TIMIKA, Koranpapua.id- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Papua Tengah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) dan Evaluasi Pelayanan Kesehatan Remaja Putri bagi pelajar SMP di Timika, Senin 4 Mei 2026.
Pertemuan resmi yang melibatkan sejumlah SMP itu bertujuan untuk menyamakan persepsi sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan remaja, khususnya dalam pencegahan anemia dan pemantauan status gizi di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Timika juga difokuskan pada agenda utama melakukan evaluasi pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi remaja putri di tingkat SMP.
Kadis Kesehatan Mimika, Goldfried Maturbongs, AMK, S.IP. MMKes yang diwakili Sekretaris Dinkes Dr. Sisma HL, S.ST.,Bd.,M.Keb mengatakan, remaja putri sangat spesial, karena bakal akan melahirkan penerus bangsa.
Untuk itu, kegiatan ini sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh remaja putri sebelum nanti akan memasuki usia dewasa.
“Tentu menjadi pemikiran kita bersama, kenapa harus remaja putri yang diundang hadir disini? Kenapa bukan remaja putra,” ujar Sisma.
“Karena begitu spesialnya remaja perempuan, sebab ke depan mereka bakal melahirkan penerus bangsa,” lanjut Sisma.
Sebagai calon ibu di masa datang, maka sejak saat ini remaja putri yang duduk di tingkat SMP harus mendapatkan tablet tambah darah, termasuk beberapa pemeriksaan kesehatan lainnya.
“Pemberian tablet tambah darah, diberikan minggu satu kali dalam satu minggu. Ini terus diberikan sampai duduk di kelas tiga SMA/SMK,” kata Sisma.
Dikatakan, melalui Rakor tersebut yang perlu dibahas tidak saja sebatas angka, tetapi sudah sejauh mana program ini berjalan di setiap sekolah.
“Kalau bicara angka dari 11.000 capaian target sudah 75 persen atau sekitar 8.000 remaja putri yang harus kita rangkul. Tapi pertanyaannya apakah tablet tambah darah sudah benar-benar diminum,” tanya……
“Kalau dia minum di rumah, apakah itu benar-benar diminum atau tidak? Mungkin hal-hal seperti ini bapak ibu sekalian yang harus kita sepakati bersama,” katanya.
Terkait dengan itu, Dinkes bersama pihak sekolah perlu ada komitmen bersama agar program ini dapat terlaksana dengan baik.
“Mungkin hal-hal teknis tersebut yang nanti akan kita sepakati bersama. Pelaporannya yang diberikan teman-teman Puskesmas ke sekolah juga perlu direview lagi, apakah bentuk laporan itu sudah menjawab apa yang kita lampirkan,” jelasnya.
Ditambahkan, dengan kehadiran pihak sekolah dalam kegiatan itu, disampaikan terima kasih.
Puskesmas sebagai unjuk tombak pelayanan juga diingatkan untuk terus melakukan koordinasi dengan pihak sekolah sehingga remaja putri dapat terlayani dengan baik.
“Ujung tombaknya adalah sekolah, jadi harus muncul peran dari sekolah. Kalau kami di Dinkes berikan pelayanan tetapi yang mengeksekusi laporannya dari anak-anak adalah bapak ibu sekalian,” pungkasnya.
Ia berharap melalui Rakor hari ini dapat menghasilkan kesepakatan bersama yang untuk menunjang cakupan, yang tidak hanya sebatas angka tetapi benar-benar pelayanan tersebut sampai kepada para remaja putri di setiap lembaga pendidikan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










