TIMIKA, Koranpapua.id– Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) memulai pembangunan Rumah Sagu UMKM di Mapurujaya, Kelurahan Wania, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Kamis 11 Juni 2026.
Pembangunan fasilitas pengolahan sagu binaan YPMAK sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI) itu, ditandai dengan peletakan batu pertama yang diawali dengan doa pemberkatan oleh Pastor Paroki Imanuel Mapurujaya, Agustinus Yerwuan.
Rumah Sagu tersebut akan dikelola oleh kelompok usaha yang dipimpin Kanisius Maupiauta bersama 12 anggota kelompok, dan diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal masyarakat Kamoro di wilayah Mapurujaya dan sekitarnya.

Mewakili Direktur YPMAK, Deputi Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Billy Enerson Korwa mengatakan pembangunan Rumah Sagu merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Ia menegaskan, Rumah Sagu tidak hanya menjadi fasilitas produksi, tetapi juga pengingat pentingnya menghargai pangan lokal sebagai identitas masyarakat Papua.
“Kita harus kembali ke cerita asal dari mana kita ada. Hari ini menjadi pengingat bagi kami semua untuk menghargai apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita melalui sesuatu yang ada di sekitar kita,” ujarnya.
Billy berharap fasilitas tersebut dapat memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Kapasitas alatnya cukup besar. Kita berharap jumlah tepung sagu yang dihasilkan juga menjadi lebih banyak. Kami ingin melihat tahun depan ada perubahan di keluarga. Mungkin rumah yang papannya sudah rusak bisa berubah karena ada pendapatan yang didapatkan,” katanya.
Kepala Divisi Program Ekonomi dan Sosial YPMAK, Oktavianus Jangkup, menjelaskan bahwa Rumah Sagu merupakan salah satu program pemberdayaan ekonomi masyarakat Amungme dan Kamoro.
“Hari ini kita melaksanakan seremoni peletakan batu pertama untuk membantu dan mendorong masyarakat Amungme dan Kamoro mengelola sagu, khususnya masyarakat Kamoro yang ada di sekitar Kota Timika, lebih khusus lagi di Mapurujaya,” kata Oktavianus.
Menurut dia, sagu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi.
“Sagu itu bukan hanya untuk membuat papeda. Dengan mesin yang kami adakan, banyak hasil yang bisa dibuat dari sagu. Kita tidak hanya mengandalkan kue-kue yang biasa, tetapi bisa menciptakan banyak makanan melalui sagu,” ujarnya.
YPMAK menargetkan pembangunan Rumah Sagu dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan karena seluruh material telah tersedia.
“Semua material sudah siap. Hari ini sudah mulai dan para pekerja akan membangun melalui vendor CV Amungsa. Kami berharap dalam satu bulan bangunan selesai,” katanya.
Jika berkembang, YPMAK berencana memperluas pembangunan fasilitas serupa ke wilayah lain yang memiliki potensi sagu.
“Kalau memang berkembang, kita bisa bangun di daerah lain seperti Kokonao atau tempat-tempat yang banyak sagu. Kita akan lihat hasilnya terlebih dahulu,” ujarnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










