ADVERTISEMENT
Jumat, April 3, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Kesehatan

Virus ASF di Timika Makin Ganas, Ribuan Ekor Babi Mati, Disnak-Keswan Kuburkan Secara Massal

Media penyebaran virus selain lewat manusia juga melalui lalat, burung dan tikus, kotoran ternak babi itu sendiri dengan masa inkubasi bertahan selama setahun.

16 Februari 2024
0
Virus ASF di Timika Makin Ganas, Ribuan Ekor Babi Mati, Disnak-Keswan Kuburkan Secara Massal

Excavator menggali lubang untuk menguburkan babi yang mati di lahan milik Pemkab Mimika, Jumat 16 Februari 2024. (Foto : Redaksi/Koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Virus African Swine Fever (ASF) semakin ganas menyerang ternak babi di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Akibatnya ribuan ekor babi milik peternak mati.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika mengambil kebijakan menguburkan semua babi yang mati secara massal, Kamis 15 Februari 2024.

ADVERTISEMENT

Lokasi penguburan berada di lahan milik pemerintah Kabupaten Mimika yang jauh dari pemukiman warga, sehingga sangat aman untuk ternak babi yang masih sehat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berdasarkan data Disnak-Keswan untuk hari Kamis 15 Februari 2024 telah menguburkan 1.176 ekor, dan pada hari Jumat 16 Februari 2024 terdapat 586 ekor milik peternak di Jalan Pisang, Kelurahan Timika Jaya SP2, Arena Lama dan Sam Ratulangi.

Baca Juga

Ucapkan Duka Cita, Amnesty Internasional Indonesia Desak Usut Tuntas Kasus Dogiyai Berdarah

Perampokan Bersenjata Gasak Enam Handphone dan Uang Jutaan Rupiah

drh. Sabelina Fitriani, M.Si, Kepala Disnak-Keswan menjelaskan, ternak babi yang mati dikubur secara massal oleh dinas, sementara selebihnya yang tidak terdata dikuburkan oleh masyarakat sendiri.

Karena jumlah babi yang mati jumlah sangat banyak, maka liang kuburnya digali sedalam tujuh meter, selanjutnya ditimbun dengan tanah menggunakan excavator.

Sabelina menghimbau kepada masyarakat pemilik ternak, yang babinya masih dalam kondisi sehat untuk diberikan suntikan serum ScoVet ASF dan vaksin hogkolera untuk mencegah dan antibodi.

Ia menyebutkan populasi ternak babi di Mimika sekarang tersisa 11.800 ekor. Tingginya populasi ini dimasa puncak ASF sehingga biosekuriti kebersihan kandang sangat penting diperhatikan.

Kandang harus disemprot dengan desinfektan, lantai disikat menggunakan baiklin dan sabun. Melarang atau membatasi orang untuk keluar masuk area kandang.

“Apalagi orang yang dari kandang sudah terserang ASF. Itu sangat cepat menular ke babi yang lain,” jelas Sabelina kepada wartawan di lokasi penguburan ternak babi, Jumat 16 Februari 2024.

Dikatakan, larangan orang keluar masuk bebas di kandang, karena virus yang menempel pada baju akan mudah pindah ke ternak babi.

Hal itu bisa mengakibatkan kondisi babi yang awalnya terlihat sehat, dan hanya berselang beberapa waktu bisa langsung mati. Ini dikarenakan virus ASF sekarang makin ganas.

“Yang awalnya babinya terlihat sehat tapi sekarang babinya mati. Virus menempel di baju saat masuk di kandang virusnya menyebar ke babi,” paparnya.

Media penyebaran virus selain lewat manusia juga melalui lalat, burung dan tikus, kotoran ternak babi itu sendiri dengan masa inkubasi bertahan selama setahun.

“Kencing babi juga mengandung virus. Babi mati dan kandang belum steril maka babinya mati lagi kalau dimasukan babi. Virus bertahan enam bulan sampai setahun,” tandasnya.

Kepada peternak, Sabelina mengingatkan untuk hentikan lalulintas ternak. Jangan memindahkan babi ke kandang lain meskipun sudah lama kosong.

Kandang yang kosong secara rutin disemprot dengan disifektan, disikat menggunakan bayclean dan sabun.

“Kami harap para peternakan bersabar dengan situasi ini. Babinya yang masih bertahan dikasih serum ScoVet ASF dan vaksin kolera supaya antibodinya tetap stabil,” saran Sabelina.

Ia mengakui saat ini pihaknya kewalahan untuk turun melayani peternak karena keterbatasan petugas.

Untuk itu, kepada peternak, Sabelina meminta bagi yang bisa menyuntik sendiri silahkan datang ke kantor untuk mengambil serum dan vaksin kolera.

Begitu juga bagi yang belum bisa menyuntik sendiri, dapat menghubungi petugas untuk sama-sama turun menyuntik.

“Petugas terbatas sehingga kita tidak bisa datang ke kandang satu persatu. Peternakan yang bisa menyuntik sendiri kami siapkan peralatannya,” katanya. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Ucapkan Duka Cita, Amnesty Internasional Indonesia Desak Usut Tuntas Kasus Dogiyai Berdarah

Ucapkan Duka Cita, Amnesty Internasional Indonesia Desak Usut Tuntas Kasus Dogiyai Berdarah

3 April 2026
Perampokan Bersenjata Gasak Enam Handphone dan Uang Jutaan Rupiah

Perampokan Bersenjata Gasak Enam Handphone dan Uang Jutaan Rupiah

3 April 2026
Konflik Berdarah Dogiayai: Polda Papua Tengah akan Bentuk Timsus, Kapolda Minta Maaf

Konflik Berdarah Dogiayai: Polda Papua Tengah akan Bentuk Timsus, Kapolda Minta Maaf

3 April 2026
Pengemudi Ojek Luka Serius Disabet Senjata Tajam, Polisi Buru Pelaku

Pengemudi Ojek Luka Serius Disabet Senjata Tajam, Polisi Buru Pelaku

3 April 2026
Pemkab Mimika Resmi Terbitkan SE Nomor 30 Tahun 2025, ASN WFH Setiap Jumat

Pemkab Mimika Resmi Terbitkan SE Nomor 30 Tahun 2025, ASN WFH Setiap Jumat

3 April 2026
Pemkab Mimika Genjot Pemerataan Akses Pendidikan, 2027 Anak Wajib TK Sebelum Masuk SD

Pemkab Mimika Genjot Pemerataan Akses Pendidikan, 2027 Anak Wajib TK Sebelum Masuk SD

2 April 2026

POPULER

  • Gubernur Papua Tengah Resmi Tetapkan WFH Bagi ASN Setiap Hari Jumat, Berlaku untuk Pemprov dan Delapan Kabupaten

    Gubernur Papua Tengah Resmi Tetapkan WFH Bagi ASN Setiap Hari Jumat, Berlaku untuk Pemprov dan Delapan Kabupaten

    619 shares
    Bagikan 248 Tweet 155
  • Sadis! Seorang Pria Tewas Bersimbah Darah, Ketua KNPI Mimika: “Ini Kakak Sungguh Saya”

    601 shares
    Bagikan 240 Tweet 150
  • Syarat Menjadi Pejabat di Mimika, Bupati Johannes Rettob Tegaskan ASN Wajib Sarjana

    576 shares
    Bagikan 230 Tweet 144
  • Seorang Remaja Putri di Timika Ditemukan Tewas Diduga Gantung Diri, Motifnya Masih Penyelidikan

    561 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • Jaksa Agung Pantau Perkembangan Kasus Dugaan Korupsi Sarana Aerosport di Mimika

    551 shares
    Bagikan 220 Tweet 138
  • ASN Wajib Turun ke Pedalaman, Pemkab Mimika Naikkan Uang Perjalanan Dinas Rp3,5 Juta per Hari

    547 shares
    Bagikan 219 Tweet 137
  • Seorang Warga Tewas di Kwamki Narama, Diduga Diserang Sekompok Orang

    538 shares
    Bagikan 215 Tweet 135
Next Post
Virus ASF Tidak Menular ke Manusia, Kerugian Ekonomi Miliaran Rupiah

Virus ASF Tidak Menular ke Manusia, Kerugian Ekonomi Miliaran Rupiah

Alokasi APBN 2024 untuk Mimika dan Puncak Rp4,2 Triliun

Alokasi APBN 2024 untuk Mimika dan Puncak Rp4,2 Triliun

Cacar Monyet Merebak di Indonesia, Reynol: Dinkes Mimika Terima Arahan Kemenkes 

Reynold Ubra Tegaskan Kasus Lumpuh Layuh di Timika Belum KLB Polio, Dinkes Keluarkan Surat Edaran

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id