PANIAI, Koranpapua.id- Tarian tradisional budaya Mapago yang ditampilkan mama-mama Papua sangat terkesan dan penuh makna, ketika menjemput para peserta Musyawarah Pastoral Mee (Muspas Mee) ke-VIII, Minggu 1 Februari 2026.
Tarian yang disuguhkan itu, terlihat seperti ajang pentas budaya yang menggambarkan sebuah pertunjukan yang kaya akan ekspresi seni, tradisi, dan berbudaya.
Kehadiran para ratusan peserta ini untuk menghadiri Muspas Mee yang sesuai agenda akan dimulai hari ini, Senin 2 Februari 2026 di Kampung Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai.
Demian Degai, Ketua Panitia Lokal Stasi Daida Eyagitaida kepada koranpapua.id mengatakan, tampilan mama-mama membawakan tarian budaya Meepago, tidak hanya sekadar tontonan.
Tarian ini juga menjadi sarana untuk melestarikan kebudayaan daerah, memupuk gotong royong, dan mempererat persatuan dalam merajut dan mensuksesakan kegiatan pastoral.
Dalam penjemputan itu juga ditampilkan kreativitas lainnya, seperti drama/teater, Yuu Waita, dan Tupe Ugaa, yang sering dikombinasikan dengan seni pentas budaya di Kampung Komopa, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai.
“Momen penjemputan Dekenat Tigi, Moanemani, Moni dan lainnya di Keuskupan Timika menampilkan kekayaan tradisi lokal sebagai warisan leluhur budaya Meepago,” ujar Demian.
Pantauan media ini, para undangan dan masyarakat yang hadir dalam penjemputan itu saat antusias menyaksikan penampilan antraksi budaya tersebut.
Selain tarian, juga ditampilkan tradisi daerah seperti, Koteka Mogee, Beba, Wayaa, Enapa, Kedego, Ukaa Mapega, atau Wayang.
“Semua antraksi ini sering dipandang sebagai momen apresiasi tertinggi terhadap budaya Meepago,” jelas Demian Degei.
Lebih lanjut Demian menuturkan bahwa, kreativitas pentas seni juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melestarikan budaya di tengah perkembangan zaman.
“Ini juga menjadi ajang untuk mengasah bakat dan mental anak-anak muda untuk berani tampil di depan umum. Salah satunya diacara penjemputan peserta Muspas Mee,” imbuhnya.
Dikatakan, secara keseluruhan, momen ini merupakan perpaduan antara edukasi, kegiatan pastoral, dan pelestarian budaya yang memvisualisasikan identitas filosofi budaya Meuwodide.
Penulis: Jeri P. Degei
Editor: Marthen LL Moru










