TIMIKA, Koranpapua.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika meminta masyarakat tidak menunggu ibu hamil mengalami komplikasi untuk mencari pertolongan. Pencegahan kematian ibu dan bayi harus dimulai sejak sebelum kehamilan hingga masa kehamilan.
Pesan itu disampaikan dalam Seminar Kesehatan Reproduksi dan Peran Masyarakat dalam Mengenali Risiko Kehamilan serta Mencegah Kematian Ibu dan Bayi di Balai Distrik Iwaka, Kamis 3 September 2026.
Seminar diikuti tujuh kepala kampung, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, perempuan, kader Posyandu, Tim Penggerak PKK serta tenaga kesehatan di Wilayah itu.
Dinas Kesehatan menghadirkan dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Leonard Pardede, sebagai narasumber.
Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas Dinkes Mimika, Carolina Heatubun, mengatakan pencegahan kematian ibu bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat.
“Bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau bidang kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Carolina mewakili Kepala Dinas Kesehatan.
Berdasarkan laporan puskesmas, terdapat 11 kematian ibu di Mimika sepanjang Januari hingga Juni 2026. Sementara di Distrik Iwaka, dari 188 ibu hamil yang menjadi sasaran, baru 85 orang atau 45,2 persen yang tercatat mengakses pemeriksaan kehamilan.
“Yang kami harapkan adalah 100 persen, semua ibu harus mengakses pelayanan kesehatan,” kata Carolina.
Dinkes juga mencatat 25 ibu hamil dengan faktor risiko 4T, 17 ibu mengalami anemia dan 11 ibu mengalami kekurangan energi kronis. Kondisi tersebut dinilai harus ditemukan lebih awal agar dapat segera ditangani.
Carolina mengatakan puskesmas telah dibekali peralatan USG dan tenaga dokter terlatih untuk membantu mendeteksi risiko kehamilan.
Ia juga meminta kader Posyandu, kepala kampung, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat ikut memastikan ibu hamil terdata serta mendapat pemeriksaan sejak awal.
“Rata-rata ibu-ibu, saudara-saudara kami ini, mereka datang periksa kalau perutnya sudah besar, itu pun kalau ditemukan oleh petugas kesehatan,” katanya.
Selain pemeriksaan, Carolina menekankan pentingnya kecepatan dalam proses rujukan ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Jangan sampai sudah parah sekali baru kita rujuk ke puskesmas,” pesannya.

Peserta Diminta Bawa Pulang Pengetahuan
Sekretaris Distrik Iwaka, Dewi Ratih yang mewakili pemerintah distrik menilai seminar tersebut penting karena peserta merupakan bagian dari masyarakat yang dapat membantu menyebarkan informasi kesehatan hingga ke kampung.
“Jadi sekali lagi kami harap kepada kita semua untuk mendengarkan apa yang disampaikan. Kami berharap bapak ibu mengikuti sampai selesai sehingga dapat disampaikan ke teman-teman sekitar kita,” katanya.
Para kepala kampung dan peserta lainnya juga diharapkan tidak berhenti pada mengikuti seminar, tetapi ikut mengawal ibu hamil di wilayah masing-masing, mulai dari pendataan, pemeriksaan rutin hingga memastikan ibu mendapatkan pertolongan dan rujukan ketika mengalami risiko.
Carolina berharap kegiatan tersebut menghasilkan komitmen bersama di tingkat kampung dan keluarga.
“Untuk itu kami harapkan mari kita bangun komitmen bersama, setiap kehamilan harus kita persiapkan, setiap ibu hamil harus kita dampingi, setiap risiko harus kita tindak lanjuti, dan setiap kegawatdaruratan harus segera dapat pertolongan,” ujar Carolina. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









