MANOKWARI, Koranpapua.id– Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya kini hadir ke wilayah transmigrasi di Papua Barat, dengan membawa inovasi pemanfaatan buah Matoa.
Pengabdian masyarakat ini memiliki tujuan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan tajuk Hilirisasi Komoditas Matoa Prafi: Transformasi Kawasan Melalui Ekosistem Ekonomi Terpadu.
TEP kelompok 12 dipimpin oleh Mhd Zamal Nasution, SSi MSc PhD dengan anggota Luthfi Aqil Muyassar, Muhammad Irsyad Setiyawan, Fira Adila Puteri, Muhammad Benoit Hakeem Al Riso, dan Muhammad Iqbal Fathoni.
Mereka akan melakukan misi pengabdian masyarakat selama empat bulan dari Agustus – November 2026, di Kawasan Prafi, Manokwari, Papua Barat.
Inovasi Produk Berbasis Matoa
Zamal mengatakan, Prafi memiliki potensi sumber daya alam besar, seperti padi, hortikultura, dan perkebunan. Selain itu komoditas lokal seperti buah Matoa juga tumbuh melimpah, apalagi pada musim panen.
Namun sayangnya, selama ini masyarakat setempat kurang memanfaatkannya, dan mereka hanya menjual dalam bentuk buah segar.
Sehingga, nilai tambahnya masih rendah dan seringkali langsung menebang pohon Matoa ketika panen tiba.
“Berangkat dari alasan tersebut, kami ingin mengajarkan kepada mereka cara lain menikmati buah Matoa dan disulap menjadi produk lainnya,” ujar Zamal seperti dikutip Minggu 9 Agustus 2026.
Di antaranya, dodol matoa, selai, stik buah, sambal matoa, kacang dari biji matoa, teh antioksidan dari kulit matoa, hingga es krim matoa berbasis susu.
Produk-produk ini juga berpotensi menjadi menu pendamping Program Makan Bergizi (MBG).
Enam produk dari buah Matoa tersebut memanfaatkan seluruh bagian dari pohon Matoa, kecuali kayu dan daunnya.
“Selain itu, kami juga akan memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa ketika panen tiba itu dipetik, bukan malah langsung ditebang,” tambah Zamal.
Kemudian, mereka juga akan melakukan pemberdayaan kepada kelompok UMKM, khususnya perempuan pekerja yang menjadi tumpuan hidup keluarganya. Sehingga, nantinya Prafi memiliki ekosistem yang terdapat demand dan supply.
“Jadi ketika UMKM berkembang, harapannya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi para perempuan dan anak-anak muda juga di sana,” ujar Zamal.
Bangga Produk Lokal
Tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan membangun kepercayaan masyarakat.
“Setiap daerah memiliki karakter sosial, budaya, dan pengalaman yang berbeda terhadap berbagai program pembangunan. Karena itu, pendekatan kami adalah mendengarkan sebelum menawarkan solusi,” tutur Zamal.
Hal tersebut tercapaikan melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
Harapannya melalui program ini dapat memiliki dampak jangka panjang. “Kami ingin masyarakat Prafi semakin bangga terhadap potensi yang mereka miliki, terutama matoa sebagai buah asli Papua,” katanya.
“Kemudian, kami juga merencanakan pemasaran yang akan diarahkan melalui toko-toko souvenir di Manokwari, platform digital, dan jejaring sepuluh perguruan tinggi peserta Tim Ekspedisi Patriot, sehingga produk lokal memiliki akses pasar yang lebih besar,” lanjut Zamal.
Terlaksananya program ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) yang meliputi SDG 12: Responsible Consumption and Production, SDG 1: No Poverty, SDG 5: Gender Equality, SDG 8: Decent Work and Economic Growth, dan SDG 15: Life on Land. (Redaksi)








