TIMIKA, Koranpapua.id- Konflik antarkelompok warga di Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah yang menewaskan sepuluh orang mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika.
Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa persoalan tersebut merupakan masalah serius yang harus ditangani secara terpadu.
Hal itu disampaikannya kepada awak media di Kantor Pusat Pemerintahan Mimika, Senin 5 Januari 2025.
“Yang jelas bahwa persoalan Kwamki Narama itu persoalan yang serius. Hari ini saya akan rapat koordinasi dengan Forkopimda,” ujar Johannes.
Menurutnya, penanganan konflik tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah dan aparat keamanan.
Ia memastikan bahwa langkah-langkah pengamanan telah dijalankan oleh TNI-Polri di lapangan.
“Saat ini di Kwamki Narama sudah dilaksanakan sweeping dan langkah-langkah lain oleh pihak keamanan,” katanya.
Johannes juga mengungkapkan bahwa koordinasi dengan aparat keamanan telah dilakukan secara intensif, bahkan hingga dini hari.
Pemerintah daerah bersama Forkopimda pun telah menggelar pasukan guna memastikan situasi keamanan tetap terkendali.
“Hari ini saya finalisasi dengan teman-teman Forkopimda. Semua langkah pengamanan sudah berjalan,” pungkasnya.
Seperti diberitakan media ini, bentrok antarkelompok warga kembali terjadi di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Minggu 4 Januari 2026.
Bentrok terbaru ini menambah daftar korban jiwa dalam konflik berkepanjangan tersebut, dengan total warga yang meninggal dunia kini mencapai 10 orang.
Korban terbaru diketahui bernama Jori Murib, seorang warga yang dilaporkan meninggal dunia setelah terkena anak panah.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kwamki Narama, Yusak Sawaki, membenarkan adanya penambahan korban tersebut.
Konflik antarkelompok warga di Distrik Kwamki Narama diketahui telah berlangsung sejak 30 September 2025.
Konflik berdarah ini awalnya dipicu oleh dugaan kasus perselingkuhan di Kabupaten Puncak, namun kemudian merembet hingga ke wilayah Kabupaten Mimika.
Sejak saat itu, ketegangan terus berulang meski berbagai upaya perdamaian telah dilakukan oleh pihak terkait.
Komposisi Seimbang 5:5, Desak Perang Dihentikan
Dengan bertambahnya satu korban pada Minggu, 4 Januari 2026, konflik di Distrik Kwamki Narama kini telah merenggut 10 nyawa.
Komposisi korban jiwa saat ini seimbang, dari pihak Dang dan lima korban lainnya dari pihak Newengalem.
Dengan jumlah korban yang sama, berbagai pihak kembali mendesak agar pertikaian segera dihentikan melalui prosesi adat ‘patah panah’ sebagai simbol berakhirnya konflik.
“Sudah cukup. Jangan tambah perang lagi. Baku balas sudah selesai. Segera stop dan lakukan patah panah,” tulis Yohanes Kemong, tokoh masyarakat Mimika yang juga sebagai Anggota DPR Provinsi Papua Tengah dalam dalam grup WhatsApp. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










