TIMIKA, Koranpapua.id- Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Kogabwilhan III) yang bermarkas di Timika, Kabupaten Mimika, mencatat ratusan penindakan terhadap berbagai aktivitas ilegal di wilayah Papua, Maluku, dan Maluku Utara sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Panglima Letjen TNI Lucky Avianto menegaskan seluruh operasi merupakan bagian dari pelaksanaan tugas pengamanan wilayah Indonesia bagian timur.
“Ini bagian dari pertanggungjawaban pelaksanaan tugas TNI di wilayah Papua dan Maluku,” kata Lucky dalam konferensi pers di Makogabwilhan III, Mile 32 Timika, Senin 6 Juli 2026.
Di sektor laut, operasi yang melibatkan Koarmada III mengungkap berbagai aktivitas ilegal yang memanfaatkan jalur perairan.
Mulai dari penyelundupan senjata, narkotika, BBM ilegal, satwa liar, hingga minuman keras, termasuk praktik ship to ship transfer bahan bakar.
Sepanjang semester I 2026, aparat mencatat empat kasus penyelundupan senjata api dan amunisi, dua kasus BBM ilegal, enam kasus satwa liar lima kasus Narkotika, dan 24 kasus minuman keras ilegal.
Di wilayah udara, Komando Daerah Angkatan Udara III (Kodau III) menangani pelanggaran wilayah udara, termasuk penerbangan tanpa izin dan pesawat tidak terjadwal di wilayah operasi.
Sementara di darat, aparat menemukan sekitar 3.000 batang tanaman ganja di wilayah perbatasan serta mengungkap 30 kasus peredaran narkotika jenis ganja.
Modus penyelundupan dilakukan beragam, mulai dari paket pakaian, koper, hingga karung dan kardus.
Selain itu, turut diamankan 47 pucuk senjata api, 92 senapan angin modifikasi, sekitar 800 butir amunisi berbagai kaliber, serta sejumlah senjata tradisional.
Aparat juga menyita uang tunai sekitar Rp36 juta dan perangkat komunikasi yang diduga digunakan dalam aktivitas kelompok bersenjata di Papua.
Lucky menyebut sebagian senjata yang diamankan tidak berasal dari inventaris resmi aparat, sehingga mengindikasikan adanya jalur pasokan dari luar wilayah.
Karena itu, pengawasan diperketat melalui patroli dan penyekatan di jalur darat, laut, dan udara.
“Ini menjadi perhatian kami untuk memperkuat patroli dan penyekatan agar tidak terjadi penyelundupan,” ujarnya.
Ia menambahkan, operasi juga difokuskan pada wilayah yang dinilai minim kehadiran aparat keamanan dan rawan aktivitas bersenjata.
Keterbatasan personel di Papua diatasi melalui penugasan satuan tugas bantuan kendali operasi (BKO).
Selain operasi keamanan, TNI juga melaksanakan operasi evakuasi dan bantuan kemanusiaan, termasuk di Yahukimo.
“Ini menunjukkan kehadiran negara dalam menjaga stabilitas serta mendukung aktivitas masyarakat,” kata Lucky.
Ia menegaskan, keberhasilan operasi diukur dari terciptanya stabilitas keamanan serta terbukanya ruang bagi pembangunan dan pelayanan publik di Papua dan Maluku. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










