ADVERTISEMENT
Kamis, Agustus 13, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Agama

Ribuan Umat Katolik Rayakan Jumat Agung, RP Gabriel: Yesus Disalibkan karena Dituduh Penjahat Kelas Kakap

Yesus Kristus mendapat hukuman yang kejam. Padahal semua tahu menurut injil, Yesus selama hidupnya meninggalkan segala-galanya untuk mewartakan tentang kebaikan.

29 Maret 2024
0
Ribuan Umat Katolik Rayakan Jumat Agung, RP Gabriel: Yesus Disalibkan karena Dituduh Penjahat Kelas Kakap

Suasana umat Paroki Santo Stefanus Sempan memberikan penyembahan pada salib pada perayaan Jumat Agung, 29 Maret 2024. (Foto : Redaksi/Koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Ribuan umat Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan, Keuskupan Timika, Kabupaten Mimika Papua Tengah merayakan Jumat Agung, Jumat 29 Maret 2024.

Perayaan yang dimulai pukul 15.00 WIT dipimpin oleh RP Gabriel Ngga, OFM, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan.

ADVERTISEMENT

Sebelum perayaan Jumat Agung, pada pagi harinya telah diawali dengan pelaksanaan jalan salib hidup yang diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Stefanus Sempan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sejak pukul 14.00 WIT umat sudah berdatangan. Satu persatu dengan khusuk masuk menempati bangku-bangku di dalam gereja maupun kursi yang disiapkan panitia di sisi kiri kanan gereja.

Baca Juga

Sengketa Tanah SP2 berakhir, Sem Bukaleng Tegaskan Kehadiran Lemasa sebagai Pembawa Solusi 

Awalnya Sempat Pesimis: Gladys Manuella Aibekob, Wakili Papua Tengah Kibarkan Merah Putih di Istana Negara 

Perayaan mengenang kematian penyaliban Yesus ini tepat pukul 15.00 WIT. Imam mengenakan kasula merah melambangkan keberanian bersama misdinar dan akolid berjalan berarak menuju altar Tuhan tanpa diiringi lagu.

Tiba di depan altar, imam tiarap menunjukan kerendahan hati di hadapan Bapa-Nya. Perayaan berlangsung dalam suasana hening dan meja altar tanpa ada dekorasi.

Umat kemudian diperdengarkan kisah sengsara Yesus Kristus mulai dari makan bersama para murid, di Taman Getsemani, pengadilan hingga wafatnya di kayu salib.

Setelah mendengarkan pembacaan kisah sengsara dan kotbah, umat dilanjutkan dengan memberikan penghormatan kepada salib berkorpus Yesus.

RP Gabriel Ngga, OFM dalam kotbahnya menjelaskan, Yesus disalibkan sesuai dengan tradisi Roma. Yang menurut Herodotus sejarahwan Romawi bahwa hukuman salib berasal dari Babilonia dan Persia.

Diterapkan hukuman salib ini di Kekaiseran Romawi untuk menghukum para penyamun dan masyarakat kelas rendahan guna menjaga stabilitas dan keamanan.

Israel merupakan bangsa jajahan Roma. Maka, Yesus dituduh sebagai penjahat kelas kakap, maka Ia mendapat hukuman mati dengan cara disalibkan.

Yesus Kristus mendapat hukuman yang kejam. Padahal semua tahu menurut injil, Yesus selama hidupnya meninggalkan segala-galanya untuk mewartakan tentang kebaikan.

Yesus keliling masuk desa, kota dan kampung untuk berbuat baik. Ia menyembuhkan orang sakit, membela orang kecil, orang buta dan tuli, menghidupkan orang mati dan mengusir setan. Yesus Raja Damai juga berjuang sampai merelakan nyawa-Nya demi keselamatan manusia.

Dengan demikian warna liturgi merah pada perayaan Jumat Agung tidak saja melambangkan akan duka cita, tetapi mengingatkan umat akan berani mati demi memperjuangkan kebaikan dan nilai-nilai kebenaran.

“Pada zaman kita saat ini dimana tempat kita berada berbagai kebencian telah ada di dalam hidup manusia. Dan pelaku-pelakunya adalah kita sendiri,” kata RP Gabriel.

Manusia, kata RP Gabriel telah meninggalkan kekerasan, pembunuhan, kebencian, ketidakadilan dan korban nyawa bagi orang kecil. Mereka dibunuh dan dibantai maupun disiksa.

Yesus selalu menyamarkan diri-Nya sebagai orang kecil, tersisihkan di dalam masyarakat. “Justru karena merekalah sering mendapat ketidakadilan, sering mendapat kekerasan, merendahkan martabat hidup mereka. Sehingga Yesus Kristus sampai saat ini masih disalibkan,” katanya.

Mantan Provinsial OFM Papua ini menegaskan, Yesus Kristus sampai dengan saat ini masih tersalibkan karena oleh dosa-dosa manusia.

“Di mana kita kurang peduli. Sudah tahu itu bersalah tapi kita memilih diam. Tahu itu tidak baik, kita tidak pernah berusaha perbaiki,” katanya.

RP Gabriel juga mengajukan pertanyaan refleksi bagi umat apa makna perayaan Jumat Agung ini ? Menurutnya lewat perayaan Jumat Agung, Yesus rela menderita dan mati di kayu salib karena cinta-Nya yang begitu besar bagi umat manusia.

Karena cinta-Nya, Ia rela mengorbankan nyawa-Nya untuk manusia. Bahkan Ia rela memberikan segala-galanya dengan tuntas agar manusia selamat. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Ketua Lemasa Soroti Nasib Perajin Papua: Jangan Biarkan Kerajinan Lokal Dijual di Pinggir Jalan

Ketua Lemasa Soroti Nasib Perajin Papua: Jangan Biarkan Kerajinan Lokal Dijual di Pinggir Jalan

13 Agustus 2026
Sengketa Tanah SP2 berakhir, Sem Bukaleng Tegaskan Kehadiran Lemasa sebagai Pembawa Solusi 

Sengketa Tanah SP2 berakhir, Sem Bukaleng Tegaskan Kehadiran Lemasa sebagai Pembawa Solusi 

13 Agustus 2026
Awalnya Sempat Pesimis: Gladys Manuella Aibekob, Wakili Papua Tengah Kibarkan Merah Putih di Istana Negara 

Awalnya Sempat Pesimis: Gladys Manuella Aibekob, Wakili Papua Tengah Kibarkan Merah Putih di Istana Negara 

13 Agustus 2026
DPMPTSP Mimika Dorong Pelaku Usaha Pahami Perizinan Berbasis Risiko

DPMPTSP Mimika Dorong Pelaku Usaha Pahami Perizinan Berbasis Risiko

13 Agustus 2026
Kapolres Puncak: Ada 13 Kantor Pemerintah yang Rusak dan Dibakar Massa

Kapolres Puncak: Ada 13 Kantor Pemerintah yang Rusak dan Dibakar Massa

13 Agustus 2026
Dinas PUPR Mimika Kebut Ranperda Perumda Air Minum dan Limbah Domestik

Dinas PUPR Mimika Kebut Ranperda Perumda Air Minum dan Limbah Domestik

12 Agustus 2026

POPULER

  • Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    837 shares
    Bagikan 335 Tweet 209
  • “Kami Siap Perang” KKB Ingatkan Tidak Boleh Gelar Perayaan HUT RI ke-81 di Kota Wamena

    655 shares
    Bagikan 262 Tweet 164
  • Aksi Gerakan Seribu Rupiah: Dinsos Mimika Minta Rekomendasi, APELCAMI Pertanyakan Dasar Hukumnya 

    585 shares
    Bagikan 234 Tweet 146
  • PN Timika Tunda Eksekusi Sengketa Tanah SP II Demi Keamanan, Putusan Tetap Inkrah

    548 shares
    Bagikan 219 Tweet 137
  • Aktivis HAM Tantang Kapolres Mimika: Berani Tegas di Kwamki Narama dan Tuntaskan Kasus Pembunuhan oleh Oknum Polisi 

    542 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • Sekda Mimika Ingatkan Kepala Kampung: Dana Desa Bukan untuk Kepentingan Pribadi

    537 shares
    Bagikan 215 Tweet 134
  • Palang Jalan Cenderawasih SP2-Timika Dibuka, Sengketa Tanah Diserahkan ke Lemasa

    531 shares
    Bagikan 212 Tweet 133
Next Post
Kasus Penyiksaan Warga Papua, Kapuspen: Margin Error Tidak Sampai Satu Persen dan Bukan Gambaran TNI

Kasus Penyiksaan Warga Papua, Kapuspen: Margin Error Tidak Sampai Satu Persen dan Bukan Gambaran TNI

Warga Kebun Siri Palang Jalan, Buntut dari Membuang Sampah Sembarangan

Warga Kebun Siri Palang Jalan, Buntut dari Membuang Sampah Sembarangan

FKDM Mimika Soroti Parpol Libatkan Anak-anak Ikut Kampanye, Bawaslu Harus Tegakkan Aturan

FKDM Dukung Layanan Bus Gratis, Bermanfaat Menjawab Kebutuhan Transportasi Warga Timika

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id