TIMIKA, Koranpapua.id– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar Pelatihan Tata Laksana Stunting bagi tim stunting dari 26 puskesmas di Kabupaten Mimika, di salah satu hotel di Timika, Rabu 15 Juli 2026.
Pelatihan tersebut diikuti tim stunting dari seluruh Puskesmas, serta melibatkan tenaga kesehatan dari RSUD, RSMM, mulai dari dokter, bidan, perawat, hingga petugas gizi yang tergabung dalam tim stunting.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Harapan Kita, Jakarta.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Dr. Sisma HL, mengatakan pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani stunting secara komprehensif, mulai dari deteksi dini, penanganan, pendampingan, hingga evaluasi kasus.
“Kegiatan ini merupakan pelatihan tata laksana stunting. Pesertanya dari tim stunting di masing-masing Puskesmas, kemudian juga melibatkan RSUD, termasuk dokter, bidan, perawat, dan petugas gizi yang tergabung dalam tim stunting,” ujarnya.
Menurut Sisma, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan tetap menjadi prioritas meski prevalensi stunting di Kabupaten Mimika telah turun menjadi sekitar 9,5 persen, atau berada di bawah rata-rata nasional.
Ia menegaskan capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak lengah karena upaya pencegahan dan penanganan stunting harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Output dari pelatihan ini adalah peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, terutama terkait deteksi dini stunting, tata laksana penanganan, pendampingan, hingga evaluasi kasus,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa, angka stunting di Mimika kini mengalami penurunan, sekitar 9,5 persen dan sudah berada di bawah rata-rata nasional. “Namun, penurunan ini bukan berarti kita lengah,” pungkasnya.
Ia menjelaskan, salah satu materi penting dalam pelatihan adalah penguatan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan pengukuran antropometri secara tepat.
Karena menurutnya, kesalahan dalam proses pengukuran dapat berdampak pada kekeliruan diagnosis sehingga memengaruhi penanganan yang diberikan kepada anak.
“Harapan kami setelah pelatihan ini, kemampuan dan keterampilan para tenaga kesehatan semakin meningkat, terutama dalam melakukan pengukuran antropometri. Pengukuran harus dilakukan dengan benar karena jika terjadi kesalahan, diagnosis yang dihasilkan juga bisa keliru,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, Dinkes berharap kualitas layanan penanganan stunting di seluruh Puskesmas di Mimika semakin optimal sehingga mampu mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting secara berkelanjutan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru








