JAKARTA, Koranpapua.id- Meski di tengah efisiensi anggaran, Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar tetap mendukung pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) IV Papua Barat.
Sesuai agenda, Pesparani akan dilaksanakan di Kabupaten Teluk Bintuni pada Bulan Juni 2026.
Hal itu disampaikan Menag dalam pertemuan dengan Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) di Masjid Istiqlal-Jakarta, Senin 27 April 2026.
Dukungan untuk mensukseskan pelaksanaan Pesparani, sebagai komitmen pemerintah menjaga keberlangsungan agenda keagamaan.
Di hadapan anggota MRPB, Menag mengakui bahwa kebijakan penyesuaian anggaran berdampak pada terbatasnya ruang dukungan pembiayaan dari pemerintah pusat, termasuk untuk kegiatan keagamaan.
“Pesparani IV tetap akan terlaksana. Kita sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk jika ada keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menag menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan kegiatan keagamaan tidak semata ditentukan oleh dukungan fiskal negara.
Tetapi juga oleh kekuatan partisipasi umat dan semangat gotong royong lintas elemen.
Karena menurutnya, nilai-nilai kebersamaan dan niat ibadah yang tulus justru menjadi fondasi utama yang mampu menjaga keberlangsungan kegiatan di tengah keterbatasan.
“Kalau kegiatan itu dilandasi niat ibadah yang tulus, selalu ada jalan. Kita bisa mendorong dukungan dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan jejaring masyarakat,” tegas Menag seperti dilansir dari Gerbangpatriot. Com.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pendekatan kolaboratif yang didorong Kementerian Agama dalam menyikapi tantangan pembiayaan.
Menag membuka ruang sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan di luar pemerintah, sebagai langkah konkret untuk memastikan kegiatan tetap berjalan tanpa mengurangi substansi dan kualitas pelaksanaan.
Dalam audiensi, perwakilan MRPB menyampaikan sejumlah aspirasi, termasuk kebutuhan dukungan untuk pelaksanaan Pesparani IV serta pembangunan infrastruktur gereja di Papua Barat.
Panitia telah berupaya menghimpun dana dari umat, namun masih menghadapi keterbatasan, terutama mengingat kondisi geografis dan akses menuju Teluk Bintuni yang cukup menantang.
Menanggapi hal tersebut, Menag menyatakan bahwa pemerintah tetap memberikan perhatian, meskipun dalam batas kemampuan fiskal yang ada.
Ia juga mendorong agar panitia terus memperkuat koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik serta menyusun langkah-langkah strategis berbasis kolaborasi.
Pertemuan ini tidak hanya menegaskan kepastian pelaksanaan Pesparani IV, tetapi juga memperlihatkan arah kebijakan yang menempatkan semangat gotong royong sebagai pilar utama dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan.
Di tengah keterbatasan anggaran, optimisme dan solidaritas kolektif diyakini menjadi kekuatan yang mampu menjaga kesinambungan agenda keagamaan sekaligus memperkuat harmoni sosial di Papua Barat. (Redaksi)








