Oleh: dr. Tjatur Prijambodo,M.Kes
Mahasiswa Doktoral Pasca Sarjana Unair
NONTON BARENG (NoBar) film Pesta Babi di Universitas Mataram (Unram), yang di-inisiasi sejumlah organisasi mahasiswa dibubarkan oleh pihak kampus pada 7 Mei 2026. Kenapa harus dibubarkan?
Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan satu pertanyaan yang menampar logika pembangunan modern: bagaimana mungkin negara berbicara tentang kesejahteraan sambil menghancurkan ruang hidup masyarakatnya sendiri?
Film ini tidak hanya bercerita tentang Papua, tetapi juga tentang kontradiksi besar abad ke-21, ketika hutan ditebang atas nama kemajuan, sementara manusia perlahan kehilangan akar ekologis dan kemanusiaannya.
Papua, selama ini dikenal sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia. Namun, data terbaru menunjukkan ancaman yang semakin serius.
Menurut Global Forest Watch, sejak 2001 hingga 2025 Papua telah kehilangan ratusan ribu hektare tutupan hutan, dan sekitar 92% kehilangan tersebut terjadi di hutan alam primer.
Bahkan laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 menunjukkan Papua mengalami lonjakan deforestasi (hilangnya hutan secara permanen) paling drastis di Indonesia: dari sekitar 17 ribu hektare pada 2024 menjadi lebih dari 77 ribu hektare pada 2025.
Ironisnya, sebagian besar pengalih-fungsian hutan itu dilakukan demi proyek pangan, perkebunan, industri ekstraktif, dan pembangunan infrastruktur.
Negara menyebutnya ‘strategi ketahanan nasional’, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai penghilangan identitas.
Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan ruang spiritual, sumber pangan, sekolah budaya, dan penghubung dengan leluhur.
Di sinilah paradoks Pesta Babi terasa sangat kuat. Modernitas datang membawa jalan raya, investasi, dan mesin industry.
Tetapi pada saat yang sama, menciptakan keterasingan ekologis. Hutan dipandang hanya sebagai angka produksi, bukan lagi sebagai organisme hidup.
Kritik semacam ini pernah disampaikan filsuf Jerman, Martin Heidegger.
Dimana Heidegger menyebut manusia modern terjebak dalam enframing, cara berpikir yang melihat alam hanya sebagai ‘cadangan sumber daya’ untuk dieksploitasi. Akibatnya, manusia kehilangan relasi sakral dengan alam.
Yang menarik, masyarakat adat Papua justru menawarkan konsep keberlanjutan yang lebih futuristik dibanding sistem industri modern.
Mereka hidup dengan prinsip keseimbangan: mengambil seperlunya dan menjaga keberlangsungan generasi berikutnya.
Di tengah krisis iklim global, pola hidup yang dahulu dianggap ‘terbelakang’, kini justru menjadi model ekologis yang relevan.
Generasi muda hari ini sering berbicara tentang green lifestyle, energi terbarukan, dan keberlanjutan di media sosial.
Namun Pesta Babi mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal kampanye digital, melainkan tentang keberanian mempertanyakan model pembangunan itu sendiri.
Sebab, percuma berbicara tentang ‘masa depan hijau’ jika hutan adat terus dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Pada akhirnya, Pesta Babi bukan hanya film documenter, tetapi menjadi alarm moral. Sebuah pengingat bahwa ketika manusia memutus hubungan dengan hutan, sesungguhnya ia sedang memutus hubungan dengan dirinya sendiri.
Bisakah Paradoks antara pembangunan dan eksploitasi hutan, dihentikan?
Bisakah pembungkaman ruang diskusi seperti dalam kasus pembubaran Nobar Film Pesta Babi diakhiri? Jawabnya, bisa. Dengan apa? Membangun model ‘pembangunan dialogis’.
Pembangunan tidak hanya berbasis investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melibatkan masyarakat adat, akademisi, aktivis lingkungan, dan warga lokal dalam proses pengambilan keputusan.
Kampus seharusnya menjadi ruang diskusi terbuka, bukan ruang yang alergi terhadap kritik. Film, diskusi, dan forum ilmiah justru dapat menjadi media literasi sosial yang sehat.
Filsuf Hans Jonas pernah mengingatkan melalui principle of responsibility bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan harus disertai tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang.
Dengan kata lain, pembangunan yang benar bukan hanya yang menghasilkan keuntungan hari ini, tetapi juga menjaga kehidupan esok hari. (Redaksi)







