MERAUKE, Koranpapua.id- Penguatan institusi keluarga melalui pernikahan yang sah menjadi langkah penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Karena untuk mewujudkan cita-cita Indonesia mencapai Generasi Emas 2045 hanya dapat tercapai apabila pembangunan keluarga berjalan dengan baik.
“Kalau kita tidak memperkuat keluarga sejak sekarang, maka yang lahir bukan Generasi Emas, tetapi generasi yang jauh dari harapan,” ujar Wakil Gubernur Papua Selatan ketika membuka acara penyerahan simbolis sertifikat nikah dan akta nikah di Merauke, Sabtu 27 Juni 2026.
Menurut Wagub Paskalis, melalui keluarga akan menjadi embrio utama dalam membentuk anak-anak yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak baik.
Pelaksanaan pernikahan yang sah secara agama maupun negara, termasuk penerbitan akta nikah, merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan keluarga, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi setiap pasangan suami istri.
“Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama dalam membentuk karakter anak,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Wagub Paskalis juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI yang berkenan hadir dalam kegiatan itu.
Menurutnya, perhatian pemerintah pusat terhadap pembangunan keluarga menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah paling timur Indonesia.
Wagub Paskalis juga mengatakan, Papua Selatan masih menghadapi berbagai tantangan di bidang pendidikan.
Di antaranya masih ditemukannya kasus buta huruf, buta baca, dan buta hitung. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia.
“Masih ada fenomena seseorang memiliki ijazah, tetapi mengalami kesulitan membaca dan merangkai kalimat. Ini menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama,”katanya.
Selain itu, Wagub Paskalis juga menyoroti munculnya fenomena yang disebutnya sebagai ‘anak-anak Aibon’, yaitu kondisi ketika penggunaan gawai mulai memengaruhi pola pendidikan dan pembinaan anak dalam keluarga.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan.
Peran keluarga tetap menjadi faktor yang paling menentukan dalam membentuk karakter dan masa depan anak.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Masjid, gereja, maupun tempat anak belajar nilai-nilai kehidupan adalah keluarga. Kalau fondasi dalam keluarga lemah, maka akan sulit melahirkan generasi yang berkualitas,”ujarnya. (Redaksi)







