TIMIKA, Koranpapua.id– Perjalanan hidup Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika, Abraham Keteyau, adalah potret nyata tentang ketekunan, iman, dan komitmen pengabdian.
Lahir pada 13 April 1972, Abraham tumbuh dalam keterbatasan, namun tidak pernah membiarkan keadaan membatasi cita-citanya.
Sebagai putra asli Papua dari Suku Kamoro, Abraham pernah merasakan betapa sulitnya mengenyam pendidikan tinggi.
Namun berkat tekad kuat, dukungan keluarga, serta program beasiswa dari Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia melalui YPMAK (dulu LPMAK), Abraham mampu menapaki tangga pendidikan.
Kini ia boleh menikmati lelahnya dengan dipercayakan sebagai pimpinan birokrasi di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika.
Berangkat dengan Rp14 Ribu

Abraham kecil mengawali pendidikan dasarnya di Kampung Kekwa, Distrik Mimika Tengah Kabupaten Mimika.
Ia kemudian melanjutkan SMP di Kokonau dan lulus pada 1989. Pendidikan SMA ditempuhnya di SMA Katolik Luhur Nabire. Ia masuk menjadi angkatan ketiga sekolah itu.
Perjalanannya tidak mudah. Saat meninggalkan kampung untuk melanjutkan sekolah, Abraham hanya dibekali uang Rp14 ribu yang diberikan sang ayah.
“Ini uangmu. Silakan pergi. Yang penting selesai, baru kembali,” kenangnya mengulang pesan sang ayah saat diwawancarai Koranpapua.id, Rabu 11 Februari 2026.
Keterbatasan biaya bahkan sempat memaksanya berhenti sekolah selama satu tahun saat duduk di bangku SMA.
Abraham akhirnya memutuskan untuk merantau ke Sorong dan bekerja sebagai buruh kasar di Pelabuhan. Ia bahkan pernah ikut pekerjaan pengeboran minyak hingga ke Pulau Buru.
Meski sempat dilema dengan kondisi ekonominya yang tidak pasti, namun tekat untuk menyelesaikan sekolah terus membara di hatinya.
Abraham akhirnya kembali ke Nabire dan melanjutkan sekolahnya. Dedikasi dan prestasinya pun berbuah manis.
Kepala sekolah saat itu, almarhum Pak Edi Raya, langsung menaikkannya ke kelas tiga karena sebelumnya Abraham adalah siswa peringkat satu.
“Kalau kesempatan tidak dipakai baik-baik, hidup bisa jadi lebih sulit,” ujarnya.
Dari Uncen ke STIE, Hingga Magister Hukum
Setelah lulus SMA Katolik YPPK Adiluhur Nabire tahun 1993, Abraham diterima tanpa tes di Universitas Cenderawasih (Uncen) melalui jalur Seleksi Lokal Siswa Berpotensi.
Ia sempat mengambil program D3 Olahraga, namun merasa panggilan hidupnya bukan di sana.
Abraham kemudian melanjutkan studi ke jenjang Srata Satu (S1) di STIE Ottow Geissler Jayapura, jurusan Ekonomi, dan menyelesaikannya sekitar tahun 2000–2001. Saat itu, jumlah sarjana lulusan S1 dari Suku Kamoro masih sangat terbatas.
Abraham kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih, melalui program kerja sama pemerintah daerah.
Melalui pendidikan yang dilaluinya, kini menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya di saat ini.
Peran YPMAK dan Freeport dalam Perjalanan Hidupnya
Abraham adalah salah satu penerima manfaat program beasiswa dari YPMAK, lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia.
Program tersebut memberikan dukungan biaya pendidikan, uang saku, hingga pembinaan rutin bagi mahasiswa Amungme dan Kamoro.
“Kalau waktu itu program ini tidak ada, mungkin kami tidak tahu jadi seperti apa hari ini,” ungkapnya.
Ia bahkan pernah terpilih sebagai Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kamoro di Jayapura.
Program beasiswa tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga membangun solidaritas dan pembinaan karakter.
Karena kelangkaan sarjana Kamoro saat itu, Abraham direkrut langsung oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) tanpa tes setelah lulus S1 dan bekerja sebagai staf Industrial Relation, Departement HRD PT Freeport Indonesia.
Namun saat pemerintah daerah membuka peluang untuk mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Abraham kembali dihadapkan pada pilihan besar.
Apalagi saat itu perusahaan sempat menahannya selama dua minggu dan menawarkan penugasan ke luar negeri. “Tapi saya memilih mengabdi kepada masyarakat lewat jalur pemerintahan,” katanya.
Keputusan itu membuatnya memulai kembali dari nol, dengan upah bulanan yang jauh lebih kecil dibanding saat bekerja sebagai karyawan Freeport. Namun baginya, pengabdian adalah panggilan.
Karier Pemerintahan: Bertahap dan Sesuai Sistem
Kariernya dimulai sebagai CPNS di Dinas Sosial tahun 2001. Ia kemudian menjabat di berbagai posisi strategis.
Mulai dari Kepala Bidang di Dinas Pemuda dan Olahraga, Kepala Seksi di Dinas Pemberdayaan Masyarakat.
Abraham juga pernah dipercayakan menduduki jabatan sebagai Kepala Distrik Mimika Timur Jauh (2013) dan Kepala Bagian Organisasi Setda Mimika selama delapan tahun.
Kemudian dipercayakan menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas Kominfo serta Kepala Dinas PTSP.
Selanjutnya menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, hingga akhirnya dipercaya sebagai Pj Sekda Mimika oleh Bupati Johannes Rettob.
Menurutnya, jabatan bukan soal hebat atau tidak, tetapi tentang kesiapan mengikuti sistem dan proses.
“Semua ada aturannya. Kalau mau menduduki jabatan, harus ikut prosesnya. Disiplin, ikuti Diklat, naik pangkat sesuai aturan. Pimpinan pasti melihat itu,” ujarnya.
Pesan untuk Generasi Penerima Beasiswa
Sebagai mantan penerima beasiswa YPMAK, Abraham berpesan agar generasi muda Papua memanfaatkan kesempatan dengan sungguh-sungguh.
“Sekarang ini luar biasa. Uang saku ada, biaya pendidikan dibayar, makan minum dijamin. Tinggal bagaimana adik-adik mengatur diri supaya selesai tepat waktu,” pesannya.
Ia menyayangkan jika kesempatan emas itu disia-siakan. Karena menurutnya, bantuan pendidikan adalah bentuk kasih Tuhan yang harus dijawab dengan tanggung jawab.
“Tidak semua orang dapat kesempatan ini. Kalau tidak dipakai baik-baik, kasihan.”
Keluarga dan Fondasi Iman
Abraham lahir dari pasangan bapak Paulus (alm) dan mama Hendrika Potereyau.
Ia berdarah Papua asli, terlahir dari rahim perempuan Kamoro kampung Kekwa. Abraham memiliki seorang kakak, Teodorus, serta beberapa saudara angkat dalam keluarga besar.
Dalam kehidupan pribadinya, Abraham didampingi sang istri, Natalia, asal Boven Digoel, Merauke.
Mereka kini dikaruniai enam orang anak, tiga putra dan tiga putri, termasuk sepasang anak kembar.
“Istri selalu mendukung saya. Dalam setiap keputusan besar, dia selalu ada di belakang saya,” tuturnya.
Inspirasi dari Mimika
Kisah Abraham Keteyau bukan sekadar cerita sukses birokrasi. Ini adalah kisah tentang anak kampung yang pernah membawa Rp14 ribu di saku.
Bekerja sebagai buruh kasar, hampir putus sekolah, namun tetap bertahan karena satu tekad: harus menyelesaikan pendidikan.
Kini, sebagai Pj Sekda Mimika dan salah satu putra Kamoro yang berhasil menembus pendidikan tinggi.
Abraham yang baru menyelesaikan pendidikan program Doktoral (S3) di Universitas Trisakti Jakarta, menjadi bukti bahwa pendidikan dan kesempatan bila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh dapat mengubah masa depan.
“Ketika kita sudah siap, campur tangan Tuhan pasti datang lewat orang lain,” pungkasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









