ADVERTISEMENT
Minggu, Agustus 23, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Konflik Bersenjata di Papua: Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Layangkan Sepuluh Poin Pernyataan Sikap

“Semua peristiwa itu terus menjadi perhatian tetapi belum dituntaskan secara transparan, adil sampai tuntas hingga saat ini”.

7 Juli 2026
0
Konflik Bersenjata di Papua: Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Layangkan Sepuluh Poin Pernyataan Sikap

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Jember, Jawa Timur saat menggelar mimbar bebas menyikapi konflik bersenjata di Tanah Papua. (foto ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

JEMBER, Koranpapua.id- Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Jember, Jawa Timur menyampaikan sepuluh poin pernyataan sikap, terkait dengan konflik bersenjata yang terjadi di Tanah Papua.

Dalam rilis yang diterima Koranpapua.id, Selasa 7 Juli 2026, AMP Jember menulis, peristiwa Biak berdarah yang kini sudah mencapai 28 tahun, perlu menjadi momentum untuk mengingat kembali salah satu peristiwa pilu yang pernah terjadi di Tanah Papua.

ADVERTISEMENT

Peristiwa akibat kekerasan militer yang hingga kini masih menjadi perhatian berbagai kalangan itu, seharusnya menjadi point penting penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), penyelesaian konflik secara damai dan keterbukaan serta martabat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berbagai laporan dari lembaga nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Papua masih menghadapi tantangan yang kompleks. Mulai dari persoalan keamanan, konflik, kekerasaan dan operasi militer, hingga perlindungan HAM.

Baca Juga

60 Ribu Masker Disiapkan Antisipasi Melonjaknya Kasus ISPA di Papua Tengah

Rombongan Polisi Ditembaki di Tolikara, Satu Anggota Terkena Peluru

Kondisi tersebut terus menjadi perhatian masyarakat sipil, akademisi, dan berbagai organisasi kemanusiaan untuk mengakhiri rentetan persoalan di Papua.

Sebab, situasi keamanan di sejumlah wilayah Papua masih diwarnai konflik bersenjata antara aparat keamanan TNI/Polri dan TPNPB – OPM.

Sementara dampak dari konflik bersenjata dirasakan oleh masyarakat sipil, yang menghadapi keterbatasan dan hilangnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi.

Masih dari rilis tersebut, AMP Jember juga menulis bahwa berbagai pihak terus menyerukan agar perlindungan terhadap warga sipil menjadi prioritas, akan tetapi mengalami teror, intimidasi bahkan dibunuh juga ditangkap.

Konflik yang berlangsung juga telah menyebabkan sebagian warga mengungsi dari kampung halamannya. Data terbaru yang dirilis beberapa portal media di Papua menyebutkan sudah mencapai 122, 931 jiwa.

Organisasi kemanusiaan menilai bahwa para pengungsi membutuhkan akses terhadap bantuan, layanan kesehatan, pendidikan, serta jaminan keamanan namun negara dan lembaga yang berwenang telah mengabaikan nasib hidup mereka.

AMP Jember juga merilis sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua. Di antaranya, Biak Berdarah 1998, Wasior Berdarah 2001, Wamena Berdarah 2003, Uncen Berdarah 2006, Paniai Berdarah 2014 dan penembakan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani.

“Semua peristiwa itu terus menjadi perhatian tetapi belum dituntaskan secara transparan, adil sampai tuntas hingga saat ini,” demikian isi dari rilis tersebut.

Selain itu, kebijakan pemerintah di Papua terus dirancang, disahkan dan dijalankan dengan kepentingan penguasah untuk eksploitasi Sumber Daya Alam SDA sambil mengabaikan partisipasi publik dan kepentingan rakyat.

Sebagian pihak menganggap kebijakan tersebut merupakan bagian dari pembangunan nasional, sementara pihak lain mengkritiknya karena dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan politik, sosial, dan hak-hak masyarakat Papua.

Seperti yang kita lihat dalam film dokumenter Pesta Babi menjadi salah satu karya yang mengangkat pengalaman masyarakat Papua melalui sudut pandang budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari.

Film tersebut menceritakan mengenai identitas, relasi negara dengan negara masyarakat Papua, serta pentingnya ruang dialog yang terbuka.

Namun pada kenyataan negara mempraktekan perampasan tanah adat, pembabatan hutan, penghilangan pangan lokal, semua dilakukan demi proyek yang bernama PSN.

Semua problem yang terjadi diatas tanah West Papua, tak terlepas dari sejarah politik Papua yang merupakan problem kompleks dan memiliki beragam perspektif.

Termasuk proses integrasi Papua ke Indonesia (ANEKSASI) melalui pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.

Pencaplokan Papua dengan kekuatan militer lewat TRIKORA pada 19 Desember 1961 dan dinamika politik setelahnya.

“Maka pada momen 28 tahun Peristiwa Biak Berdarah negara juga kementerriaan HAM RI harus refleksi untuk menghormati para korban, memperkuat komitmen terhadap hak asasi manusia, serta mendorong penyelesaian berbagai persoalan melalui dialog, keadilan, dan pendekatan damai sampai semua kasus diusut tuntas”.

Untuk menyikapi persoalan secara menyeluruh, kami Aliansi Mahasiswa Papua Jember menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Usut Tuntaskan dan adili para pelaku serta para jenderan dalam kasus pelanggaran HAM di Biak, West Papua dan Indonesia.
  2. Tarik militer organik dan non organik dari seluruhTanah Papua.
  3. Menutup dan menghentikan aktifitas eksploitasi semua perusahaan nasional dan Multi National Coorporation (MNC) di Seluruh Tanah Papua.
  4. Hentikan Proyek Strategi Nasional di Merauke, Boven Digul, Sorong dan seluruh Tanah Papua.
  5. Stop kriminalisasi terhadap aktivis kemanusiaan sperti Dandy Laksono, Cypri Jehan Paju Dale, Johnny Teddy Wakum, dan kawan kawan yang terlibat dalam Film Pesta Babi karena mengungkapkan kebenaran yang terjadi di Papua.
  1. Buka akses bagi jurnalis internasional yang independen ke Papua.
  2. Bebaskan seluruh tahanan politik Papua, Indonesia dan Internasional.
  3. TNI/Porli stop tangkap dan tembak masyarakat sipil di daerah konflik seperti di Puncak Jaya, Intan Jaya, Ndugama, Timika, Yahukimo, Pegunugan Bintang, Maibrat, Dogiyai, dan seluruh tanah papua tanpa ada bukti yang jelas.
  4. Mendukung penuh kemerdekaan Palestina, West Sahara, Kanaky dan Catalonia.
  5. Berikan hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa West Papua sebagai solusi demokratis. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Satgas Pasgat Evakuasi Ibu Hamil 33 Minggu dari Sinak Menuju RSUD Mimika 

Satgas Pasgat Evakuasi Ibu Hamil 33 Minggu dari Sinak Menuju RSUD Mimika 

22 Agustus 2026
Peringati Empat Tahun Kasus Mutilasi di Mimika, Keluarga Minta Hukuman Pelaku Tak Dikurangi

Peringati Empat Tahun Kasus Mutilasi di Mimika, Keluarga Minta Hukuman Pelaku Tak Dikurangi

22 Agustus 2026
Pasutri asal China Dideportasi dari Indonesia, Diduga Lakukan Pemburuan Hewan Dilindungi di Papua 

Pasutri asal China Dideportasi dari Indonesia, Diduga Lakukan Pemburuan Hewan Dilindungi di Papua 

22 Agustus 2026
60 Ribu Masker Disiapkan Antisipasi Melonjaknya Kasus ISPA di Papua Tengah

60 Ribu Masker Disiapkan Antisipasi Melonjaknya Kasus ISPA di Papua Tengah

22 Agustus 2026
Kabupaten di Papua Tengah Wajib Usulkan 10 Program Prioritas untuk Program 2027

Tangani Kebakaran Hutan dan Lahan: Pemprov Kerahkan Armada Gabungan, Kabut Asap Terlihat Nyata di Nabire

22 Agustus 2026
23 Bandara Tersebar di Papua Tengah: Terbanyak di Indonesia, Mozes Kilangin yang Terbesar

23 Bandara Tersebar di Papua Tengah: Terbanyak di Indonesia, Mozes Kilangin yang Terbesar

22 Agustus 2026

POPULER

  • Rencana Kacaukan Upacara HUT ke-81 RI, Tiga Anggota OPM Tewas Diterjang Peluru TNI, Amankan Delapan Senjata Api 

    Rencana Kacaukan Upacara HUT ke-81 RI, Tiga Anggota OPM Tewas Diterjang Peluru TNI, Amankan Delapan Senjata Api 

    725 shares
    Bagikan 290 Tweet 181
  • Kontak Tembak di Jila-Mimika, Satu Prajurit TNI Gugur, Dua Terluka

    612 shares
    Bagikan 245 Tweet 153
  • Sembilan Perempuan di Jila Mimika Dikabarkan Disandera, Seorang Ibu Dilaporkan Tewas

    608 shares
    Bagikan 243 Tweet 152
  • Kontraktor OAP Palang Kantor BPBJ Mimika, Desak Bupati Turun Tangan

    588 shares
    Bagikan 235 Tweet 147
  • Kontraktor OAP Palang UPBJ, Bupati Mimika: “Kalau Sudah Dipercaya, Jangan Jual Proyek”

    559 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • Pelarian Berakhir, Terduga Pelaku Pembunuhan di KM 10 Mimika Ditangkap Polisi di Makassar

    556 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • Dugaan Penyanderaan 9 Perempuan di Jila, Polres Mimika Minta Bantuan Brimob

    542 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
Next Post
Pengurus DPC PWKI Mimika Resmi Dilantik, Siap Perkuat Peran Perempuan Kristen dalam Pembangunan Daerah

Pengurus DPC PWKI Mimika Resmi Dilantik, Siap Perkuat Peran Perempuan Kristen dalam Pembangunan Daerah

Penembakan Perempuan Hamil di Intan Jaya Harus Diusut Tuntas, Komnas Perempuan: Ini Tragedi Kemanusiaan

Penembakan Perempuan Hamil di Intan Jaya Harus Diusut Tuntas, Komnas Perempuan: Ini Tragedi Kemanusiaan

Gaji ke-13 ASN Belum Dibayar: Ombudsman Papua Barat Pertanyakan Anggarannya ke Mana?

Gaji ke-13 ASN Belum Dibayar: Ombudsman Papua Barat Pertanyakan Anggarannya ke Mana?

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id