PUNCAK, Koranpapua.id- Jeki Murib, Komandan Ops Kepala Air OPM Kodap XVIII Ilaga, akhirnya tewas ditembak pasukan TNI.
Jeki tewas dalam kontak tembak di Desa Pinapa, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Senin 20 April 2026.
Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto menjelaskan bahwa tindakan tegas tersebut diambil setelah patroli rutin TNI dihadang oleh kelompok Jeki Murib menggunakan senjata api.
Aparat kemudian melakukan serangan balasan untuk menghentikan aksi membabi buta dari kelompok tersebut.
“Jeki Murib terpaksa kita lumpuhkan setelah yang bersangkutan dan kelompoknya melakukan serangan mendadak terhadap prajurit TNI,” kata Letjen Lucky dalam keterangannya yang dilansir Rabu 29 April 2026.
Langkah penindakan terhadap Jeki Murib, telah sesuai dengan standar prosedur operasi militer yang berlaku.
Penegakan hukum ini tetap memperhatikan aspek kemanusiaan meskipun situasi di lapangan sangat berisiko bagi keselamatan personel.
“Tindakan yang dilakukan prajurit merupakan bentuk profesionalisme TNI dalam menjaga keselamatan rakyat dan personel di lapangan,” tegas Lucky.
Aparat melaporkan bahwa Jeki Murib terkena dua tembakan dalam baku tembak tersebut sebelum akhirnya ditarik mundur oleh anggota kelompoknya ke arah hutan.
Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, anggota OPM lainnya melarikan diri untuk menghindari pengejaran petugas.
“Prajurit kita tetap mampu bertindak tepat sasaran. Jeki Murib berhasil dilumpuhkan dengan dua tembakan, meski situasi saat itu sangat terjepit,” ungkap Lucky.
Informasi mengenai tewasnya Jeki juga terkonfirmasi melalui jaringan simpatisan TPNPB-OPM di media sosial.
Jenazah pimpinan operasi tersebut dikabarkan telah dibakar oleh kelompoknya sendiri setelah berhasil dievakuasi dari titik kontak senjata.
“Dari hasil pemantauan di lokasi, terlihat Jeki Murib yang tertembak sempat diseret oleh anggota kelompoknya menjauh dari titik persembunyian,” tutur Lucky.
Pihak TNI mengidentifikasi Jeki Murib sebagai buronan yang kerap menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup dalam setiap aksinya.
Strategi ini sering membuat aparat keamanan mengalami hambatan saat melakukan penindakan hukum di wilayah konflik.
“Anggota KKB lainnya melarikan diri ke dalam hutan. Informasi sementara menyebutkan jasad Jeki Murib kemudian dibakar oleh kelompoknya,” beber Lucky.
Jejak kriminal Jeki mencakup serangkaian aksi kekerasan fatal, termasuk pembunuhan karyawan PT Freeport Indonesia bernama Simson Mulia di area Grasberg pada Maret lalu.
Ia juga diketahui terlibat dalam penyerangan pekerja pembangunan puskesmas serta pembakaran fasilitas umum.
“Jeki Murib dan kelompoknya kerap memanfaatkan warga sipil seperti anak-anak, perempuan, dan lansia sebagai tameng hidup saat berhadapan dengan TNI,” ucap Lucky.
Daftar kejahatan lainnya meliputi penembakan di Bandara Amingaru, pembakaran gereja dan sekolah, hingga perusakan kantor pemerintah serta rumah dinas Bupati Puncak pada pertengahan 2025.
Penumpasan Jeki Murib diharapkan dapat menurunkan eskalasi gangguan keamanan di wilayah Puncak.
“Ia diduga kuat sebagai otak di balik serangkaian aksi kekerasan, termasuk pembunuhan karyawan PT Freeport Indonesia, Simson Mulia, di area Grasberg, Distrik Tembagapura,” papar Lucky.
Otoritas militer menyatakan bahwa kehadiran negara melalui TNI bertujuan untuk memulihkan kedamaian bagi masyarakat Papua.
Keamanan wilayah menjadi prioritas guna mendukung jalannya pembangunan di daerah tersebut.
“Langkah tegas ini diharapkan membawa harapan baru bagi masyarakat Papua untuk hidup lebih aman, damai, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkas Lucky. (Redaksi)










