DOGIYAI, Koranpapua.id- Penembakan oleh aparat keamanan yang mengakibatkan Nopison Tebai (21) meninggal dunia, hingga kini masih menjadi polemik soal keterlibatan korban dalam kegiatan kelompok bersenjata di wilayah itu.
Seperti diketahui Nopison sebelumnya diberitakan ditembak aparat keamanan di Jalan Utama Dogiyai-Paniai, Provinsi Papua Tengah, Minggu 10 Mei 2026.
Setelah insiden penembakan itu, pihak SMAN 2 Dogiyai, membantah keras pernyataan kepolisian yang menyebut bahwa korban adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Sekolah dimana selama ini korban menimba ilmu, memastikan bahwa Nopison adalah siswa aktif yang masih duduk di bangku kelas XI IPS 2. Korban juga masih terdaftar resmi di data sekolah SMAN 2 Dogiyai.
Operator SMAN 2 Dogiyai, Benny Goo, menegaskan bahwa Nopison merupakan putra daerah asli Dogimani yang secara konsisten mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah itu.
“Korban bukan anggota kelompok tertentu seperti yang diklaim pihak kepolisian. Korban adalah murid kami, anak asli Dogimani, dan hingga saat ini masih berstatus siswa aktif,” tegas Benny Goo seperti dilansir, Selasa 12 Mei 2026.
Benny menambahkan bahwa identitas Nopison terdokumentasi secara legal dalam pangkalan data sekolah (Dapodik).
Berdasarkan keterangan pihak sekolah, saat kejadian berlangsung, Nopison sedang berada di lokasi pertandingan olahraga dalam rangka penggalangan dana.
“Saat itu, korban bersama beberapa pemuda lainnya sedang duduk beristirahat di bawah tenda di pinggir lapangan. Mereka hanya bersantai setelah mengikuti rangkaian kegiatan,” jelasnya.
Namun, situasi damai tersebut berubah mencekam ketika personel kepolisian tiba di lokasi.
Menurut saksi mata di tempat kejadian, penembakan dilepaskan ke arah kerumunan anak muda yang berada di bawah tenda tersebut.
Seperti diberitakan media ini sebelumnya, Kapolda Papua Brigjen Jermias Rontini mengatakan, aparat gabungan terpaksa mengambil, langkah tegas dikarenakan Niposon menyerang warga dan merusak tiga mobil, termasuk satu kendaraan polisi. (Redaksi)










