TIMIKA, Koranpapua.id– Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) bekerja sama dengan Yayasan Rumsram Coaching (YRC) menggelar Pelatihan Fasilitator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kampung.
Kegiatan pelatihan ini berlangsung di Timika selama dua hari, dimulai hari ini, Selasa 10 Februari sampai Rabu 11 Februari 2026.
Ishak Matarihi, Direktur Yayasan Rumsram, mengatakan pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas fasilitator lapangan dalam mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di kampung-kampung, khususnya terkait sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Ia menegaskan bahwa persoalan sanitasi, kesehatan anak, hingga ekonomi masyarakat tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah tetapi perlu keterlibatan semua pihak.
“Pekerjaan di tanah ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Harus bersama-sama, pemerintah, swasta, lembaga adat, gereja, pemerintahan kampung, dan masyarakat,” ujar Ishak.
“Kita bertanggung jawab bersama untuk mengurangi persoalan sanitasi, rendahnya literasi anak, dan keterbatasan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Ishak menjelaskan, STBM memiliki lima pilar utama, yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah, serta pengelolaan limbah cair.
Namun dalam praktiknya, pelaksanaan di lapangan masih didominasi oleh pilar pertama dan kedua.
“Dorongan untuk penerapan lima pilar secara utuh selama ini lebih banyak dilakukan oleh NGO. Di Papua, baru Kabupaten Biak dan Jayapura yang berstatus Open Defecation Free (ODF),” pungkasnya.
Ishak menyebutkan, dari 16 kampung dampingan, lima kampung disiapkan mencapai status ODF murni, sementara 15 kampung lainnya ditargetkan tuntas hingga tahun depan.
Adapun lima kampung tersebut yaitu, Kampung Mioko, Aikawapuka, Amungun, Emkomahlama, dan Ohotya.
Pelatihan ini menjadi ruang diskusi untuk menyusun strategi percepatan bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kolaborasi menjadi kunci. Ini bukan hanya mandat pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama, termasuk peran media dalam mendorong kesadaran masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Feri Magai Uamang, menyoroti tantangan besar penerapan STBM, baik di wilayah perkotaan, pedalaman, maupun pesisir.
“Permasalahan STBM ini sangat kompleks karena berkaitan dengan kebiasaan dan cara hidup masyarakat yang sudah berlangsung ratusan tahun,” ungkapnya.
Karenanya untuk mengubah perilaku hidup sehat tentu membutuhkan waktu, pendekatan yang tepat, dan kerja sama semua pihak.
Feri menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan dinas terkait yang selama ini bersinergi dengan YPMAK dalam pelaksanaan program Kampung Sehat dan program pemberdayaan lainnya.
Menurut Feri, pengalaman lapangan para fasilitator selama setahun terakhir menjadi modal penting untuk menentukan strategi pendekatan yang lebih efektif.
Ia berharap melalui pelatihan ini, pengetahuan dan keterampilan fasilitator semakin meningkat dalam menjawab tantangan di masyarakat.
“Kami memiliki keterbatasan sumber daya sehingga belum bisa menjangkau semua wilayah. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah menjadi sangat penting agar intervensi dapat diperluas dan dampak program semakin besar,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antara YPMAK, Yayasan Rumsram, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam mewujudkan kampung-kampung yang sehat, bebas BABS, dan berkelanjutan di Tanah Papua. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










