TIMIKA, Koranpapua.id- Kampung Nawaripi, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, yang hanya berjarak beberapa menit dari pusat Kota Timika justru memperlihatkan wajah pembangunan yang memprihatinkan.
Drainase tidak berfungsi, jalan rusak, genangan air bertahan hingga berhari-hari, sampah menumpuk, dan ancaman malaria menghantui warga setiap musim hujan.
Ironisnya, warga mengaku para pimpinan daerah sudah beberapa kali mengunjungi kawasan tersebut. Namun hingga kini, mereka belum melihat adanya perubahan nyata.
“Mereka sudah turun juga dan mereka sering masuk di sini, dari wakil bupati maupun bupati, tapi jalan ini tetap dibiarkan begitu saja, sehingga semakin hari rusaknya tambah parah,” ungkap Amat, warga Nawaripi saat ditemui Koranpapua.id, Jumat 10 Juli 2026.
Menurutnya Amat, setiap kali hujan turun, jalan di kawasan tersebut langsung berubah menjadi kubangan besar. Air bahkan baru surut setelah sekitar tiga hari.
“Ini sudah penuh lagi air. Kalau satu malam hujan saja langsung tergenang. Tiga hari baru air turun. Kalau hujan terus bisa banjir. Pemerintah kampung tidak pernah perhatian, begitu juga pemerintah Kabupaten Mimika,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi jalan di Kampung Nawaripi sudah lama rusak namun tidak pernah mendapat perbaikan.
“Jalan ini dari dulu rusak begini, tidak pernah diperbaiki. Padahal kampung ini dekat sekali dengan kota. Kalau yang dekat kota saja begini, bagaimana dengan kampung yang lebih jauh?” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Sarah, seorang pedagang yang setiap hari berjualan di sekitar lokasi.
Menurutnya, genangan air yang tidak pernah surut telah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk dan meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap penyakit malaria.
“Air terus tergenang di jalan dan di drainase. Sekarang musim hujan terus, nyamuk semakin banyak. Kami takut kena malaria,” keluh Sarah.
“Kami sudah sering mengeluh, tapi sampai sekarang tidak pernah diperhatikan, baik oleh pemerintah kampung maupun pemerintah kabupaten,” lanjut Sarah.
Sementara itu, mantan Kepala Kampung Nawaripi, Kristoforus Lokok, menilai kondisi infrastruktur di kampung tersebut sangat memprihatinkan, bahkan tidak mencerminkan kawasan yang berada dalam radius Kota Timika.
Ia menyoroti buruknya drainase, jalan lingkungan, hingga pengelolaan sampah yang menurutnya telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian.

“Jangan biarkan Nawaripi seperti daerah pedalaman. Padahal ini bagian dari Kota Timika. Drainase tidak berfungsi, jalan rusak, sampah menumpuk.”katanya.
Kristoforus juga mengaku pemerintah daerah sebenarnya sudah beberapa kali datang melihat kondisi tersebut. Namun menurutnya, kunjungan itu belum diikuti langkah konkret.
“Bupati dan wakil bupati sudah pernah datang melihat langsung. Tapi masyarakat belum melihat tindak lanjut yang nyata. Yang kami butuhkan bukan kunjungan, tetapi penyelesaian masalah” tegasnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Mimika tidak hanya memusatkan pembangunan di kawasan lain, sementara Nawaripi yang berada di wilayah perkotaan justru tertinggal.
Fakta Lapangan

Pantauan Koranpapua.id di Kampung Nawaripi pada Jumat 10 Juli 2026 membenarkan keluhan warga.
Di sejumlah titik terlihat drainase dipenuhi air berwarna kehitaman dan tidak mengalir.
Banyak saluran tersumbat sampah sehingga fungsi drainase praktis tidak berjalan.
Genangan air juga menutupi badan jalan, sementara kondisi jalan berlubang semakin menyulitkan pengendara maupun pejalan kaki.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas program penataan kawasan perkotaan yang selama ini digencarkan Pemerintah Kabupaten Mimika.
Apabila wilayah yang berada begitu dekat dengan pusat pemerintahan saja masih mengalami persoalan drainase, banjir, jalan rusak, dan sampah yang tak kunjung tertangani, maka muncul pertanyaan yang layak dijawab pemerintah ke mana arah prioritas pembangunan daerah selama ini?
Warga Nawaripi kini tidak lagi meminta janji atau kunjungan seremonial. Mereka hanya menginginkan satu hal bukti nyata bahwa pemerintah benar-benar hadir menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi setiap hari. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru








