TIMIKA, Koranpapua.id– Senator Papua Tengah, Eka Kristina Murib Yeimo menyampaikan seruan damai di tengah terus berlanjutnya konflik bersenjata di Tanah Papua.
Ia meminta seluruh pihak yang bertikai untuk segera menghentikan kekerasan dan mengedepankan dialog sebagai jalan penyelesaian konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan di Nabire, Jumat 24 Juli 2026, Eka menegaskan bahwa Papua tidak boleh terus dijadikan arena konflik yang mengorbankan masyarakat sipil.
“Jangan jadikan Papua tempat latihan perang. Papua adalah rumah kita bersama. Korban jiwa terus berjatuhan akibat konflik bersenjata,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa warga sipil kerap menjadi korban di tengah bentrokan antara TPNPB/OPM dan aparat TNI, sehingga masyarakat hidup dalam rasa takut dan kehilangan rasa aman.
“Korban terus berjatuhan di atas Tanah Papua. Warga sipil menjadi sasaran dan nyawa mereka seolah tidak lagi memiliki arti di tengah konflik yang terus berlangsung,” lanjutnya.
Eka menilai konflik yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu belum menunjukkan penyelesaian yang komprehensif.
Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan kesan bahwa persoalan Papua terus berlarut tanpa kepastian jalan keluar.
Sebagai Senator yang mewakili Papua Tengah, ia mengaku prihatin melihat konflik yang terus berulang dan berharap pemerintah bersama seluruh pihak terkait dapat mengambil langkah nyata untuk menghentikan kekerasan.
Salah satu solusi yang didorongnya adalah dialog langsung antara pimpinan TNI dan pimpinan TPNPB/OPM sebagai upaya mencari penyelesaian damai.
“Segera lakukan dialog antara pemimpin TNI maupun pemimpin TPNPB/OPM. Jangan jadikan Tanah Papua sebagai lahan perang atau tempat latihan tempur,” katanya.
Eka juga menyinggung pengalaman penyelesaian konflik di Aceh sebagai contoh bahwa konflik berkepanjangan dapat diakhiri melalui proses perdamaian.
Hal ini bisa saja dilakukan di Papua, apabila semua pihak memiliki kemauan politik dan komitmen untuk berdialog.
“Aceh saja bisa menyelesaikan konfliknya. Saya yakin Papua juga bisa. Kita tidak boleh pesimis, tetapi harus tetap optimistis. Setelah hujan selalu ada pelangi,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Eka menyampaikan harapan agar masyarakat Papua dapat kembali menjalani kehidupan yang aman, damai, dan bebas dari ancaman konflik bersenjata.
“Masyarakat hanya ingin hidup dengan aman dan damai di tanah kelahirannya. Kepada semua pihak yang bertikai, saya mengajak agar segera mengakhiri konflik ini demi masa depan Papua yang lebih baik,” tutupnya. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru










