tetapi kalau mereka dengar terus, pahami terus, dan ikut dalam promosi kesehatan, saya yakin derajat kesehatan masyarakat akan bergerak dari yang kurang baik menjadi lebih baik,” lanjutnya.
Ubah Perilaku, Bukan Sekadar Sosialisasi
Godfried menegaskan, inti dari program PHBS dan promosi kesehatan bukan sekadar menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Tujuan akhirnya adalah mengubah perilaku dari kebiasaan yang tidak sehat menjadi pola hidup yang lebih sehat.
“Pada intinya bagaimana mengubah perilaku hidup yang tidak sehat menjadi perilaku hidup sehat. Ini pekerjaan berat,” katanya.
Karena itu, Dinkes Mimika bersama Puskesmas dan para mitra diminta tidak cepat berhenti melakukan edukasi hanya karena masyarakat terlihat bosan dengan materi yang sama.
Menurutnya, pengulangan justru menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat.
“Ini pekerjaan berat, teman-teman, tetapi kita harus terus-menerus,” ujarnya.
Ia berharap program Germas dan PHBS tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi berkembang menjadi kebiasaan masyarakat Mimika.
Sebab, semakin kuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kesehatan sejak dari lingkungan keluarga, semakin besar pula peluang menekan berbagai persoalan kesehatan.
Dinkes sendiri, kata Godfried, belum melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap seluruh kegiatan promosi kesehatan yang telah berjalan bersama para mitra.
Namun, ia memastikan program promosi kesehatan tetap berjalan dan menyasar masyarakat di wilayah Mimika.
Bagi Dinkes Mimika, persoalannya kini bukan sekadar seberapa banyak sosialisasi dilakukan, tetapi seberapa jauh pesan Germas dan PHBS benar-benar mengubah kebiasaan masyarakat. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru







