JAKARTA, Koranpapua.id– Pagu anggaran sebesar Rp3,2 triliun akan digeser untuk mendanai pengembangan perkebunan ubi jalar di wilayah tanah Papua, secara khusus Provinsi Papua Tengah.
Anggaran tersebut sebelumnya dialokasikan khusus untuk pengembangan pertanian modern, termasuk pengadaan traktor, perbaikan jaringan irigasi, serta penyediaan bibit komoditas unggulan di Papua.
“Kami geser beberapa anggaran itu perintah Bapak Presiden, ini Rp5,2 triliun selama dua tahun. Untuk tahun ini Rp3,2 triliun kami geser untuk masyarakat,” katanya seperti dikutip, Sabtu 4 Juni 2026.
Setelah program tersebut berjalan, pihaknya akan melakukan evaluasi setiap tiga bulan sekali untuk meninjau efektivitas pengembangan kebun ubi jalar di Papua Tengah.
Jika tidak berjalan dengan baik, Amran mengancam akan memindahkan program pengembangan perkebunan ke kabupaten lainnya di Papua.
“Contoh nih, kabupaten apa di Papua Pegunungan? Tolikara, terus dari Papua Barat, Fakfak. Begitu Fakfak, itu aku kasih pala sesuai permintaannya,” jelas Amran.
Dan jika dalam evaluasi, Kabupaten Fakfak ternyata tidak bisa melakuan pengembangan perkebunan, maka program tersebut dipindahkan ke wilayah lain di Papua.
“Tiga bulan kami datang, kami kumpulkan nanti bupati dengan gubernur. Tidak tanam, ini saya pindahkan. Contoh ya, tidak tanam, tidak mampu selesaikan anggarannya, pindahkan ke kabupaten Tolikara,” jelasnya.
Agar efektivitas program berjalan dengan baik, Amran meminta mahasiswa-mahasiswa di Papua untuk mengawasi jalannya pengembangan perkebunan tanaman pangan di Timur Indonesia tersebut.
Dengan merangkul mahasiswa pula, ia berharap anggaran yang sudah dialokasikan dapat terserap seluruhnya untuk menjalankan program Presiden Prabowo Subianto.
“Tolong adik-adik yang saya cintai, saya banggakan, minimal membantu pengawasan di lapangan. Melihat. Kalau ada yang menyimpang dan seterusnya, atau terlambat, langsung lapor,” tegas Amran. (Redaksi)









