TIMIKA, Koranpapua.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mengklaim sebanyak 50.171 anak telah mengikuti Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan.
Meski demikian, capaian program tersebut masih bertahan di angka 81% selama dua tahun berturut-turut dan belum mampu mencapai target nasional sebesar 95%.
Apa menjadi kendalanya? Berikut penjelasan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin, S.Kep., Ns.
Kepada Koranpapua.id, Kamaludin mengakui masih terdapat tantangan besar dalam meningkatkan cakupan program, meski berbagai upaya sosialisasi dan promosi kesehatan telah dilakukan.
Menurut Kamaludin, berdasarkan laporan yang dihimpun dari seluruh Puskesmas di Mimika, sebanyak 50.171 anak telah menerima obat cacing.
“Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan, mulai dari sosialisasi, promosi kesehatan, bersurat ke Dinas Pendidikan, hingga mengintegrasikan program ini dengan kegiatan Posyandu, pemberian Vitamin A, dan UKS di sekolah,” ujar Kamaluddin.
Kamaluddin yang ditemui usai menghadiri Pertemuan Sosialisasi dan Advokasi Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis dan Kecacingan Tahun 2026, Senin 13 Juli 2026 mengatakan, berbagai langkah tersebut belum mampu mendongkrak capaian hingga memenuhi target nasional.
“Kami memang belum bisa mencapai angka 95 persen. Harapan kami melalui pertemuan hari ini ada dampak positif sehingga cakupannya bisa meningkat,” imbuhnya.
Ia berharap pihak sekolah semakin menerima program ini karena pada dasarnya pemberian obat cacing sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Kendala Bukan Kekurangan Obat
Kamaludin menegaskan bahwa rendahnya cakupan bukan disebabkan oleh keterbatasan logistik.
Menurutnya, stok obat cacing yang disediakan pemerintah selama ini mencukupi dan telah didistribusikan ke seluruh Puskesmas.
“Logistik tidak menjadi masalah. Obat tersedia dan teman-teman di lapangan juga sudah berupaya menjangkau seluruh sasaran,” jelasnya.
Tantangannya justru bagaimana meningkatkan promosi kesehatan agar masyarakat semakin memahami pentingnya program ini.
Ia berharap kerja sama dengan Dinas Pendidikan semakin diperkuat agar seluruh sekolah dapat mendukung pelaksanaan POPM secara maksimal.
Obat Diminum di Depan Petugas
Dalam pelaksanaannya, pemberian obat dilakukan kepada anak usia 1 hingga 12 tahun.
Anak usia sekolah menerima obat melalui sekolah, sedangkan Balita dan anak pra-sekolah mendapatkannya di Posyandu.
Untuk memastikan obat benar-benar dikonsumsi, petugas menerapkan metode Directly Observed Treatment (DOT) atau diminum langsung di hadapan petugas kesehatan.
“Sebagian besar anak minum obat langsung di depan petugas. Tetapi kalau ada anak yang takut atau sulit minum obat, obat bisa dibawa pulang oleh orang tua atau guru dengan pengawasan melalui video call sebagai bukti bahwa obat benar-benar diminum,” terang Kamaludin.
Tidak Ada Anggaran Khusus
Terkait pembiayaan, Kamaludin menjelaskan bahwa POPM Kecacingan tidak memiliki anggaran operasional tersendiri karena telah menjadi bagian dari program rutin Dinas Kesehatan.
Pelaksanaannya diintegrasikan dengan berbagai kegiatan pelayanan kesehatan seperti Posyandu, UKS, dan pelayanan kesehatan rutin di Puskesmas.
“Karena ini program rutin, maka pelaksanaannya diintegrasikan dengan kegiatan yang sudah berjalan. Jadi tidak ada anggaran khusus hanya untuk pemberian obat cacing,” katanya.
Kepala Puskesmas Diminta Serius
Dinas Kesehatan juga meminta seluruh 26 kepala Puskesmas di Kabupaten Mimika agar lebih serius mengawal pelaksanaan POPM.
Kepala puskesmas perlu memastikan tenaga kesehatan aktif turun ke lapangan, melakukan pemantauan, evaluasi, hingga sweeping terhadap anak-anak yang belum menerima obat.
“Kami berharap Kepala Puskesmas benar-benar mengawal program ini, memastikan seluruh sasaran ditemukan, mengevaluasi kendala di lapangan, dan bila perlu melakukan sweeping hingga Oktober agar seluruh anak bisa menerima obat,” tegasnya.
Masyarakat Diajak Lebih Proaktif
Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat agar berperan aktif membawa anak-anak ke Posyandu pada pelaksanaan POPM yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang.
Program ini dinilai penting untuk mencegah infeksi cacing yang dapat mengganggu pertumbuhan, status gizi, kemampuan belajar, hingga kesehatan anak secara umum.
Meski Dinkes memastikan stok obat tersedia dan mekanisme pelaksanaan telah disiapkan, capaian yang masih bertahan di 81% memunculkan pertanyaan yang layak dievaluasi bersama.
Apakah persoalan sebenarnya terletak pada rendahnya partisipasi masyarakat, kurang optimalnya dukungan sekolah, validitas data sasaran, atau efektivitas pelaksanaan program di lapangan?
Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab jika Mimika ingin mengejar target nasional 95% pada tahun 2026. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru








