OPINI – Musim kemarau sedang berlangsung. Kebakaran hutan dan rawa-rawa kini terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Papua. Asap mengepul, api merambat cepat, dan yang terbakar bukan sekadar rumput atau pohon, melainkan bagian dari kehidupan yang selama ini menopang masyarakat.
Papua merupakan salah satu kawasan yang memiliki hutan dengan kekayaan hayati yang sangat besar. Hutan menyimpan sumber kehidupan, sementara rawa dan lahan gambut berperan penting dalam menahan air serta menyimpan karbon.
Namun, ketika kemarau semakin panjang dan suhu meningkat, kawasan tersebut semakin mudah terbakar. Sebagian kerusakan bahkan terjadi akibat aktivitas manusia.
Masih ada anggapan bahwa membakar sedikit lahan tidak akan menimbulkan masalah. Anggapan itu keliru. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat ke hutan, rawa, maupun lahan di sekitarnya.
Pada akhirnya, kita sendiri yang merasakan dampaknya ketika udara semakin panas, sungai semakin dangkal, dan sumber pangan semakin sulit diperoleh.
Jangan lagi membakar lahan untuk membuka kebun.
Membakar lahan memang terlihat sebagai cara yang mudah dan cepat. Namun, risikonya besar. Api dapat merambat ke hutan, rawa, atau lahan milik masyarakat lain.
Kondisi lingkungan sudah berubah. Hutan semakin berkurang, rawa semakin terancam, dan udara semakin kering. Apa yang mungkin dulu dianggap biasa, kini harus dipikirkan kembali.
Sebagai gantinya, pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menebas dan membersihkan secara perlahan tanpa menggunakan api. Cara ini mungkin lebih berat, tetapi jauh lebih aman bagi tanah dan lingkungan.
Jangan lagi mengeringkan rawa dan lahan gambut.
Rawa bukan sekadar tanah yang tergenang air. Rawa memiliki peran penting dalam menyimpan air saat hujan dan melepaskannya secara perlahan ketika musim kemarau.
Ketika rawa dikeringkan, tanah menjadi lebih mudah terbakar. Api bahkan dapat bertahan di dalam tanah dan sulit dipadamkan.
Karena itu, rawa harus tetap dijaga agar memiliki cukup air.
Pinggiran rawa dapat ditanami tanpa harus menguras airnya. Biarkan rawa tetap hidup karena keberadaannya memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Jangan membiarkan api menyala tanpa pengawasan.
Membakar sampah, menyalakan api unggun, atau meninggalkan sisa pembakaran tanpa memastikan api benar-benar padam dapat menjadi awal kebakaran.
Di musim kemarau, api kecil dapat berubah menjadi kebakaran besar ketika tertiup angin.
Jika memang harus menyalakan api, pastikan api terus diawasi hingga benar-benar padam. Siram dengan air dan pastikan tidak ada bara yang masih menyala sebelum meninggalkan lokasi.
Jangan berpikir bahwa kebakaran bukan urusan kita.
Asap tidak mengenal batas wilayah. Kerusakan di satu tempat dapat memberikan dampak bagi masyarakat di tempat lain.
Karena itu, ketika melihat kebakaran, kita perlu saling mengingatkan, melaporkan kepada pihak terkait, atau membantu memadamkan api jika kondisi memungkinkan. Tanah Papua adalah rumah kita bersama.
Jangan merusak hutan di tepi sungai dan bukit.
Pohon-pohon di sekitar sungai dan perbukitan memiliki peran penting dalam menahan tanah dan menjaga tata air. Jika kawasan tersebut terus dirusak, risiko banjir dan longsor dapat meningkat dan pada akhirnya mengancam kebun, rumah, bahkan keselamatan manusia.
Hutan di tepi sungai dan bukit harus dilindungi. Biarkan pohon tumbuh karena keberadaannya menjadi salah satu benteng alami yang menjaga kehidupan masyarakat.
Jika Kita Tetap Melakukannya
Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan dan tidak ada perubahan, dampaknya akan semakin terasa. Udara menjadi lebih panas dan tidak sehat. Anak-anak dan masyarakat dapat terkena dampak asap. Sumber pangan semakin berkurang, sungai semakin dangkal, sementara tanah menjadi tandus dan rapuh.
Yang lebih penting, kita berisiko kehilangan warisan bagi generasi mendatang.
Anak dan cucu kita berhak mendapatkan Tanah Papua yang hijau, sejuk, dan mampu memberikan kehidupan.
Mari Berubah Sekarang
Tuhan menitipkan Tanah Papua kepada kita bukan untuk dihancurkan, melainkan untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang baik.
Kita adalah penjaga, bukan pemilik mutlak.
Karena itu, mari berhenti membakar lahan. Jagalah rawa dan sisa hutan yang masih ada. Saling mengingatkan dengan cara yang baik, tetapi tetap teguh.
Tanam kembali kawasan yang telah gundul. Setiap pohon yang tumbuh adalah harapan bagi kehidupan yang lebih baik. Jangan menunggu sampai hutan habis, sungai mengering, dan tanah tidak lagi mampu memberikan kehidupan.
Saatnya berubah adalah sekarang.
Tanah Papua bukan milik kita semata. Ia adalah rumah yang memberi makan, tempat berlindung, sekaligus warisan yang harus dijaga dengan segenap hati.
Jika tanah dan lingkungan terjaga, kehidupan masyarakat juga akan lebih terjamin.bSemoga kita diberi kesadaran dan kekuatan untuk menjaga rumah kita sendiri. (*)









