TIMIKA, Koranpapua.id – Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika, terus memperkuat program pendidikan untuk membentuk anak-anak Papua yang mandiri, berkarakter dan mampu bersaing hingga tingkat global.
Kepala Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), Sonianto Kuddi, mengatakan pendidikan di sekolah tersebut dirancang sejak kelas I dengan pendekatan yang menyesuaikan karakter dan kebutuhan anak-anak Papua.
Hal itu disampaikan Sonianto saat diwawancarai wartawan koranpapua.id di ruang kerjanya, Sabtu 15 Agustus 2026.
Menurutnya, salah satu program unggulan di kelas I adalah Montessori, yakni metode pembelajaran yang mendorong anak belajar sambil melakukan melalui berbagai aparatus atau alat pembelajaran.
“Anak-anak belajar sambil melakukan. Jadi mereka tidak hanya duduk diam mendengarkan ceramah. Motoriknya aktif dan mereka justru merasa betah di kelas,” jelas Sonianto.
Program tersebut dinilai sangat sesuai karena sebagian besar siswa Taruna Papua berasal dari wilayah pesisir dan pegunungan yang banyak tidak melalui pendidikan taman kanak-kanak (TK).
Karena itu, pendekatan Montessori digunakan untuk membantu mereka beradaptasi sekaligus membangun kemandirian sejak dini.
“Sekarang anak-anak kelas I malah kadang tidak mau istirahat. Mereka maunya belajar terus. Ini menunjukkan programnya cocok dengan karakter anak,” ujarnya.
Memasuki jenjang berikutnya, Taruna Papua juga mulai menerapkan kurikulum internasional yang disandingkan dengan Kurikulum Merdeka. Program tersebut mulai dijalankan sejak Juli 2026.
Dengan kombinasi tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran sesuai kurikulum nasional, tetapi juga dipersiapkan memiliki kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah bertaraf internasional, baik di dalam maupun luar negeri.
“Visi kami adalah anak-anak ini mampu bersaing dan berkompetisi secara global,” tegasnya.
Selain akademik, Sonianto menekankan bahwa pembentukan karakter menjadi fondasi utama pendidikan di Taruna Papua.
Kehidupan asrama menjadi bagian dari proses tersebut, mulai dari bangun pagi, merapikan tempat tidur, mengikuti aturan hingga kembali beraktivitas di sekolah.
Menurutnya, kedisiplinan menjadi tantangan tersendiri dalam sistem sekolah berasrama. Namun, siswa terus dibimbing agar mampu beradaptasi dengan kehidupan bersama dan aturan yang berlaku.
Dalam penerapan program baru, pihak sekolah juga tidak ingin terburu-buru. Guru dipersiapkan jauh sebelum program dijalankan, sementara siswa diberikan kelas persiapan untuk meningkatkan kemampuan, termasuk bahasa Inggris.
“Guru-guru sudah kami persiapkan satu tahun sebelum program dimulai. Anak-anak juga diberikan kelas bayangan agar mereka siap menerima program baru,” katanya.
Dibiayai YPMAK, Prestasi Alumni Menembus Luar Negeri
Sonianto menjelaskan, siswa yang belajar di Taruna Papua merupakan anak-anak yang direkomendasikan melalui YPMAK, lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Ia menyampaikan apresiasi kepada YPMAK atas dukungan yang diberikan terhadap pendidikan dan kehidupan asrama para siswa selama belajar di sekolah tersebut.
Dukungan tersebut juga mulai terlihat dari capaian para alumni. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah lulusan Taruna Papua berhasil melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Pada 2025, dua lulusan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sementara pada 2026, tiga lulusan kembali mendapat kesempatan melanjutkan studi ke Amerika Serikat.
Bagi Sonianto, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus bukti bahwa pembinaan yang dilakukan selama ini memberikan hasil.
“Kami sangat bangga. Kami bekerja keras, khususnya di asrama yang membutuhkan pendampingan 24 jam,” ungkapnya.
Menurutnya, ketika anak-anak berprestasi secara akademik, olahraga, maupun bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri, itu menjadi feedback bahwa kerja pihak sekolah tidak sia-sia.
Ia berharap berbagai program yang terus dikembangkan Taruna Papua dapat semakin membuka kesempatan bagi anak-anak Papua untuk memperoleh pendidikan berkualitas.
Dengan demikian maka anak-anak Papua pada akhirnya mampu berdiri sejajar serta bersaing dengan generasi muda dari berbagai negara. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru








