PUNCAK, Koranpapua.id- Lima pemuda Papua yang sebelumnya tergabung dalam kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Joni Botak menyatakan tekad kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pernyataan tersebut disampaikan di Kampung Jampul, Distrik Beoga Barat, Kabupaten Puncak, pada Minggu 4 Januari 2026.
Kelima pemuda tersebut adalah Damal Kum alias Oten (19), Iyan Uamang (26), Maikel Uamang (14), Julian Wandagau (18), dan Eten Uamang (24).
Mereka mendatangi Titik Kuat Jampul Satgas Yonif 732/Banau dengan didampingi Kepala Suku Kampung Jampul, Kum Uamang, sebagai wujud dukungan penuh masyarakat adat terhadap langkah damai yang diambil.

Keputusan untuk meninggalkan kelompok bersenjata dan kembali ke NKRI merupakan hasil dari pembinaan teritorial yang dilakukan secara konsisten oleh Satgas Yonif 732/Banau di bawah komando Koops TNI Habema.
“Kami hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga menjadi sahabat dan bagian dari masyarakat,” ujar Dansatgas Yonif 732/Banau, Letkol TNI Muhammad Nurul Chabibi melalui siaran pers, Senin 5 Januari 2026.
“Pendekatan kami adalah dialog dan pelayanan, agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara,” tambahnya.
Kepercayaan yang terbangun tersebut mendorong tiga pemuda yang berada di Kampung Jampul untuk mengajak dua rekannya yang sebelumnya berada di Timika agar kembali dan bersama-sama memilih jalan damai.
Sebagai tindak lanjut, Satgas Yonif 732/Banau bersama tokoh adat dan pemerintah setempat menjadwalkan pelaksanaan upacara ikrar kesetiaan kepada NKRI pada Minggu, 4 Januari 2026, di depan Titik Kuat Jampul.
Prosesi tersebut akan menjadi simbol rekonsiliasi sekaligus awal dari proses reintegrasi sosial bagi kelima pemuda tersebut.
Disampaikan bahwa pembacaan ikrar ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pendampingan berkelanjutan.
“Kami menjamin keamanan mereka serta mendorong akses terhadap program pemberdayaan pemerintah agar dapat membangun kehidupan baru yang bermartabat,” tegas Letkol Chabibi.
Sementara itu, Panglima Koops Habema, Lucky Avianto, menilai keberhasilan ini sebagai bukti efektivitas operasi teritorial yang mengedepankan pendekatan humanis.
Capaian ini menunjukkan bahwa dialog, pendekatan persuasif, dan pelayanan yang tulus kepada masyarakat merupakan kunci menciptakan stabilitas keamanan yang berkelanjutan di Papua.
“TNI hadir tidak hanya untuk menegakkan kedaulatan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi perdamaian,” pungkasnya.
Momen “pulang ke NKRI” ini menjadi bukti nyata bahwa kehadiran TNI dengan strategi yang tepat mampu menjadi jembatan perdamaian.
Mampu memenangkan hati dan pikiran masyarakat, serta memperkuat persatuan dan kedaulatan Indonesia di Tanah Papua. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










