ADVERTISEMENT
Senin, Agustus 17, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Agama

Pesta Babi, Papua, dan Paradoks Pembangunan Modern

Pesta Babi mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal kampanye digital, melainkan tentang keberanian mempertanyakan model pembangunan itu sendiri.

10 Mei 2026
0
Pesta Babi, Papua, dan Paradoks Pembangunan Modern

Nonton bareng film Pesta Babi di Universitas Mataram (Unram), yang di-inisiasi sejumlah organisasi mahasiswa dibubarkan oleh pihak kampus pada 7 Mei 2026 (Foto: Ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Oleh: dr. Tjatur Prijambodo,M.Kes

Mahasiswa Doktoral Pasca Sarjana Unair

ADVERTISEMENT

NONTON BARENG (NoBar) film Pesta Babi di Universitas Mataram (Unram), yang di-inisiasi sejumlah organisasi mahasiswa dibubarkan oleh pihak kampus pada 7 Mei 2026. Kenapa harus dibubarkan?

Advertisement. Scroll to continue reading.

Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan satu pertanyaan yang menampar logika pembangunan modern: bagaimana mungkin negara berbicara tentang kesejahteraan sambil menghancurkan ruang hidup masyarakatnya sendiri?

Baca Juga

KNPB Kepung DPRK Mimika, Tuntut Papua Jadi Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan, Aspirasi Akhirnya Diterima

Gadis Asal Mimika Hilang di Yogyakarta, Marlin Brigita Kasimat Belum Ditemukan

Film ini tidak hanya bercerita tentang Papua, tetapi juga tentang kontradiksi besar abad ke-21, ketika hutan ditebang atas nama kemajuan, sementara manusia perlahan kehilangan akar ekologis dan kemanusiaannya.

Papua, selama ini dikenal sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia. Namun, data terbaru menunjukkan ancaman yang semakin serius.

Menurut Global Forest Watch, sejak 2001 hingga 2025 Papua telah kehilangan ratusan ribu hektare tutupan hutan, dan sekitar 92% kehilangan tersebut terjadi di hutan alam primer.

Bahkan laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 menunjukkan Papua mengalami lonjakan deforestasi (hilangnya hutan secara permanen) paling drastis di Indonesia: dari sekitar 17 ribu hektare pada 2024 menjadi lebih dari 77 ribu hektare pada 2025.

Ironisnya, sebagian besar pengalih-fungsian hutan itu dilakukan demi proyek pangan, perkebunan, industri ekstraktif, dan pembangunan infrastruktur.

Negara menyebutnya ‘strategi ketahanan nasional’, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai penghilangan identitas.

Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan ruang spiritual, sumber pangan, sekolah budaya, dan penghubung dengan leluhur.

Di sinilah paradoks Pesta Babi terasa sangat kuat. Modernitas datang membawa jalan raya, investasi, dan mesin industry.

Tetapi pada saat yang sama, menciptakan keterasingan ekologis. Hutan dipandang hanya sebagai angka produksi, bukan lagi sebagai organisme hidup.

Kritik semacam ini pernah disampaikan filsuf Jerman, Martin Heidegger.

Dimana Heidegger menyebut manusia modern terjebak dalam enframing, cara berpikir yang melihat alam hanya sebagai ‘cadangan sumber daya’ untuk dieksploitasi. Akibatnya, manusia kehilangan relasi sakral dengan alam.

Yang menarik, masyarakat adat Papua justru menawarkan konsep keberlanjutan yang lebih futuristik dibanding sistem industri modern.

Mereka hidup dengan prinsip keseimbangan: mengambil seperlunya dan menjaga keberlangsungan generasi berikutnya.

Di tengah krisis iklim global, pola hidup yang dahulu dianggap ‘terbelakang’, kini justru menjadi model ekologis yang relevan.

Generasi muda hari ini sering berbicara tentang green lifestyle, energi terbarukan, dan keberlanjutan di media sosial.

Namun Pesta Babi mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal kampanye digital, melainkan tentang keberanian mempertanyakan model pembangunan itu sendiri.

Sebab, percuma berbicara tentang ‘masa depan hijau’ jika hutan adat terus dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Pada akhirnya, Pesta Babi bukan hanya film documenter, tetapi menjadi alarm moral. Sebuah pengingat bahwa ketika manusia memutus hubungan dengan hutan, sesungguhnya ia sedang memutus hubungan dengan dirinya sendiri.

Bisakah Paradoks antara pembangunan dan eksploitasi hutan, dihentikan?

Bisakah pembungkaman ruang diskusi seperti dalam kasus pembubaran Nobar Film Pesta Babi diakhiri? Jawabnya, bisa. Dengan apa? Membangun model ‘pembangunan dialogis’.

Pembangunan tidak hanya berbasis investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melibatkan masyarakat adat, akademisi, aktivis lingkungan, dan warga lokal dalam proses pengambilan keputusan.

Kampus seharusnya menjadi ruang diskusi terbuka, bukan ruang yang alergi terhadap kritik. Film, diskusi, dan forum ilmiah justru dapat menjadi media literasi sosial yang sehat.

Filsuf Hans Jonas pernah mengingatkan melalui principle of responsibility bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan harus disertai tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang.

Dengan kata lain, pembangunan yang benar bukan hanya yang menghasilkan keuntungan hari ini, tetapi juga menjaga kehidupan esok hari. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

54 Paskibra Mimika Dikukuhkan, Johannes Rettob: Kehormatan Ini Harus Jadi Kekuatan

54 Paskibra Mimika Dikukuhkan, Johannes Rettob: Kehormatan Ini Harus Jadi Kekuatan

16 Agustus 2026
72 Anggota Paskibra PTFI Dikukuhkan, Siap Kibarkan Merah Putih di Kuala Kencana

Di Tengah Pegunungan Papua, Satgas Pasgat Mulia Salurkan Harapan Nyata Lewat Donor Darah HUT ke-81 RI

16 Agustus 2026
Duka Gempa Flores, Flobamora Mimika Buka Donasi: “Saatnya Kita Bergerak untuk Saudara di NTT”

72 Anggota Paskibra PTFI Dikukuhkan, Siap Kibarkan Merah Putih di Kuala Kencana

16 Agustus 2026
Duka Gempa Flores, Flobamora Mimika Buka Donasi: “Saatnya Kita Bergerak untuk Saudara di NTT”

Duka Gempa Flores, Flobamora Mimika Buka Donasi: “Saatnya Kita Bergerak untuk Saudara di NTT”

16 Agustus 2026
Tujuh Personel Polisi Dilaporkan Terluka dalam Demo Protes Penempatan Militer di Papua 

Tujuh Personel Polisi Dilaporkan Terluka dalam Demo Protes Penempatan Militer di Papua 

16 Agustus 2026
Kunker di Papua Tengah, Yorrys Rawayei: Serap Aspirasi untuk Didorong ke Pemerintah Pusat

Yorrys Raweyai: Keberhasilan Otsus Tidak Cukup Diukur dari Besarnya Anggaran, Tapi Manfaat yang Dirasakan Masyarakat 

16 Agustus 2026

POPULER

  • Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    908 shares
    Bagikan 363 Tweet 227
  • “Kami Siap Perang” KKB Ingatkan Tidak Boleh Gelar Perayaan HUT RI ke-81 di Kota Wamena

    679 shares
    Bagikan 272 Tweet 170
  • Aksi Gerakan Seribu Rupiah: Dinsos Mimika Minta Rekomendasi, APELCAMI Pertanyakan Dasar Hukumnya 

    590 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • YPMAK Dorong Pokja Tinggalkan Program Padat Karya, Fokus ke Usaha Produktif dan Berkelanjutan

    573 shares
    Bagikan 229 Tweet 143
  • 13 Kantor Pemerintah di Puncak Dirusak dan Dibakar: Komisi II DPR RI  Desak Mendagri segera Turun Tangan 

    557 shares
    Bagikan 223 Tweet 139
  • Awalnya Sempat Pesimis: Gladys Manuella Aibekob, Wakili Papua Tengah Kibarkan Merah Putih di Istana Negara 

    554 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • TPS Liar Dirubah Menjadi Jadi Taman Bunga, RT 04 Wanagon Sulap Titik Kumuh Jadi Ruang Cantik 

    552 shares
    Bagikan 221 Tweet 138
Next Post
Enam Gubernur dan 42 Bupati se-Papua Raya Kumpul di Timika, Ini yang Dibahas

Enam Gubernur dan 42 Bupati se-Papua Raya Kumpul di Timika, Ini yang Dibahas

Mahasiswa Dogiyai Turun ke Jalan, Desak Usut Tuntas Kasus Kekerasan Bersenjata di Tanah Papua

Mahasiswa Dogiyai Turun ke Jalan, Desak Usut Tuntas Kasus Kekerasan Bersenjata di Tanah Papua

Pengamanan Areal Freeport Berganti ke Yonif 133/Yudha Sakti

Pengamanan Areal Freeport Berganti ke Yonif 133/Yudha Sakti

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id