TIMIKA, Koranpapua.id- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika melaksanakan kegiatan lokakarya Continuous Quality Improvement (CQI), Jumat 25 April 2026.
Adapun tujuan dilaksanakan kegiatan ini yakni, dalam rangka penguatan program malaria serta implementasi terapi baru Primakuin dosis tinggi sebagai terapi radikal Plasmodium vivax (SCOPE) tahap 3.
Termasuk meningkatkan kualitas pelayanan serta memperkuat implementasi program malaria di Kabupaten Mimika sebagai upaya mendukung target Indonesia Bebas Malaria 2030.
Lokakarya yang berlangsung di salah satu hotel di Timika , dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Goldfried Maturbong AMK.S.IP.MMKes dan dihadiri sekitar 88 peserta perwakilan dari berbagai Puskesmas, Dinas Kesehatan dan mitra terkait.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs dalam sambutannya mengatakan, pentingnya penguatan program malaria melalui peningkatan mutu layanan dan kolaborasi lintas sektor.
“Malaria ini kalau kita lihat dari target tinggal empat tahun lagi menuju eliminasi. Karena itu butuh kerja keras kita semua dan terima kasih kepada bapa ibu yang di luar Dinas Kesehatan tapi punya hati dan punya rasa mau membantu mengendalikan malaria di Kabupaten Mimika,” ungkap Godfried.
Dikatakan, dukungan dan lembaga mitra sangat penting sehingga apa yang diharapkan pemerintah pusat dapat dilaksanakan oleh Kabupaten Mimika. “Kalau bisa kita keluar dari daftar nomor urut satu, mininal daftar nomor urut lima, sepuluh atau sebelas tingkat nasional,” harapnya.
Sementara itu, Linus Dumatubun, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dalam laporannya menyebutkan, Mimika menjadi satu dari sembilan kabupaten di Tanah Papua yang masuk prioritas nasional dalam percepatan eliminasi malaria.
Hal ini disebabkan tingginya angka Annual Parasite Incidence (API) yang masih berada di atas 100 per 1.000 penduduk
Karena itu diperlukan komitmen bersama dari seluruh tenaga kesehatan untuk keberhasilan eliminasi malaria.
Serta mendorong langkah strategis yang terukur dan berkelanjutan hingga ke tingkat layanan kesehatan dasar.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin memastikan bahwa pelayanan malaria berjalan sesuai standar dan memberikan dampak nyata dalam penurunan kasus,” ujarnya.
Dikatakan, evaluasi CQI kali ini melibatkan lima Puskesmas percontohan, yakni Puskesmas Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral, dan Bhintuka.
Selain meninjau program rutin, kegiatan ini juga memberikan perhatian khusus pada implementasi Terapi Baru Primakuin (TBP) yang saat ini telah dijalankan di empat Puskesmas.
Ia menegaskan, pendekatan CQI menjadi sarana penting bagi fasilitas kesehatan untuk mengukur dan mengevaluasi keberhasilan program secara sistematis.
Linus yang juga sebagai Ketua Panitia Lokakarya menyampaikan bahwa kegiatan berjalan lancar dan sesuai dengan agenda yang telah direncanakan.
Panitia juga melaporkan partisipasi aktif dari peserta dalam sesi pemaparan, diskusi kendala implementasi program, serta penyusunan rencana tindak lanjut di masing-masing Puskesmas.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah evaluasi capaian program malaria di beberapa wilayah kerja, seperti Puskesmas Timika, Wania, Pasar Sentral, Bhintuka, dan Timika Jaya.
Berbagai tantangan di lapangan turut dibahas untuk mencari solusi yang lebih efektif dan terintegrasi.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kualitas pelayanan malaria semakin meningkat dan mampu mendukung percepatan pengendalian serta penurunan kasus malaria di Kabupaten Mimika.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kualitas pelayanan malaria semakin meningkat dan mampu mendukung percepatan pengendalian serta penurunan kasus malaria di Kabupaten Mimika.
Kegiatan ini juga dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran internal Dinas Kesehatan, para kepala Puskesmas, dokter penanggung jawab poli, hingga tenaga laboratorium dan farmasi.

Turut hadir pula mitra strategis, seperti Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP) dan PERDHAKI.
Sejumlah poin utama yang dibahas dalam evaluasi tersebut meliputi pemaparan SHEPPI dan TBP untuk meninjau standar pelayanan serta protokol terapi terbaru.
Termasuk monitoring kader dalam pemantauan hari ke-3 di lapangan, serta penerapan metode Plan-Do-Study-Act (PDSA) sebagai bagian dari perencanaan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan.
Melalui evaluasi berbasis data dan peningkatan mutu layanan ini, Dinkes Mimika optimistis dapat menekan angka malaria secara signifikan. Sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara menyeluruh. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










