ADVERTISEMENT
Sabtu, September 12, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Nusantara

Memilih dengan Damai, Riang dan Tanpa Kebencian

(bagian-2)

9 Januari 2024
0
Refleksi Reformasi dari Pinggiran Jalan

Ignatius Iryanto, Dr. Ing.(Foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

“tulisan kedua dari 4 tulisan”

 

ADVERTISEMENT

PILPRES kali ini adalah Pilpres yang sangat istimewa bagi bangsa Indonesia karena beberapa alasan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pertama, karena seperti sudah diuraikan di artikel sebelumnya kini kita memiliki tiga capres yang merupakan kader-kader terbaik bangsa ini.

Baca Juga

PTFI Kirim Bantuan Rp2,5 Miliar dan Tim Medis untuk Korban Gempa NTT

Polres Mimika Serahkan Rp78,6 Juta dan 10 Koli Bantuan untuk Korban Bencana Flores

Kedua, karena presiden yang kita pilih dalam Pilpres kali ini akan memimpin Indonesia memasuki gerbang emas menuju Indonesia Emas di tahun 2045, di HUT kemerdekaan yang ke 100 dimana mimpi para pendiri bangsa tentang Indonesia yang modern, beradab, berkeadilan dan makmur merata untuk seluruh rakyat Indonesia Insya Allah akan bisa  terwujud.

Ketiga, adalah bahwa sampai dengan detik ini dimana masa kampanye sudah memasuki bulan terakhir kita tidak mengalami segregasi sosial yang tajam seperti dua Pilpres sebelumnya di 2014 dan 2019 dimana isu-isu identitas dalam istilah kadrun, cebong dan kampret sempat berhasil membelah seluruh masyarakat kita.

Rakyat memasuki hari pencoblosan dengan nuansa yang tidak damai, tidak riang bahkan ada nuansa saling benci antar bangsa. Saat ini publik dipenuhi dengan pembahasan mengenai gagasan para Capres dan Cawapres (Paslon), isi debat Paslon dengan berbagai kritik dan dukungan yang juga ramai dan seru namun tidak muncul isu etnis, agama, kadrun dan cebong, kampret dll.

Alasan ketiga inilah yang menurut penulis adalah hal yang amat sangat patut kita syukuri sebagai bangsa. Ada penata skenario yang sangat cermat dan arief melakukan rekayasa sosial sehingga suasana ini terwujud nyata serta juga dalam kacamata bangsa yang beriman, kita yakin bahwa memang negeri dan bangsa ini telah dijaga oleh Tuhan yang maha kasih serta leluhur Nusantara yang sakti mandraguna.

Suasana damai, riang dan tanpa kebencian ini yang harus selalu kita jaga hingga hari pencoblosan di 14 Februari nanti, bahkan hingga hari pelantikan Presiden baru kita di bulan Oktober 2024 itu.

Hanya dengan itulah, pasangan terbaik yang telah kita pilih di tanggal 14 Februari itu, nanti dapat bekerja dengan penuh optimisme dan dapat dengan tenang dan suasana konstruktif dan damai dapat merealisasikan visi dan misi yang telah disusun.

Serta mulai mengimplementasikan berbagai program yang telah disusun, menuju Indonesia Emas 2045 nanti. Fakta bonus demography akan mewujud dan dibawah pimpinan beliau berdua, bangsa kita akan buktikan apakah bonus demography tersebut merupakan rahmat buat bangsa atau malah kutukan buat bangsa kita.

Bagaimana menjaga suasana damai, riang dan tanpa kebencian tersebut ? Opini penulis dibawah ini adalah opini yang datang dari common sense belaka tidak berdasarkan suatu anasisa sosial, apalagi psikososial yang valid.

Akan sangat menarik dan bermanfaat jika bisa dikemukakan oleh rekan-rekan dan para senior yang ahli dibidang tersebut. Berikut beberapa hal yang datang dari common sense dan sedikit pengalaman sosial, yang sebaiknya dijadikan pegangan agar suasana tersebut dapat tetap terjaga:

 

  1. Tidak memilih berdasarkan faktor emosional.

 Unsur yang dominan adalah aspek-aspek yang mempengaruhi emosi seperti unsur-unsur fisik, figure, ketampanan, kejantanan, kemudaan, gerakan-gerakan yang serasi serta gimmick yang menimbulkan rasa suka.

Itu adalah faktor-faktor emosional yang bisa memancing emosi-emosi lainnya seperti kebencian maupun cinta. Segregasi yang terjadi di tahun 2014 dan 2019 itu muncul karena faktor-faktor emosional yang lebih muncul secara dominan walaupun entry pointnya adalah identitas.

Dari sisi lain, faktor pendorong untuk memilih juga selayaknya tidak didasarkan pada kebencian atas Capres atau Paslon lainnya.

 

  1. Tidak memilih berdasarkan identitas.

Tidak memilih berdasarkan suku, agama, keturunan. Bukan karena suku, agama dan keturunan itu salah namun lebih karena pemilihan karena suku, agama, keturunan itu sangat mudah memancing emosi.

Karena siapapun biasanya sangat sensitive jika suku dan agamanya disinggung, khususnya oleh rekan yang berbeda pilihan dengannya.

Identitas juga akan sangat mudah memancing reaksi emosional yang bersifat masif. Apalagi dalam konstitusi kita, suku, agama dan keturunan bangsa apapun, sepanjang sudah menjadi warga negara Indonesia dan sah menjadi Capres, memiliki hak yang sama untuk dipilih dan memilih.

Jadi seruan untuk tidak memilih beradasarkan identitas ini lebih karena faktor emosional yang sangat mudah terpicu jika identitas menjadi tema perdebatan publik.

 

  1. Tidak memilih karena dibayar.

Ini level yang paling rendah dari tingkat kesadaran politik warga negara. Berapapun uang yang diterima tidak akan sebanding dengan pertaruhan nasib bangsa ke depan, jika pilihan itu salah.

Pasangan yang membayar rakyat untuk memilih mereka pasti bukan merupakan pasangan yang terbaik. Karena dari awal, sebelum dipilih mereka telah merendahkan martabat rakyatnya.

Suara rakyat mau dibeli dengan kekuatan uang mereka. Ini pasti bukan merupakan Paslon terbaik. Adalah juga fakta bahwa memang rakyat lagi susah dan uang sejumlah berapapun sangat bermanfaat buat rakyat yang menerima.

Ini sangat dipahami namun tidak bisa dijadikan alasan bahwa adalah sah membeli suara rakyat dengan uang receh dibandingkan dengan nasib bangsa seluruhnya.

Rekomendasinya adalah terimalah uang yang diberikan namun pastikan jangan memilih Paslon itu karena dari awal motivasinya sudah sangat buruk dan tidak bermoral.

Dia pasti bukan merupakan Paslon terbaik, siapapun Paslon yang membagi-bagikan uang receh tersebut dan dimanapun uang itu dibagikan. Paslon yang melakukan hal ini pasti merupakan Paslon yang tidak siap kalah bahkan mungkin siap ribut jika kalah.

 

  1. Paradigma yang digunakan adalah siapapun yang menang, merupakan kemenangan rakyat Indonesia seluruhnya.

Ini adalah paradigma dari warga negara yang siap menerima kenyataan bahwa Paslon yang didukungnya tidak terpilih dan siap untuk kemudian mendukung siapapun yang terpilih sebagai Presiden Republik ini oleh rakyat lewat proses Pemilu yang jurdil, jujur dan adil.

Paradigma ini sah berbasiskan keyakinan bahwa 3 Capres yang kita miliki saat ini adalah kader-kader terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, walau dengan catatan masa lalu yang berbeda serta catatan rekam jejak yang juga berbeda.

Keyakinan bahwa masing-masing kita adalah bagian dari rakyat Indonesia yang akan mendapatkan manfaat dari apapun yang dilakukan oleh Presiden terpilih nanti juga merupakan konsekuensi dari paradigma ini.

Sebagai kader terbaik bangsa, Capres yang terpiih tidak akan melakukan diskriminasi pembangunan untuk kelompok yang tidak memilih dia sekalipun. Ini juga yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi sebelumnya.

Provinsi-provinsi yang mayoritas penduduknya tidak memilih beliau, tidak ditinggalkan dalam proses pembangunan dalam masa pemerintahannya.

Karena itu jangan kuatir untuk berbeda pilihan, walaupun Paslon yang didukung menurut berbagai survey bakal kalah. Tetaplah konsisten dengan pilihanmu, pilihlah dengan damai dan riang dengan cara berpikir ini.

 

  1. Memilih dengan Pertimbangan Rasional.

Penulis merekomendasikan memilih dengan pertimbangan rasional dan tidak dengan pertimbangan fisik dan penampilan, tidak dengan pertimbangan identitas, juga tidak karena dibayar juga mengusulkan paradigma positif dan berani untuk bersikap berbeda.

Bagaimana tepatnya prinsip memilih secara rasional akan diuraikan dalam seri tulisan berikutnya. (bersambung)

 

BCU, 3 Maret 2023.

 

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Sukseskan Posyandu, Kadinkes Mimika Apresiasi Kerja Keras Jajaran Kesehatan

Sukseskan Posyandu, Kadinkes Mimika Apresiasi Kerja Keras Jajaran Kesehatan

11 September 2026
TSM Karang Senang Juara Lomba Posyandu Mimika, Kadinkes: Jangan Berhenti di Peringkat

TSM Karang Senang Juara Lomba Posyandu Mimika, Kadinkes: Jangan Berhenti di Peringkat

11 September 2026
Polisi Identifikasi Dua DPO Kasus Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

Polisi Identifikasi Dua DPO Kasus Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

11 September 2026
Ambulans Rusak, Polisi Antar Ibu Hamil Naik Motor Mengejar Pesawat ke Timika

Ambulans Rusak, Polisi Antar Ibu Hamil Naik Motor Mengejar Pesawat ke Timika

11 September 2026
WVI Dorong Kader Posyandu di Mimika Aktif Ingatkan Orangtua soal Imunisasi

WVI Dorong Kader Posyandu di Mimika Aktif Ingatkan Orangtua soal Imunisasi

11 September 2026
Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya, Polisi Kantongi Ciri-ciri Pelaku

Kader Posyandu Mimika Didorong Naik Kelas hingga Tingkat Nasional

11 September 2026

POPULER

  • Pertamina Sanksi 19 SPBU di Papua-Maluku, Dua di Antaranya di Mimika

    Bermodal Nomor Togel, 3 Pelaku Hipnotis Korban dan Kuras Uang di Sentani

    595 shares
    Bagikan 238 Tweet 149
  • Tiga Petugas Tewas Ditembak OTK Saat Distribusi Bahan Pangan di Jayawijaya

    568 shares
    Bagikan 227 Tweet 142
  • Polisi Beberkan Kronologi Penembakan Tiga Pegawai Dinas Pertanian di Jayawijaya

    560 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • Pria Ditemukan Tewas di Jalan Kelimutu Timika, Motor dan HP Diduga Dibawa Pelaku

    546 shares
    Bagikan 218 Tweet 137
  • 18 Koordinator KONI Distrik Dibentuk, Merlyn Dorong Pembinaan Atlet Mimika hingga Kampung

    530 shares
    Bagikan 212 Tweet 133
  • YLBH Papua Tengah Apresiasi Polres Mimika dan TNI Tertibkan 9 Warga di Kwamki Narama

    539 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Bupati Rettob Ungkap Hasil Profiling ASN Mimika, Mayoritas Masih Bernilai Rendah

    526 shares
    Bagikan 210 Tweet 132
Next Post
Alokasi Dana Pemdis Pedalaman dan Pesisir Diusulkan Rp10 Miliar  

Paripurna Penetapan APBD 2024 Direncanakan Pekan Depan, Robert: Besaran Rp7,5 Triliun akan Dievalusasi Kembali

Jelang Pileg 14 Februari, 35 Caleg Garuda Mimika Rapat Penguatan dan Koordinasi

Jelang Pileg 14 Februari, 35 Caleg Garuda Mimika Rapat Penguatan dan Koordinasi

Operasi Damai Cartenz Lanjut ke 2024, Sasaran Operasi Penegakan Hukum KKB dan KKP di Sembilan Kabupaten

Operasi Damai Cartenz Lanjut ke 2024, Sasaran Operasi Penegakan Hukum KKB dan KKP di Sembilan Kabupaten

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id