ADVERTISEMENT
Minggu, Oktober 18, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Identity Crisis: Sebenarnya, Aku Ingin Menjadi Siapa?

Mengapa kita sering merasa tertinggal, kehilangan arah, dan mempertanyakan masa depan? Erik Erikson punya penjelasannya.

18 Oktober 2026
0
Identity Crisis: Sebenarnya, Aku Ingin Menjadi Siapa?

Erik Erikson, psikolog perkembangan yang memperkenalkan teori perkembangan psikososial melalui delapan tahap kehidupan manusia. (foto: ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Oleh: Jessica Elisabeth Putri Djoudi Moru

Mahasiswa S1 Psikologi, Universitas Negeri Surabaya

PERNAHKAH kamu merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya mulai meraih sesuatu dalam hidupnya? Ada yang berhasil menggapai impian, ada yang aktif mengikuti berbagai kegiatan, dan ada pula yang terlihat sudah memiliki gambaran tentang masa depannya. Sementara itu, kamu masih berusaha memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Apakah pilihan yang diambil sudah tepat? Apakah kita berada di jalan yang benar? Atau justru sedang membuang waktu ketika orang lain sudah melangkah lebih jauh?

Perasaan seperti ini bisa muncul ketika kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain. Terlebih ketika media sosial membuat kita mudah melihat berbagai keberhasilan teman sebaya. Tanpa sadar, kita mulai mengukur perkembangan diri berdasarkan sesuatu yang sebenarnya tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan orang lain.

Namun, apakah belum mengetahui arah hidup berarti kita gagal menjadi dewasa?

Ketika Bertumbuh Terasa Seperti Perlombaan

Baca Juga

Pasgat Gagalkan Pengiriman Cenderawasih Awetan dan Dua Telur Kasuari di Merauke

Satgas Damai Cartenz Temukan Ratusan Selongsong Peluru di Honai Intan Jaya

Sejak kecil, kita terbiasa mengenal berbagai target dalam kehidupan. Ada usia untuk masuk sekolah, lulus, melanjutkan pendidikan, dan mulai membangun karier. Meskipun tidak semua orang mengikuti urutan yang sama, lingkungan terkadang membuat kita merasa harus mencapai sesuatu pada waktu tertentu.

Akibatnya, ketika belum memiliki rencana yang jelas, kita bisa merasa tertinggal. Ketika pilihan yang diambil berbeda dari teman sebaya, kita mulai meragukan diri sendiri. Bahkan, tidak jarang kita memilih sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut dianggap tidak memiliki masa depan.

Padahal, perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai urutan yang kita bayangkan. Ada orang yang menemukan minatnya sejak dini, tetapi ada pula yang baru memahaminya setelah mencoba berbagai pengalaman. Sebagian orang merasa yakin dengan pilihan kariernya, sementara yang lain masih mempertimbangkan beberapa kemungkinan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa proses mengenali diri sendiri tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama. Menentukan arah hidup bukan hanya tentang memilih pekerjaan atau mencapai target tertentu, tetapi juga memahami nilai-nilai yang kita anggap penting, hal-hal yang diminati, dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani.

Erik Erikson dan Proses Menemukan Identitas

Dalam psikologi perkembangan, persoalan tersebut dapat dipahami melalui teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Ia menjelaskan delapan tahap perkembangan psikososial sepanjang kehidupan manusia. Setiap tahap memiliki tantangan yang berkaitan dengan perkembangan diri dan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya.

Salah satu tahap yang terkenal adalah identity versus role confusion, atau identitas versus kebingungan peran. Tahap ini terutama berkaitan dengan masa remaja, ketika seseorang mulai mempertanyakan siapa dirinya, apa yang diyakininya, serta peran apa yang ingin dijalani dalam kehidupan.

Pertanyaan seperti “Apa yang sebenarnya aku inginkan?”, “Apa yang penting bagiku?”, dan “Aku ingin menjadi orang seperti apa?” merupakan bagian dari proses pencarian identitas.

Proses ini tidak selalu berhenti ketika seseorang melewati masa remaja. Memasuki perguruan tinggi, menghadapi lingkungan baru, dan mulai mempertimbangkan karier dapat membuat seseorang kembali mengevaluasi pilihan serta pemahamannya tentang diri sendiri.

Misalnya, seorang mahasiswa yang sejak sekolah bercita-cita menekuni bidang tertentu mungkin mulai mempertanyakan pilihannya setelah menjalani perkuliahan. Ia kemudian menemukan minat baru atau menyadari bahwa hal yang dahulu dianggap penting ternyata tidak lagi sesuai dengan dirinya.

Perubahan tersebut tidak otomatis berarti ia gagal mengenali diri sendiri. Pengalaman baru justru dapat menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi pilihan dan membangun pemahaman yang lebih matang mengenai identitasnya.

Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri

Proses pencarian identitas juga berlangsung di tengah lingkungan sosial yang terus berubah. Salah satu hal yang dapat memengaruhinya adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, termasuk melalui media sosial.

Penelitian Noon dan rekan-rekannya (2021) yang melibatkan remaja dan dewasa awal di Rumania dan Serbia mengkaji hubungan perbandingan sosial di Instagram dengan proses perkembangan identitas. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut berbeda menurut usia dan proses identitas yang diteliti. Perbandingan sosial dapat mendorong seseorang untuk lebih memikirkan dirinya sendiri dan mengeksplorasi identitas, tetapi pengaruhnya tidak selalu sama bagi setiap individu.

Temuan ini memberikan sudut pandang yang menarik. Melihat pencapaian orang lain tidak selalu berdampak buruk. Kita bisa memperoleh inspirasi, mengenali minat baru, atau menemukan tujuan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Namun, perbandingan juga dapat membuat kita mempertanyakan pilihan sendiri apabila pencapaian orang lain dijadikan ukuran mutlak keberhasilan.

Masalahnya bukan karena orang lain terlihat lebih maju, melainkan ketika kita mulai menganggap bahwa perjalanan mereka merupakan standar yang wajib kita ikuti.

Padahal, unggahan di media sosial hanya memperlihatkan sebagian dari kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat keberhasilannya tanpa mengetahui proses, keraguan, atau kesulitan yang menyertainya. Karena itu, membandingkan keseluruhan perjalanan diri sendiri dengan potongan kehidupan orang lain dapat menghasilkan penilaian yang tidak seimbang.

Belum Menemukan Jawaban Bukan Berarti Gagal

Menurut Erik Erikson, perkembangan manusia berlangsung melalui delapan tahap psikososial, yang masing-masing memiliki tantangan dalam membentuk diri dan menghadapi kehidupan.

Salah satunya adalah identity vs. role confusion, yaitu tahap ketika seseorang berusaha menemukan jati diri dan menentukan arah hidupnya. Namun, proses mengenal diri tidak selalu selesai pada satu tahap atau berjalan sesuai harapan.

Merasa bingung tentang masa depan bukan berarti kita gagal berkembang. Kita masih bisa mencoba hal baru, mengevaluasi pilihan, dan belajar dari pengalaman untuk memahami apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.

Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semua jawaban sekarang. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktu yang berbeda untuk menemukan arah hidupnya.

Sebab, bertumbuh bukan tentang siapa yang paling cepat menemukan tujuan, melainkan tentang bagaimana kita terus belajar memahami diri sendiri dan menentukan kehidupan yang ingin kita jalani. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Waspada Influenza! Kenali 8 Gejala dan Cara Mencegahnya

Waspada Influenza! Kenali 8 Gejala dan Cara Mencegahnya

18 Oktober 2026
Identity Crisis: Sebenarnya, Aku Ingin Menjadi Siapa?

Identity Crisis: Sebenarnya, Aku Ingin Menjadi Siapa?

18 Oktober 2026
Pasgat Gagalkan Pengiriman Cenderawasih Awetan dan Dua Telur Kasuari di Merauke

Pasgat Gagalkan Pengiriman Cenderawasih Awetan dan Dua Telur Kasuari di Merauke

18 Oktober 2026
Satgas Damai Cartenz Temukan Ratusan Selongsong Peluru di Honai Intan Jaya

Satgas Damai Cartenz Temukan Ratusan Selongsong Peluru di Honai Intan Jaya

18 Oktober 2026
Polisi Resmikan Pos Peka Saipa 01 di Jalan Leo Mamiri Mimika, Ajak Warga Jaga Keamanan

Polisi Resmikan Pos Peka Saipa 01 di Jalan Leo Mamiri Mimika, Ajak Warga Jaga Keamanan

18 Oktober 2026
Setahun Berdiri, SR 76 Mimika Ukir Prestasi hingga Tingkat Provinsi

Setahun Berdiri, SR 76 Mimika Ukir Prestasi hingga Tingkat Provinsi

17 Oktober 2026

POPULER

  • Pastor Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Dasar Kolam Renang Kuala Kencana, Nyawanya Tak Tertolong

    Pastor Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Dasar Kolam Renang Kuala Kencana, Nyawanya Tak Tertolong

    630 shares
    Bagikan 252 Tweet 158
  • Eme Neme Yauware Memanggil: Seruan Mengakhiri Perang Dari Tugu Perdamaian Kota Timika

    534 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Dua OTK Bacok ASN Pemkab Yahukimo di Dekai, Korban Luka di Tangan dan Punggung

    526 shares
    Bagikan 210 Tweet 132
  • Dua Orang Diamankan Terkait Pembunuhan di Yahukimo, Satu Tewas Ditembak Polisi

    523 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
  • Hendak Dikirim ke Wamena, Dua Optik Pengintai Malam Diamankan di Bandara Sentani

    519 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
  • Anggota Satgas TNI Ditemukan Tewas di Kuala Kencana, Ada Luka Tembak di Dada

    808 shares
    Bagikan 323 Tweet 202
  • Sem Bukaleng Apresiasi Perhatian Pemkab Mimika pada Adat Amungme

    516 shares
    Bagikan 206 Tweet 129
Next Post
Waspada Influenza! Kenali 8 Gejala dan Cara Mencegahnya

Waspada Influenza! Kenali 8 Gejala dan Cara Mencegahnya

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id