TIMIKA, Koranpapua.id – Sebanyak 11 ibu meninggal di Kabupaten Mimika sepanjang Januari hingga Juni 2026. Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika meminta risiko kehamilan dideteksi lebih awal agar komplikasi tidak terlambat ditangani.
Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Carolina Heatubun, mengatakan angka tersebut menjadi peringatan bahwa pemeriksaan kehamilan tidak boleh dilakukan ketika kondisi ibu sudah memburuk.
Hal itu disampaikan Carolina dalam Seminar Kesehatan Reproduksi dan Peran Masyarakat dalam Mengenali Risiko Kehamilan serta Mencegah Kematian Ibu dan Bayi di Balai Distrik Iwaka, Kamis 3 September 2026.
Seminar tersebut diikuti tujuh kepala kampung, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, perempuan, kader Posyandu, Penggerak PKK, serta unsur pelayanan kesehatan di Distrik Iwaka.
Carolina mengatakan, 11 kematian ibu tersebut merupakan data yang dilaporkan puskesmas kepada Dinas Kesehatan. Jumlah itu masih mungkin bertambah karena terdapat kemungkinan kematian ibu yang belum terlaporkan.
“Bayangkan baru setengah tahun itu sudah ada 11 ibu. Ini yang baru terlaporkan. Kami tidak tahu mungkin ada lagi kematian di tempat-tempat lain,” kata Carolina.
Menurut Carolina, kematian ibu berkaitan dengan komplikasi maupun penyakit non-obstetri yang berhubungan dengan kondisi kehamilan. Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sejak sebelum kehamilan, bukan ketika kondisi ibu sudah berat.
“Bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau bidang kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
Di Distrik Iwaka, dari 188 ibu hamil yang menjadi sasaran, baru 85 orang atau 45,2 persen yang tercatat mengakses pelayanan kesehatan.
Sementara itu, ibu hamil yang telah mencapai kunjungan pemeriksaan kehamilan keenam baru 33 orang atau 17,6 persen. Padahal, pemeriksaan kehamilan dianjurkan dilakukan enam kali, termasuk dua kali pemeriksaan oleh dokter dan USG.
“Yang kami harapkan adalah 100 persen, semua ibu harus mengakses pelayanan kesehatan,” kata Carolina.
Dinas Kesehatan juga mencatat 25 ibu hamil di Iwaka memiliki faktor risiko 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering hamil atau jarak kehamilan terlalu dekat, serta terlalu banyak anak.
Selain itu, 17 ibu hamil tercatat mengalami anemia dan 11 lainnya mengalami kekurangan energi kronis.
Carolina mengatakan deteksi dini penting agar kondisi tersebut segera ditangani. Pemeriksaan di Posyandu, termasuk pengukuran lingkar lengan atas (LILA), dapat membantu mendeteksi ibu yang mengalami kekurangan gizi.
Dinas Kesehatan juga telah membekali puskesmas dengan alat USG dan tenaga dokter yang terlatih. Fasilitas tersebut diharapkan membuat pemeriksaan kehamilan lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Kalau di Posyandu dia hanya diperiksa, tetapi kalau ke Puskesmas dia akan diperiksa oleh dokter dan USG dua kali,” ujarnya.
Menurut Carolina, USG diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan kelainan atau komplikasi sejak dini. Dengan begitu, tenaga kesehatan memiliki waktu untuk melakukan penanganan atau rujukan jika diperlukan.
Ia meminta masyarakat tidak menunggu hingga perut ibu hamil membesar atau kondisi memburuk baru membawa mereka ke fasilitas kesehatan.
“Jadi sejak dini kita temukan, kita mencegah supaya jangan sampai terjadi komplikasi yang berat,” katanya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









