TIMIKA, Koranpapua.id– Di tengah tantangan sektor pertanian, kisah Mas Rotama (31), petani muda asal Kampung SP5 Limau Asri Timur, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, ini menjadi inspirasi.
Berbekal pengalaman dari keluarga dan pembelajaran mandiri melalui YouTube, ia berhasil mengembangkan usaha tani dari nol hingga mampu menembus pasar luar daerah.
Lahir dari keluarga petani, Rotama sudah akrab dengan kehidupan di ladang sejak kecil.
Setelah lulus SMA pada 2012, ia sempat membantu orang tuanya bertani selama sekitar satu tahun.
Dari pengalaman tersebut, muncul keberanian untuk membuka lahan sendiri.
“Awalnya cuma coba-coba, bantu orang tua. Lama-lama jadi suka,” ujarnya saat ditemui di gubuk dekat lahannya, Sabtu 28 Maret 2026.
Ia memulai usahanya di wilayah SP6, Distrik Iwaka, dengan menanam tomat buah.
Seiring waktu, Rotama mengembangkan komoditas lain seperti semangka yang sempat menjadi andalan.
Ketekunannya terus berlanjut, bahkan setelah ia menikah di usia 23 tahun.
Dalam membangun usaha, Rotama dan istrinya berbagi peran. Ia fokus mengelola lahan, sementara sang istri membantu memasarkan hasil panen ke pasar.
Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama dalam menopang ekonomi keluarga.
Namun, perjalanan sebagai petani tidak selalu berjalan mulus.
Rotama mengaku kerap menghadapi tekanan harga akibat masuknya produk pertanian dari luar daerah. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi tantangan besar.
Ia pernah mengalami kerugian besar saat banjir datang tepat menjelang panen semangka pada akhir tahun 2025.
Saat itu, ia bersama sejumlah petani muda di SP5 yang tergabung dalam satu kelompok tengah bersiap panen.
“Sudah tinggal panen, tapi banjir datang dan hampir semua habis. Dari perkiraan hasil panen sekitar 4 ton, hanya sisa 1,5 ton” kenangnya.

Meski begitu, Rotama memilih untuk bangkit. Ia kini fokus mengembangkan tanaman cabai yang dinilai lebih menjanjikan.
Dengan pengelolaan yang konsisten, ia mampu melakukan panen berkali-kali dalam satu siklus tanam.
Hasil panennya tidak hanya dipasarkan di Pasar Sentral Timika, tetapi juga dikirim ke daerah lain seperti Asmat.
Hal ini membantu memperluas pasar sekaligus menjaga stabilitas penjualan.
Menariknya, Rotama juga aktif memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengetahuan bertani.
Ia belajar secara mandiri melalui internet, terutama dari YouTube, untuk memahami teknik pengendalian hama dan pengelolaan tanah.
“Walaupun kondisi tanah berbeda, banyak ilmu yang bisa dipelajari dari internet,” katanya.
Dari hasil kerja kerasnya, Rotama kini mampu memenuhi kebutuhan keluarga, membeli lahan, hingga mempekerjakan orang lain.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan membaca pasar dan mengelola modal dalam usaha pertanian.
Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada petani, khususnya terkait ketersediaan pupuk subsidi yang masih sulit diakses.
“Bukan soal mahal, tapi kadang pupuknya susah didapat,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Rotama berpesan kepada generasi muda agar tidak ragu terjun ke dunia pertanian.
“Jangan gengsi jadi petani. Yang penting bisa menghasilkan. Kalau sudah mulai, harus serius dan jangan cepat menyerah,” tuturnya.
Baginya, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang memberikan kebebasan, kedekatan dengan keluarga, serta kepuasan dari hasil kerja sendiri. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









