TIMIKA, Koranpapua.id- Proses pengembangan dan penentuan pengelola baru Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) terus berjalan.
Proses ini mengingat batas akhir kontrak pengelola RSMM oleh Yayasan Caritas Timika Papua (YCTP) akan berakhir pada 30 Desember 2026.
Menjelang masa akhir kemitraan selama 25 tahun bersama YCTP tersebut, YPMAK saat ini tengah mempersiapkan Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan Master Plan sebagai fondasi utama sebelum dilakukan lelang pengelolaan rumah sakit.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua Pengurus Bidang Program sekaligus Ketua Komite Seleksi Pengelola RSMM, Feri Magai kepada Koranpapua.id di ruang kerjanya, Jumat 3 Juli 2026.
Feri menjelaskan, seluruh proses yang berjalan saat ini merupakan keputusan pembina YPMAK untuk membangun sistem pengelolaan RSMM yang lebih profesional dan berkelanjutan.
“Pembina telah memutuskan agar proses pengembangan RSMM dimulai melalui penyusunan master plan. Saya dipercaya sebagai Ketua Komite Seleksi untuk mengawal seluruh tahapan ini hingga selesai,” ujar Feri.
Menurutnya, sebelum memilih pengelola rumah sakit yang baru, pihaknya terlebih dahulu harus memiliki dokumen perencanaan yang komprehensif agar arah pengembangan RSMM benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat Papua Tengah.
Sekitar 30 Perusahaan Ikut Seleksi
Feri mengungkapkan, hingga saat ini sekitar 30 perusahaan konsultan dari berbagai daerah di Indonesia telah mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi penyusunan RIP dan Master Plan RSMM.
Seluruh peserta nantinya akan menerima Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang saat ini sedang menunggu pengesahan dari pembina.
“Setelah KAK disahkan, kami akan melakukan penjelasan atau sosialisasi kepada seluruh calon mitra. Dari situ mereka akan menyusun proposal sesuai kebutuhan yang kami inginkan,” beber Feri.
Melalui proposal tersebut, pihaknya akan menilai untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka terhadap konsep pengembangan RSMM ke depan.
Ia menambahkan, proses seleksi dilakukan secara terbuka sehingga seluruh perusahaan yang memenuhi persyaratan memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti tahapan seleksi.
Didampingi Konsultan Independen
Dalam menjalankan proses seleksi, Komite Seleksi juga didampingi oleh konsultan independen, Ligar Mandiri Indonesia (LMI), yang bertugas memastikan seluruh tahapan berlangsung profesional, transparan, dan sesuai aturan.
Keberadaan konsultan pendamping menjadi bagian penting agar penyusunan dokumen perencanaan memiliki kualitas yang baik sebelum nantinya digunakan sebagai dasar pelelangan pengelola RSMM.
“Setelah master plan selesai disusun, dokumen tersebut akan menjadi acuan utama dalam proses seleksi pengelola rumah sakit,” katanya.
Harus Pahami Kearifan Lokal
Feri menegaskan bahwa konsultan yang nantinya terpilih tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus memahami kondisi nyata Kabupaten Mimika.
Mulai dari karakteristik masyarakat, kearifan lokal, hingga pola penyakit yang paling banyak dialami masyarakat menjadi bagian penting yang harus dimasukkan dalam penyusunan master plan.
“Kami ingin penyusun master plan memahami kondisi kesehatan di Mimika, penyakit-penyakit yang menjadi prioritas, budaya masyarakat, serta regulasi rumah sakit. Dengan begitu, dokumen yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan, rumah sakit-rumah sakit besar di Indonesia memiliki layanan unggulan sesuai kebutuhan daerah masing-masing.
Karena itu, RSMM juga diharapkan memiliki arah pengembangan yang jelas berdasarkan kebutuhan masyarakat Mimika dan Papua Tengah.
Ditargetkan Menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional
Lebih jauh, Feri mengatakan visi besar yang sedang disiapkan adalah menjadikan RSMM sebagai rumah sakit rujukan berkualitas di wilayah Papua Tengah.
Pengembangan tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur, tetapi juga sistem tata kelola, pelayanan kesehatan, hingga strategi pengelolaan agar mampu menarik lebih banyak pasien, termasuk dari kabupaten lain.
“Kami ingin RSMM berubah secara menyeluruh. Bukan hanya bangunannya, tetapi juga tata kelola dan kualitas pelayanannya sehingga menjadi rumah sakit yang mampu bersaing dan menjadi rujukan masyarakat Papua Tengah,” katanya.
Rekomendasi Diserahkan kepada Pembina
Setelah seluruh tahapan seleksi selesai, Komite Seleksi akan menetapkan sejumlah kandidat terbaik untuk direkomendasikan kepada pengurus dan pembina YPMAK.
Keputusan akhir mengenai mitra penyusun master plan maupun pengelola RSMM nantinya berada di tangan pembina setelah melalui pembahasan bersama pengurus.
Feri menambahkan bahwa jadwal seleksi telah disusun, namun pelaksanaannya menyesuaikan agenda rapat para pembina yang melibatkan unsur pemerintah, YPMAK, dan pihak terkait lainnya.
“Target kami adalah menghadirkan perencanaan yang matang sehingga pengelola RSMM yang nantinya terpilih memiliki pedoman yang jelas dalam membangun rumah sakit yang modern, profesional, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Papua Tengah,” tutupnya. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru







