TIMIKA, Koranpapua.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar Pertemuan Sosialisasi dan Advokasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis dan Kecacingan Tahun 2026, Senin 13 Juli 2026.
Kegiatan ini digelar sebagai langkah memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya menekan angka kecacingan yang masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat, khususnya pada Balita dan anak usia sekolah.
Pertemuan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Dr. Sisma HL, S.ST., Bd., M.Keb, diikuti oleh 26 Kepala Puskesmas se-Kabupaten Mimika, perwakilan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama Kabupaten Mimika, serta jajaran Dinas Kesehatan.
Dalam sambutannya, Dr. Sisma menegaskan bahwa keberhasilan program POPM tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan agar cakupan pemberian obat cacing dapat mencapai target nasional.
“Keterlibatan sekolah, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga keluarga sangat menentukan keberhasilan program ini. Semakin tinggi cakupan pemberian obat, semakin besar peluang kita memutus rantai penularan kecacingan di Mimika,” ujarnya.
Pada sesi pemaparan materi, Regina Areim, S.ST., M.H. menjelaskan kebijakan nasional terkait program pengendalian kecacingan serta strategi implementasinya di daerah.
Sementara itu, Kepala Seksi P2M Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin, S.Kep., Ns., memaparkan perkembangan capaian program POPM kecacingan di Kabupaten Mimika.
Ia menyebutkan bahwa pada Februari 2026, sebanyak 50.171 anak atau 81,6 persen dari target 61.472 anak usia 1–12 tahun telah memperoleh obat cacing.
Meski capaian tersebut tergolong baik, angka itu masih berada di bawah target nasional sebesar 95 persen.
Sebelumnya, pada Februari 2025 cakupan POPM mencapai 45.190 anak atau 82,5 persen dari target 54.799 anak, sedangkan pada Agustus 2025 sebanyak 46.485 anak atau 81,9 persen dari target 56.778 anak menerima obat cacing.
Narasumber berikutnya, dr. Susana Namsa, MKM, menyoroti dampak infeksi kecacingan terhadap tumbuh kembang anak.
Menurutnya, kecacingan tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan karena dapat mengganggu penyerapan zat gizi dan vitamin penting yang dibutuhkan tubuh.
“Kecacingan berkaitan erat dengan malnutrisi, anemia, hingga keterlambatan pertumbuhan atau stunting. Pencegahan sejak dini merupakan investasi penting bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan,” jelasnya.
Kecacingan Berkontribusi terhadap Stunting
Dinas Kesehatan Mimika juga menemukan bahwa kecacingan masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu mendapat perhatian serius.
Penyakit ini banyak menyerang Balita dan anak usia sekolah, bahkan diperkirakan berkontribusi hingga 40 persen terhadap kasus stunting.
Karena itu, pemerintah melalui program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) menargetkan penurunan prevalensi kecacingan hingga di bawah 10 persen sehingga penyakit tersebut tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Sejak tahun 2025, pelaksanaan POPM kecacingan tidak lagi digabung dengan program filariasis.
Kini kegiatan dilakukan secara mandiri pada Februari dan Agustus bersamaan dengan pemberian Vitamin A sehingga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan bagi anak-anak.
Perkuat Kolaborasi untuk Capai Target Nasional
Melalui pertemuan sosialisasi dan advokasi ini, Dinkes Mimika menargetkan meningkatnya dukungan lintas sektor, kesamaan persepsi seluruh pemangku kepentingan, serta meningkatnya cakupan pemberian obat cacing hingga minimal 95 persen.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat edukasi kepada masyarakat dan memutus rantai penularan kecacingan.
Termasuk mengoptimalkan integrasi program pemberian obat cacing dengan distribusi Vitamin A di seluruh Puskesmas di Kabupaten Mimika.
Pertemuan berlangsung dengan metode presentasi dan diskusi interaktif, sehingga seluruh peserta dapat menyampaikan masukan dan menyusun strategi bersama dalam menyukseskan pelaksanaan POPM Kecacingan Tahun 2026 di Kabupaten Mimika. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru







