ADVERTISEMENT
Selasa, Juli 14, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Konflik Bersenjata di Papua: Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Layangkan Sepuluh Poin Pernyataan Sikap

“Semua peristiwa itu terus menjadi perhatian tetapi belum dituntaskan secara transparan, adil sampai tuntas hingga saat ini”.

7 Juli 2026
0
Konflik Bersenjata di Papua: Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Layangkan Sepuluh Poin Pernyataan Sikap

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Jember, Jawa Timur saat menggelar mimbar bebas menyikapi konflik bersenjata di Tanah Papua. (foto ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

JEMBER, Koranpapua.id- Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Jember, Jawa Timur menyampaikan sepuluh poin pernyataan sikap, terkait dengan konflik bersenjata yang terjadi di Tanah Papua.

Dalam rilis yang diterima Koranpapua.id, Selasa 7 Juli 2026, AMP Jember menulis, peristiwa Biak berdarah yang kini sudah mencapai 28 tahun, perlu menjadi momentum untuk mengingat kembali salah satu peristiwa pilu yang pernah terjadi di Tanah Papua.

ADVERTISEMENT

Peristiwa akibat kekerasan militer yang hingga kini masih menjadi perhatian berbagai kalangan itu, seharusnya menjadi point penting penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), penyelesaian konflik secara damai dan keterbukaan serta martabat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berbagai laporan dari lembaga nasional maupun internasional menunjukkan bahwa Papua masih menghadapi tantangan yang kompleks. Mulai dari persoalan keamanan, konflik, kekerasaan dan operasi militer, hingga perlindungan HAM.

Baca Juga

Empat Kali Gelar Turnamen Mini Soccer di Timika, Kapolda Papua Tengah: Talenta Alam Anak-Anak Papua Harus Didukung

Dampak Konflik Senjata di Papua: Pengungsi Harus Ditangani Secara Serius sebagai Bagian Perlindungan Warga Sipil

Kondisi tersebut terus menjadi perhatian masyarakat sipil, akademisi, dan berbagai organisasi kemanusiaan untuk mengakhiri rentetan persoalan di Papua.

Sebab, situasi keamanan di sejumlah wilayah Papua masih diwarnai konflik bersenjata antara aparat keamanan TNI/Polri dan TPNPB – OPM.

Sementara dampak dari konflik bersenjata dirasakan oleh masyarakat sipil, yang menghadapi keterbatasan dan hilangnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi.

Masih dari rilis tersebut, AMP Jember juga menulis bahwa berbagai pihak terus menyerukan agar perlindungan terhadap warga sipil menjadi prioritas, akan tetapi mengalami teror, intimidasi bahkan dibunuh juga ditangkap.

Konflik yang berlangsung juga telah menyebabkan sebagian warga mengungsi dari kampung halamannya. Data terbaru yang dirilis beberapa portal media di Papua menyebutkan sudah mencapai 122, 931 jiwa.

Organisasi kemanusiaan menilai bahwa para pengungsi membutuhkan akses terhadap bantuan, layanan kesehatan, pendidikan, serta jaminan keamanan namun negara dan lembaga yang berwenang telah mengabaikan nasib hidup mereka.

AMP Jember juga merilis sejumlah pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua. Di antaranya, Biak Berdarah 1998, Wasior Berdarah 2001, Wamena Berdarah 2003, Uncen Berdarah 2006, Paniai Berdarah 2014 dan penembakan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani.

“Semua peristiwa itu terus menjadi perhatian tetapi belum dituntaskan secara transparan, adil sampai tuntas hingga saat ini,” demikian isi dari rilis tersebut.

Selain itu, kebijakan pemerintah di Papua terus dirancang, disahkan dan dijalankan dengan kepentingan penguasah untuk eksploitasi Sumber Daya Alam SDA sambil mengabaikan partisipasi publik dan kepentingan rakyat.

Sebagian pihak menganggap kebijakan tersebut merupakan bagian dari pembangunan nasional, sementara pihak lain mengkritiknya karena dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan politik, sosial, dan hak-hak masyarakat Papua.

Seperti yang kita lihat dalam film dokumenter Pesta Babi menjadi salah satu karya yang mengangkat pengalaman masyarakat Papua melalui sudut pandang budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari.

Film tersebut menceritakan mengenai identitas, relasi negara dengan negara masyarakat Papua, serta pentingnya ruang dialog yang terbuka.

Namun pada kenyataan negara mempraktekan perampasan tanah adat, pembabatan hutan, penghilangan pangan lokal, semua dilakukan demi proyek yang bernama PSN.

Semua problem yang terjadi diatas tanah West Papua, tak terlepas dari sejarah politik Papua yang merupakan problem kompleks dan memiliki beragam perspektif.

Termasuk proses integrasi Papua ke Indonesia (ANEKSASI) melalui pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.

Pencaplokan Papua dengan kekuatan militer lewat TRIKORA pada 19 Desember 1961 dan dinamika politik setelahnya.

“Maka pada momen 28 tahun Peristiwa Biak Berdarah negara juga kementerriaan HAM RI harus refleksi untuk menghormati para korban, memperkuat komitmen terhadap hak asasi manusia, serta mendorong penyelesaian berbagai persoalan melalui dialog, keadilan, dan pendekatan damai sampai semua kasus diusut tuntas”.

Untuk menyikapi persoalan secara menyeluruh, kami Aliansi Mahasiswa Papua Jember menyatakan sikap sebagai berikut:

  1. Usut Tuntaskan dan adili para pelaku serta para jenderan dalam kasus pelanggaran HAM di Biak, West Papua dan Indonesia.
  2. Tarik militer organik dan non organik dari seluruhTanah Papua.
  3. Menutup dan menghentikan aktifitas eksploitasi semua perusahaan nasional dan Multi National Coorporation (MNC) di Seluruh Tanah Papua.
  4. Hentikan Proyek Strategi Nasional di Merauke, Boven Digul, Sorong dan seluruh Tanah Papua.
  5. Stop kriminalisasi terhadap aktivis kemanusiaan sperti Dandy Laksono, Cypri Jehan Paju Dale, Johnny Teddy Wakum, dan kawan kawan yang terlibat dalam Film Pesta Babi karena mengungkapkan kebenaran yang terjadi di Papua.
  1. Buka akses bagi jurnalis internasional yang independen ke Papua.
  2. Bebaskan seluruh tahanan politik Papua, Indonesia dan Internasional.
  3. TNI/Porli stop tangkap dan tembak masyarakat sipil di daerah konflik seperti di Puncak Jaya, Intan Jaya, Ndugama, Timika, Yahukimo, Pegunugan Bintang, Maibrat, Dogiyai, dan seluruh tanah papua tanpa ada bukti yang jelas.
  4. Mendukung penuh kemerdekaan Palestina, West Sahara, Kanaky dan Catalonia.
  5. Berikan hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa West Papua sebagai solusi demokratis. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Serapan APBD Mimika Naik 26 Persen, Pemkab Evaluasi Proyek Fisik yang Tertinggal

Dinkes Mimika Klaim 50.171 Anak Ikut POPM Kecacingan, Capaian Masih Tertahan di 81 Persen, Apa Kendalanya?

13 Juli 2026
Serapan APBD Mimika Naik 26 Persen, Pemkab Evaluasi Proyek Fisik yang Tertinggal

Serapan APBD Mimika Naik 26 Persen, Pemkab Evaluasi Proyek Fisik yang Tertinggal

13 Juli 2026
Pemkab Mimika Siapkan Pembangunan 353 Rumah Layak Huni, Fisik Dimulai Usai Perencanaan Rampung

Pemkab Mimika Siapkan Pembangunan 353 Rumah Layak Huni, Fisik Dimulai Usai Perencanaan Rampung

13 Juli 2026
Dinkes Mimika Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Kejar Target 95 Persen POPM Kecacingan untuk Cegah Stunting

Dinkes Mimika Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Kejar Target 95 Persen POPM Kecacingan untuk Cegah Stunting

13 Juli 2026
Sertijab Tiga Pejabat Pemkab Mimika, Emanuel Kemong Ingatkan Dorong Penguatan Kinerja dan Inovasi

Sertijab Tiga Pejabat Pemkab Mimika, Emanuel Kemong Ingatkan Dorong Penguatan Kinerja dan Inovasi

13 Juli 2026
Percepat Eliminasi Kusta dan Penyakit Prioritas, Kadinkes Papua Selatan Siapkan Komitmen Lintas Sektor

Percepat Eliminasi Kusta dan Penyakit Prioritas, Kadinkes Papua Selatan Siapkan Komitmen Lintas Sektor

13 Juli 2026

POPULER

  • Hasil Seleksi Beasiswa YPMAK Segera Diumumkan, Hanya 15 Peserta yang Lolos ke UPN Veteran Yogyakarta

    Hasil Seleksi Beasiswa YPMAK Segera Diumumkan, Hanya 15 Peserta yang Lolos ke UPN Veteran Yogyakarta

    601 shares
    Bagikan 240 Tweet 150
  • Amerika Bereaksi Usai Warga Negaranya Tewas Ditembak Kelompok Bersenjata di Yahukimo

    686 shares
    Bagikan 274 Tweet 172
  • Bupati Johannes Rettob Lantik Dwi Cholifah sebagai Kepala Inspektorat, Tunjuk Sejumlah Plt

    548 shares
    Bagikan 219 Tweet 137
  • Penembakan Perempuan Hamil di Intan Jaya Harus Diusut Tuntas, Komnas Perempuan: Ini Tragedi Kemanusiaan

    545 shares
    Bagikan 218 Tweet 136
  • Rp10 Miliar untuk Gedung Kosong! Perpustakaan Mimika Tak Kunjung Difungsikan

    525 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • Markas Kodal Drone TNI untuk Perkuat Operasi di Papua Berdudukan di Timika

    519 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
  • RDP DPRK Mimika Ungkap Persoalan Pelayanan RSUD, Direktur Beberkan Solusi Atasi Kepadatan Pasien

    518 shares
    Bagikan 207 Tweet 130
Next Post
Pengurus DPC PWKI Mimika Resmi Dilantik, Siap Perkuat Peran Perempuan Kristen dalam Pembangunan Daerah

Pengurus DPC PWKI Mimika Resmi Dilantik, Siap Perkuat Peran Perempuan Kristen dalam Pembangunan Daerah

Penembakan Perempuan Hamil di Intan Jaya Harus Diusut Tuntas, Komnas Perempuan: Ini Tragedi Kemanusiaan

Penembakan Perempuan Hamil di Intan Jaya Harus Diusut Tuntas, Komnas Perempuan: Ini Tragedi Kemanusiaan

Gaji ke-13 ASN Belum Dibayar: Ombudsman Papua Barat Pertanyakan Anggarannya ke Mana?

Gaji ke-13 ASN Belum Dibayar: Ombudsman Papua Barat Pertanyakan Anggarannya ke Mana?

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id