NABIRE, Koranpapua.id- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah masih menghadapi persoalan serius terkait pemerataan dan ketersediaan tenaga kesehatan (Nakes).
Untuk memenuhi kebutuhan standar pelayanan, diperkirakan masih membutuhkan sekitar 440 Nakes. Pasalnya, dari 148 Puskesmas yang berada di wilayah Papua Tengah, baru 12 persen yang memiliki sembilan jenis Nakes lengkap.
Kondisi yang disebutkan di atas disampaikan oleh dr. Agus, Kadinkes P2KB Papua Tengah pada kegiatan koordinasi penyiapan data Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) dan data perencanaan kebutuhan SDMK tingkat Provinsi Papua Tengah, Rabu 20 Mei 2026.
Pada kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Nabire itu, Agus menjabarkan, kekurangan Nakes paling banyak terjadi pada tenaga sanitasi lingkungan, tenaga gizi, analis laboratorium medis, farmasi, promosi kesehatan, hingga dokter spesialis.
Agus juga menyampaikan, infrastruktur kesehatan di Papua Tengah juga masih menjadi salah satu kendala. Karena itu pihaknya mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk membangun rumah sakit provinsi.
Namun menurutnya, fasilitas kesehatan yang modern tidak akan maksimal tanpa dukungan tenaga kesehatan yang memadai.
“Secanggih apa pun alat kesehatan dan gedung rumah sakit yang dibangun, semua itu akan menjadi benda mati tanpa SDM kesehatan yang kompeten untuk mengoperasikannya,” ujarnya.
Dinkes Papua Tengah juga sedang menyiapkan program “Ko Haru Sehat” yang menjadi bagian dari prioritas pembangunan kesehatan daerah.
Program tersebut difokuskan pada penguatan layanan promotif dan preventif, integrasi layanan primer, serta pembiayaan kesehatan komplementer bagi masyarakat.
Untuk diketahui, kegiatan tersebut dihadiri Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Papua Tengah Victor Fun mewakili Gubernur Papua Tengah, perwakilan Kementerian Kesehatan RI, serta ratusan peserta dari puskesmas se-Papua Tengah. (Redaksi)








