TIMIKA, Koranpapua.id– Realisasi serapan anggaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, hingga awal Juli 2026 masih berada di angka 22,37 persen.
Meski tergolong rendah, kondisi tersebut bukan akibat terhambatnya pembangunan, melainkan karena proses pengadaan barang dan jasa yang harus berjalan sesuai ketentuan.
Terkait kondisi ini, Bupati Mimika Johannes Rettob, menjelaskan rendahnya serapan anggaran dipengaruhi komposisi belanja daerah.
Menurutnya, belanja jasa dan perawatan direalisasikan secara bertahap setiap bulan, sedangkan belanja modal baru dapat dicairkan setelah seluruh tahapan lelang selesai.
“Proses lelang itu tertunda banyak, karena kita harus ada beberapa hal yang harus kita patuhi dalam tahun ini,” kata Johannes kepada awak media, Rabu 8 Juli 2026.
Ia menjelaskan, proses pengadaan membutuhkan waktu karena harus mengikuti regulasi pemerintah, termasuk penyesuaian harga satuan.
Pasalnya, mekanisme tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga akuntabilitas penggunaan anggaran.
“Ini bukan kendala, melainkan bagian dari mekanisme agar pembangunan tetap dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Johannes menargetkan seluruh proses tender rampung pada Agustus 2026 sehingga pelaksanaan proyek fisik dapat dipercepat pada semester kedua tahun ini.
“Kita kasih waktu dan sebenarnya tidak ada kendala apa-apa di dalam proses ini,” katanya.
Bupati Johannes juga membantah anggapan bahwa pembangunan di Mimika berjalan lambat.
Menurutnya, sebagian besar proyek saat ini berlangsung di wilayah kampung sehingga tidak seluruhnya terlihat oleh masyarakat yang berada di kota.
“Ini mungkin tidak terlihat di kota, tetapi banyak pembangunan sudah berjalan di kampung, seperti perumahan, air bersih, dan infrastruktur lainnya yang sudah dirasakan masyarakat,” ungkapnya.
Selain pembangunan fisik, Pemkab Mimika juga terus menggenjot program di sektor kesehatan dan penanganan stunting agar manfaat pembangunan dirasakan secara lebih luas.
“Intinya saat ini pembangunan tetap berjalan, kita bekerja berbasis data, evaluasi, dan solusi, semua ini agar masyarakat benar-benar merasakan hasil dari pembangunan yang telah dilakukan,” tutup Johannes. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










