SEMARANG, Koranpapua.id- Sebanyak 144 dosen, mahasiswa, dan alumni dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, diterjunkan ke kawasan transmigrasi prioritas nasional.
Mendukung kesuksesan program dengan nama Ekspedisi PATRIOT 2026 ini, Undip Semarang menggandeng 21 perguruan tinggi mitra untuk bersama-sama terjun ke dua wilayah tersebut.
Ratusan akademisi ini nantinya tidak sekadar menjalankan pengabdian masyarakat, tetapi membawa misi merancang solusi pembangunan berbasis kebutuhan warga di wilayah transmigrasi.
Tim Ekspedisi PATRIOT UNDIP 2026 akan bertugas di 24 kawasan transmigrasi, terdiri atas 20 tim di Papua dan empat tim di Sumatera Selatan.
Program ini merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan Kawasan Ekonomi Transmigrasi Terintegrasi (KETT) yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo berpesan agar seluruh peserta menjaga nama baik institusi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di daerah penugasan.
“Saya melepas teman-teman semua ke area Papua dan Sumatera. Semoga terus menjadi inspirasi dan memberikan kontribusi bagi Indonesia,” ujarnya saat pelepasan peserta di Gedung ICT Center Kampus UNDIP, Kamis 23 Juli 2026.
Berbeda dengan program pengabdian masyarakat pada umumnya, Ekspedisi PATRIOT dirancang sebagai laboratorium sosial yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan tantangan pembangunan di lapangan.
Peserta ditugaskan untuk memetakan potensi dan persoalan kawasan transmigrasi, sekaligus memberikan rekomendasi pembangunan yang berkelanjutan.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, mengatakan program ini merupakan bagian dari komitmen UNDIP sebagai universitas yang berdampak bagi masyarakat.
“Ini adalah kiprah kita sebagai duta universitas berdampak untuk membangun daerah sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat,” katanya.
Selanjutnya, Ketua Person in Charge (PIC) Ekspedisi PATRIOT Undip 2026, Prof. Dr. Ing. Wiwandari Handayani menjelaskan, fokus program tahun ini diarahkan pada empat sektor utama.
Yakni, pembangunan infrastruktur, pengembangan komoditas unggulan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan transmigrasi.
Peserta nantinya akan ditempatkan di sejumlah wilayah strategis, di antaranya Kawasan Transmigrasi Senggi di Kabupaten Keerom, Papua.
Sebagiannya di Kawasan Transmigrasi Petata di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Parit Rambutan di Kabupaten Ogan Ilir, Telang di Kabupaten Banyuasin, dan Kikim di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.
Tidak hanya membawa pendekatan teknis pembangunan, para peserta juga dibekali kemampuan adaptasi sosial dan komunikasi lintas budaya.
“Hal ini menjadi penting mengingat kawasan transmigrasi memiliki karakteristik sosial dan budaya yang beragam,’’ tandasnya. (Redaksi)










