JAKARTA, Koranpapua.id- Pemerintah Pusat (Pempus) menggelontorkan dana sebesar Rp5 triliun untuk mendukung program pertanian dan menjadikan tanah Papua sebagai lumbung dan pemasok pangan di wilayah Indonesia Timur.
Dengan dana yang sangat besar dan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, merupakan komitmen pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan sektor pertanian di Papua
Hal itu disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman usai Rapat Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua 2026 yang berlangsung di Jakarta, Kamis 11 Juni 2026.
Hadir dalam pertemuan yang berlangsung di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian yakni, para gubernur, bupati, kepala dinas pertanian, penyuluh, dan petani dari seluruh wilayah Papua.
Menurut Amran, pertemuan tersebut menjadi forum untuk menyerap langsung kebutuhan dan aspirasi daerah guna mempercepat pembangunan pertanian sesuai arahan Presiden Republik Indonesia.
“Kami mendapat kehormatan menerima gubernur, bupati, kepala dinas, penyuluh, dan petani dari seluruh Tanah Papua,” ujar Amran seperti dikutip, Sabtu 13 Juni 2026.
“Kami sudah berdiskusi mengenai kebutuhan sektor pertanian dan apa saja yang diusulkan daerah, lalu kami sesuaikan dengan anggaran yang tersedia di Kementerian Pertanian,” sambung Amran.
Ia menjelaskan, hasil efisiensi dan refocusing anggaran pemerintah diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua.
Pada 2025 dan 2026, total dukungan anggaran pertanian untuk Papua mencapai sekitar Rp5 triliun.
“Ini merupakan anggaran sektor pertanian tertinggi sepanjang sejarah untuk Papua. Semua ini atas arahan Bapak Presiden agar Papua, Kalimantan, dan Sumatera semakin mandiri pangan dan mandiri energi ke depan,” katanya.
Amran menambahkan, pemerintah juga ingin memastikan harga pangan di Papua semakin terjangkau dan setara dengan daerah lain di Indonesia.
Karena itu, berbagai komoditas strategis seperti padi, jagung, kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, hingga singkong menjadi bagian dari program pengembangan yang akan diperkuat.
“Kami menanyakan langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Papua. Mulai dari padi, jagung, kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, hingga singkong akan kita programkan untuk saudara-saudara kita di Papua,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai kepala daerah juga mengusulkan tambahan dukungan berupa perluasan areal tanam, cetak sawah, irigasi, traktor, dan bantuan sarana produksi lainnya.
Amran mengatakan sekitar 90 persen usulan yang disampaikan telah disetujui dan akan segera ditindaklanjuti.
“Hampir 90 persen permintaan hari ini kami penuhi. Jika progresnya bagus, maka bisa mencapai 100 persen. Bahkan hari ini saya sudah meminta seluruh jajaran direktorat jenderal agar tambahan bantuan yang diajukan segera dilaksanakan secepat-cepatnya,” tegasnya.
Terkait program cetak sawah, Mentan Amran menyebut total luas yang sedang dikembangkan di Papua pada 2025-2026 mencapai sekitar 80 ribu hektare. Sebagian lahan sudah berproduksi dan menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan.
Ia menegaskan seluruh pengembangan pertanian di Papua akan menggunakan sistem modern berbasis mekanisasi. Pemerintah akan menyalurkan ratusan unit traktor dan alat mesin pertanian untuk mendukung pengelolaan lahan skala besar.
Ia menambahkan, hasil pembangunan pertanian mulai dirasakan masyarakat. Harga beras yang sebelumnya bisa mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram di sejumlah wilayah Papua kini turun dan semakin mendekati harga nasional.
“Kita ingin saudara-saudara kita di Papua menikmati harga pangan yang sama dengan masyarakat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi” ujar Mentan Amran. (Redaksi)










