TIMIKA, Koranpapua.id- Dalam rangka memperkuat kontribusi dalam mendukung pembangunan daerah berbasis riset, Universitas Bosowa (INIBOS) Makassar dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika, melaksanakan Rapat Koordinasi Kerja Sama antara Pusat Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).
Pada rapat yang dilakukan melalui Zoom Meeting pada Jumat 12 Juni 2026, menjadi langkah awal penyusunan Kajian Strategis Pengembangan Wilayah Distrik Mimika Barat Jauh, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman yang sebelumnya telah disepakati kedua institusi.
Melalui kerja sama ini, UNIBOS Makassar dan BRIDA Mimika berkomitmen menghadirkan kajian komprehensif yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan wilayah terpencil.
Secara khusus di kawasan Distrik Mimika Barat Jauh yang memiliki tantangan geografis dan sosial ekonomi yang cukup kompleks.
Dalam kesempatan itu, Rektor Universitas Bosowa Prof. Batara Surya menegaskan bahwa penelitian dan kajian yang dilakukan tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik semata.
Menurutnya, hasil kajian harus mampu melahirkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata untuk mengurangi kesenjangan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan tertinggal.
“Bagaimana model pengembangan wilayah dan infrastruktur dapat dirumuskan sehingga kesenjangan pembangunan dan kemiskinan tidak semakin melebar,” ujar Prof. Batara.
Menurutnya, jika kawasan pesisir memiliki potensi yang menonjol, maka sektor ekonomi seperti pariwisata, perikanan, dan ekonomi berbasis sumber daya lokal harus menjadi bagian dari strategi pengembangannya.
“Yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.
Prof. Batara juga menekankan bahwa aspek keberlanjutan harus menjadi landasan utama dalam setiap rekomendasi yang dihasilkan.
Ia berharap kajian tersebut mampu menghasilkan kerangka regulasi dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung percepatan pembangunan wilayah sekaligus menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah bahkan pada tingkat nasional.
Kepala BRIDA Kabupaten Mimika, Slamet Sutejo, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dengan Universitas Bosowa.
Menurutnya, pendekatan pembangunan berbasis riset sangat diperlukan untuk menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran, terukur, serta mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi masyarakat di Distrik Mimika Barat Jauh.
“Kajian ini sangat penting karena akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi riil masyarakat di Distrik Mimika Barat Jauh,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris BRIDA Kabupaten Mimika Darius Sabon menekankan pentingnya penyusunan kerangka kerja yang sistematis agar seluruh tahapan kajian dapat berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.
Ia menilai hasil kajian nantinya akan menjadi salah satu pijakan penting dalam penyusunan arah pembangunan Kabupaten Mimika pada beberapa tahun mendatang.
Melalui kerja sama ini, UNIBOs dan BRIDA Mimika berharap dapat menghadirkan model pembangunan wilayah berbasis riset yang tidak hanya mengidentifikasi berbagai persoalan pembangunan.
Tetapi juga memetakan potensi unggulan daerah seperti sektor perikanan, pariwisata, sumber daya alam, dan pemberdayaan masyarakat adat.
Hasil kajian tersebut ditargetkan menjadi referensi utama Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menyusun program pembangunan periode 2026 hingga 2030 yang berorientasi pada keberlanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Koordinator kegiatan sekaligus Tenaga Ahli Pusat Studi PWK Universitas Bosowa, Muh. Idris Taking, menjelaskan bahwa kajian tersebut akan menggunakan pendekatan multidisiplin.
Analisis yang dilakukan meliputi aspek fisik wilayah, sosial budaya, ekonomi, infrastruktur, tata kelola pemerintahan, hingga perumusan strategi pembangunan jangka menengah yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat setempat.
Ia menambahkan bahwa tim peneliti akan menggunakan berbagai metode ilmiah, mulai dari survei lapangan, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) dan pendekatan SWOT dan TOWS.
Metode tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan mudah diimplementasikan oleh pemerintah daerah. (Redaksi)










