TIMIKA, Koranpapua.id– Tindakan oknum yang masuk ke halaman gereja hingga ke ruang privat Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, dinilai tidak beretika.
Tindakan itu sangat tidak sopan, apalagi dilakukan prajurit jelang kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabumin Raka di Kabupaten Mimika, pada 21 April 2026 lalu.
“Kami mengecam keras tindakan oknum prajurit TNI. Itu tindakan yang tidak beretika dan jauh dari kata sopan santun,” tegas Yoseph Temorubun, SH, Direktur YLBH Papua Tengah dalam keterangannya, Rabu 29 April 2026.
Menurut Yoseph, informasi yang diterima pihaknya juga menyebutkan bahwa, para oknum TNI tidak saja masuk ke halaman gereja, tetapi masuk sampai ke kamar tidur (tempat istirahat) para pastor.
“Kamar pastor itu ruang privat, bukan ruang publik. Apalagi masuk tanpa memberitahukan terlebih dahulu ke Satpam,” tegas Yoseph.
Terkait dengan peristiwa ini, Yoseph mendesak agar Presiden Prabowo selaku Panglima Tertinggi TNI untuk segera meminta maaf kepada pihak Keuskupan Timika.
Dikatakan, tindakan oknum TNI bisa ditafsir umat dan masyarakat sebagai bentuk intimidasi nyata kepada para Imam Katolik di Keuskupan Timika.
Padahal, para Imam Katolik sebagai wakil Kristus di dunia, selain menjadi penjaga iman umat, juga adalah gembala yang mengemban tugas menyampaikan pesan-pesan kenabian.
“Aparat keamanan silahkan saja bertamu di Gereja Katedral bila ada keperluan dengan pastor. Tetapi tidak boleh masuk sampai ke ruang privat pastor,” pungkasnya.
Yoseph meminta pihak Keuskupan Timika mengambil langkah untuk menyurati Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk memberikan teguran kepada Panglima TNI atas tindakan tidak beretika itu.
“Negara melalui aparat keamanan hadir untuk melindungi masyarakat. Tidak boleh aparat masuk ke wilayah gereja seperti yang terjadi di Katedral Timika”.
“Kejadian ini menunjukkan bahwa negara terang-tetang masuk mencampuri urusan agama,” ujar Yoseph yang juga Praktisi Hukum jebolan Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Ambon.
Ia menegaskan, negara harus membedakan mana Tupoksinya dan mana wilayah kerja agama.
“Lembaga keagamaan buka musuh negara yang harus dijadikan aparat sasaran untuk melakukan tindakan teror atau intimidasi,” sesal Yoseph.
Yoseph mengingatkan bahwa, pimpinan gereja Katolik Keuskupan Timika seperti juga para imam Katolik seluruh dunia, berkewajiban menyampaikan pesan kenabian dan seruan moral atas perilaku buruk dan ketidakadilan negara terhadap umat dan rakyat.
Karena itu, Yoseph menilai kejadian di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, menunjukkan negara terkesan bersikap otoriter terhadap para pemimpin gereja.
Dan apabila itu yang terjadi bisa berpotensi memicu protes umat dan warga terhadap perilaku aparat.
“Hasil investigasi YLBH Papua Tengah diperoleh laporan bahwa setiap misa baik hari Minggu maupun misa harian selalu saja ada orang yang tidak dikenal hadir dalam gereja,” katanya.
Bahkan menurut kesaksian dari Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) Katedral Tiga Raja Timika, ada saja orang tidak dikenal datang ke gereja.
Setiap misa mereka mengambil posisi di tempat yang tersembunyi dan memotret secara diam-diam saat Uskup Timika memimpin ibadah. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









