NABIRE, Koranpapua.id- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Indonesia–Komite Papua (SMI-KP) Se-Indonesia di Kota Studi Nabire, menggelar mimbar bebas (unjuk rasa), Senin 18 Mei 2026.
Dalam aksi yang dipusatkan di Pasar Karang Nabire sejak pukul 08.00 WIT, mereka menyampaikan penolakan terhadap rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di wilayah Kabupaten Paniai dan sekitarnya.
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti dampak pemekaran DOB seperti Kabupaten Delema Jaya, Paniai Barat, dan Wedauma yang dinilai dapat mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat Papua.
Terutama yang berkaitan dengan ruang hidup, ekologi, ekonomi lokal, serta identitas budaya masyarakat setempat.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan empat poin utama penolakan.
Satu: Ekspansi investasi yang dianggap menggusur hak ulayat masyarakat adat.
Dua: Arus transmigrasi yang dinilai mengancam budaya lokal
Tiga: Militerisasi yang mempersempit ruang hidup rakyat sipil
Empat: Perusakan alam yang berdampak pada hutan, sungai, dan sumber air bersih masyarakat.
Dalam aksi yang dikoordinatori oleh Arnold Pigai selaku Kordinator Lapangan (Korlap) bersama Kela Agapa, Wakil Koorlap, menyampaikan bahwa tanah adat merupakan warisan leluhur yang harus dijaga bersama demi masa depan masyarakat Paniai.
Sempat Memanas, Dikawal Aparat Keamanan
Sebelum aksi berlangsung, aparat gabungan dari Polres Nabire, TNI, Brimob, dan Satpol PP telah disiagakan di sekitar lokasi aksi untuk melakukan pengamanan.
Berdasarkan informasi, aparat keamanan mulai tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 WIT dengan sejumlah kendaraan pengamanan, termasuk truk Dalmas dan kendaraan intelijen.
Situasi mulai memanas pada pukul 09.43 WIT ketika dua unit mobil yang disebut membawa massa dari kelompok pendukung DOB dan sejumlah tokoh masyarakat tiba di lokasi aksi.
Aksi tersebut sempat dibubarkan paksa, termasuk perusakan spanduk, pamflet, dan atribut demonstrasi.
Massa aksi kemudian dipulangkan kembali ke Sekretariat Honai Yamewa Paniai di Kawasan Kalibobo sekitar pukul 09.59 WIT.
Sebelumnya, pada Minggu malam, 17 Mei 2026, sejumlah insiden dugaan intimidasi dan teror juga disebut dialami mahasiswa menjelang aksi berlangsung.
Termasuk kedatangan orang tak dikenal di asrama mahasiswa untuk beraudiensi antara mahasiswa dengan sejumlah organisasi kepemudaan terkait rencana aksi penolakan DOB tersebut.
Di sisi lain, tokoh adat dan masyarakat Suku Moni diketahui menyatakan dukungan terhadap pembentukan DOB Moni sebagai bagian dari aspirasi masyarakat di wilayah Timur Paniai.
Perbedaan pandangan inilah yang disebut memicu ketegangan menjelang aksi mimbar bebas di Nabire. (Redaksi)







