PANIAI, Koranpapua.id- Beratnya medan dan cuaca yang tidak menentu menjadi hari-hari yang harus dilalui dengan penuh cinta dan ketulusan oleh prajurit TNI yang berdinas di wilayah Papua.
Pengalaman manis dan kenangan indah juga dinikmati prajurit TNI AU yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Yon Parako 466 Pasgat, yang ditugaskan menjaga keamanan di seluruh bandara perintis di wilayah Papua Raya.
Seperti yang dialami oleh prajurit Satgas Yon Parako 466 Pasgat yang bertugas di Bandara Enarotali, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah.
“Para prajurit setiap harinya melakukan penyisiran landasan (runway sweep) guna memastikan landasan aman untuk penerbangan pertama,” ujar Letda Pas Pande Putu Bayu Krisna Aji, Danpos Korpasgat Bandara Enarotali kepada koranpapua.id. Minggu 1 Maret 2026.

Dikatakan, di tengah kabut yang masih tebal pada di pagi hari, para prajurit wajib melakukan patroli dan penyisiran untuk memastikan landasan bersih dari benda asing (FOD).
Termasuk memastikan genangan air yang membahayakan, maupun potensi gangguan keamanan lainnya.
“Cuaca di wilayah pegunungan yang ekstrem, sering kali diselimuti kabut tebal dengan jarak pandang terbatas, tidak menyurutkan kewaspadaan kami,” ungkapnya.
Para prajurit dengan menenteng bersenjata lengkap, wajib menyisir area landasan pacu di tengah kondisi cuaca yang cukup dingin.
Menariknya, prajurit Kopasgat yang ditugaskan di bandara perintis tidak hanya dibekali dengan kemampuan tempur dan pengamanan wilayah.
Mereka juga dibekali dengan kemampuan teknis dukungan penerbangan. Hal ini terlihat nyata ketika seorang prajurit Kopasgat dengan rompi hijau terang (hi-vis) dan marshall wand (tongkat pemandu) di tangannya.

Dengan profesional, prajurit bertugas sebagai marshaller, memandu pesawat perintis berbaling-baling (propeller) untuk parkir di apron dengan aman setelah membelah awan pegunungan.
Dikatakan, kehadiran personel Kopasgat di bandara-bandara perintis yang kerap kali berbatasan langsung dengan hutan, perbukitan dan permukiman warga, sangatlah vital.
Karenanya, setiap prajurit yang bertugas berkewajiban untuk memastikan penerbangan dan operasional bandara berlangsung dengan aman dan lancar.
Apalagi pesawat perintis saat ini menjadi satu-satunya moda transportasi dan urat nadi kehidupan bagi masyarakat di dataran tinggi, untuk mendapatkan pasokan kebutuhan pokok, obat-obatan, serta evakuasi medis darurat.
Dijelaskan, prajurit Satgas Parako 466 Paskas juga tampil sebagai tim yang bekerja fokus pada operasional penerbangan, sementara personel lainnya bersiaga penuh di perimeter luar bandara.
Mereka memantau pergerakan di sekitar area bandara yang berbatasan dengan semak belukar dan jalan setapak warga, memastikan tidak ada ancaman yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan sipil.
“Dedikasi tanpa henti dari para prajurit Kopasgat ini menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam menjaga kedaulatan, keamanan, serta roda ekonomi masyarakat di wilayah terluar dan terpencil Indonesia,” ungkapnya. (Redaksi)









