ADVERTISEMENT
Rabu, April 29, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Dari Benang ke Harapan: Perjalanan Inspiratif Mama Paustina Menjaga Budaya Papua

Dengan jalan itu pemerintah juga membangun rumah produksi UMKM Timika di atas tanah yang ia beli dari hasil penjualan noken. Namun, akses jalan menuju tempat tersebut masih menjadi tantangan tersendiri.

9 Desember 2025
0
WVI Bekerjasama Freeport dan Dinkes Mimika Gelar Diseminasi Hasil Penilaian Strata Kader Kesehatan, 27 Kader Dinyatakan Lulus

Mama Paustina Mote, menata Noken jualannya yang ia jahit sendiri (foto:Hayun Nuhuyanan/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id– Di tengah kesibukan Kota Timika, sosok Mama Paustina Mote tetap berdiri sebagai penjaga warisan budaya Papua.

Selama lebih dari 20 tahun, perempuan ini mendedikasikan hidupnya sebagai pengrajin noken dan aksesori khas Papua.

ADVERTISEMENT

Sejak memilih jalur ini pada 2002, mama Paustina terus berkarya dengan ketekunan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Meski kini sudah bernaung di bawah UMKM Timika, namun Ia   tetap setia pada cara kerja lamanya, sederhana, tekun, dan penuh cinta pada budaya leluhur.

Baca Juga

Empat Bulan, Dua Ton Sopi Tanpa Pemilik Masuk Mimika

RS Waa Banti Terancam Amruk, Pemkab dan Freeport Percepat Penanganan Longsor

Ketelatenan dan Keahlian yang Terus Melekat

Di antara tumpukan benang, kulit kayu, dan warna-warna khas Papua, Mama Paustina mengerjakan seluruh proses pembuatan noken seorang diri.

Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan dua hingga tiga kantong HP, sementara noken dari kulit kayu membutuhkan waktu sekitar satu setengah hari.

Jika pesanan meningkat, dalam sebulan ia dapat menghasilkan 10 hingga 20 noken bahkan meminta temannya yang lain untuk menjual.

“Kalau ada yang pesan noken banyak saya ambil disana (sekitar graha Eme Neme Yauware), bukan saya kasih saya punya saja tidak,” ujarnya Senin 8 Desember 2025.

Untuk membuat baju dengan motif rumit seperti Cendrawasih, proses pengerjaan bisa memakan waktu hingga tiga minggu karena permainan warna yang berlapis.

Yang membuatnya unik, Mama Paustina tidak pernah menggunakan pola. Setiap motif lahir dari ingatan dan naluri yang telah menyatu dengan tangannya.

“Tidak lihat gambar dan tidak lihat warna, hanya main pikiran saja,” ucapnya sambil tersenyum.

Dari Trotoar hingga Masuk UMKM

Perjalanan usahanya dimulai sejak tahun 2002 bahkan sebelum peristiwa kebakaran di Pasar Swadaya Timika (Pasar Lama) di Jalan Yos Sudarso dan pada 2020.

Dan bertepatan dengan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON), Ia resmi terdaftar sebagai pelaku UMKM Dinas Koperasi Mimika.

Dibawah naungan itu dukungan pemerintah mulai mengalir melalui Dinas Koperasi, termasuk bantuan alat pintal yang kini masih dipelajari.

Prestasinya tak berhenti di situ, Mama Paustina pernah meraih juara pertama dalam pelatihan alat pintal yang digelar Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika.

“Saya pelatihan di SP 12, saya juara satu dapat hadiah alat pintal. Tapi alat pintal yang besar, jadi saya agak sulit kerja,” ungkapnya.

Dengan jalan itu pemerintah juga membangun rumah produksi UMKM Timika di atas tanah yang ia beli dari hasil penjualan noken. Namun, akses jalan menuju tempat tersebut masih menjadi tantangan tersendiri.

Pasar, Pelanggan, dan Filosofi “Jangan Putus Tali”

Karya Mama Paustina tak hanya diminati masyarakat umum, tetapi juga kerap menjadi oleh-oleh favorit anggota kepolisian.

Ketika ditanya apa yang membuatnya tetap bertahan, mama Paustina menjawab mantap, “Saya mempertahankan asli Papua.”

Ia memegang sebuah filosofi sederhana yang selalu menuntunnya: “Jangan putus tali.” Dalam bahasa Deiyai, (Mogeyagamo) ungkapan itu berarti jangan melepaskan hubungan dengan pekerjaan, usaha, maupun rezeki.

Karena menurutnya, selama tali itu tetap terikat, semangat berkarya pun terus menyala.

Harga dan Proses Produksi

Mama Paustina menetapkan harga berdasarkan ukuran dan tingkat kerumitan produk, mulai dari kantung kecil seharga Rp50 ribu, noken besar Rp500 ribu, hingga noken premium jenis Anggrek yang mencapai Rp2,5 juta – Rp3 juta.

Untuk baju motif Papua, membutuhkan sekitar dua minggu pengerjaan, sementara paket baju dengan noken bisa dibanderol hingga Rp1,5 juta.

“Kalau yang mahal, bisa dua hari, tiga hari baru jadi satu baju,” katanya merendah.

Harapan Seorang Penjaga Tradisi

Meski bersyukur atas dukungan pemerintah, Mama Paustina berharap ada pelatihan lanjutan, agar ia dan rekan lainya semakin mahir menggunakan alat pintal besar dan mampu meningkatkan hasil produksi.

Sebab baginya, berkarya bukan hanya soal menghasilkan barang, tetapi menjaga tali warisan budaya agar tidak terputus.

Dan selama tali itu masih terikat kuat, Mama Paustina Mote akan terus menenun kisahnya satu noken, satu motif, satu warisan Papua yang lahir dari ketulusan tangannya. (*)

Penulis: Hayun Nuhuyanan

Editor: Marthen LL Moru

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Empat Bulan, Dua Ton Sopi Tanpa Pemilik Masuk Mimika

Empat Bulan, Dua Ton Sopi Tanpa Pemilik Masuk Mimika

28 April 2026
KKB Tembak Warga Sipil di Yahukimo, Terluka Bagian Leher, Korban Dirujuk ke Jayapura

KKB Tembak Warga Sipil di Yahukimo, Terluka Bagian Leher, Korban Dirujuk ke Jayapura

28 April 2026
RS Waa Banti Terancam Amruk, Pemkab dan Freeport Percepat Penanganan Longsor

RS Waa Banti Terancam Amruk, Pemkab dan Freeport Percepat Penanganan Longsor

28 April 2026
Riswandy Jemaah Haji Termuda asal Mimika: Usia 18 Tahun, Gantikan Almarhum Ayah

Riswandy Jemaah Haji Termuda asal Mimika: Usia 18 Tahun, Gantikan Almarhum Ayah

28 April 2026
Polda Papua Bongkar Mafia BBM Subsidi, Ini Modus Operandi para Pelaku

Polda Papua Bongkar Mafia BBM Subsidi, Ini Modus Operandi para Pelaku

28 April 2026
Dukung Program Perumahan, Mendagri Ajak Pemda di Papua Perkuat Kolaborasi

Dukung Program Perumahan, Mendagri Ajak Pemda di Papua Perkuat Kolaborasi

28 April 2026

POPULER

  • Atasi Ketimpangan Tenaga Pengajar, Disdik Mimika Atur Penempatan Guru Demi Pemerataan

    Atasi Ketimpangan Tenaga Pengajar, Disdik Mimika Atur Penempatan Guru Demi Pemerataan

    637 shares
    Bagikan 255 Tweet 159
  • Yones Yohame Tewas di Depan Rumahnya, Aparat Gabungan Buru Anggota OPM Pelaku Penembakan

    545 shares
    Bagikan 218 Tweet 136
  • Sekuriti Hotel Rylich Panorama Tewas Ditikam OTK

    545 shares
    Bagikan 218 Tweet 136
  • Akses Masuk ke Halaman Gereja Katedral Timika Diperketat, Ini Alasannya

    544 shares
    Bagikan 218 Tweet 136
  • 30 Personel Brimob Dikerahkan Kejar Buronan Kasus Pembunuhan Dua Marinir

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • SK LMHA Belum Bisa Terbit, Bupati Johannes Rettob: Diperbaiki atau Musda Ulang

    590 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • Senator Perempuan di DPR PT Kritik Kunjungan Wapres Gibran ke Tanah Papua

    522 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
Next Post
Sakit Hati Berujung Tragedi, Polisi Ungkap Motif Pria Dibakar di Tanah Kosong Timika

Sakit Hati Berujung Tragedi, Polisi Ungkap Motif Pria Dibakar di Tanah Kosong Timika

AKBP Billyandha Tegaskan Komitmen Ungkap Tiga Kasus Pembunuhan Beruntun di Timika

AKBP Billyandha Tegaskan Komitmen Ungkap Tiga Kasus Pembunuhan Beruntun di Timika

Wabup Emanuel Lantik PPIHD Mimika 2025–2030, Tekankan Pelayanan Prima bagi Jamaah Haji

Wabup Emanuel Lantik PPIHD Mimika 2025–2030, Tekankan Pelayanan Prima bagi Jamaah Haji

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id