MERAUKE, Koranpapua.id- Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) 2026 resmi dibuka, Jumat 30 Januari 2026.
Sidang dibuka oleh Ketua Umum PGI bersama Gubernur Papua Selatan dan Bupati Merauke yang ditandai dengan pemukulan tifa.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, sebagai moment mempertemukan gereja-gereja dari seluaruh Indonesia.
Untuk tahun ini Sidang MPL mengusung tema “Hiduplah sebagai Terang yang Membuahkan Kebaikan, Keadilan, dan Kebenaran” (Efesus 5:8b–9).
Dengan subtema “Bersama-sama Mewujudkan Masyarakat Majemuk yang Pancasilais dan Berdamai dengan Segenap Ciptaan Allah”.
Pikiran pokok sidang menegaskan panggilan gereja untuk “Hiduplah sebagai Terang: Mewujudkan Ecclesia Domestica yang Memulihkan Kehidupan Bangsa dan Merawat Ciptaan.”
Pembukaan sidang diawali dengan ibadah yang berlangsung penuh khimat dan sarat dengan nuansa budaya Papua.
Dipimpin oleh Pdt. Evelyn Iho, ibadah diawali dengan arak-arakan tarian tradisional Papua yang mengiringi masuknya para pelayan ibadah bersama Gubernur Papua Selatan ke dalam ruangan.
Suasana menjadi semakin reflektif ketika sebuah fragmen ditampilkan, menggambarkan realitas bencana ekologi dan penderitaan kemanusiaan yang dialami masyarakat Papua.
Fragmen ini menjadi suara pengantar yang kuat, mengajak seluruh peserta sidang untuk tidak menutup mata terhadap luka-luka yang masih menganga di Tanah Papua.
Renungan firman Tuhan disampaikan oleh Ketua Umum Sinode Gereja Protestan Indonesia (GPI) Papua, Pdt. Donald E. Salima, yang mengangkat Galatia 6:10 sebagai dasar permenungan.
Ia menegaskan bahwa seruan Rasul Paulus, “selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,” mengandung prinsip-prinsip etis yang mendalam.
Berbuat baik, menurutnya, bukan sekadar tindakan karitatif, melainkan wujud tanggung jawab iman yang harus dilakukan secara sadar, berani, dan konsisten.
Kesempatan untuk berbuat baik adalah anugerah Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Karena itu, gereja tidak boleh pasif atau berdiam diri.
Gereja dipanggil untuk berani bersaksi dan hadir secara nyata di tengah pergumulan bangsa yang terus berubah.
Pdt. Salima mengajak gereja-gereja untuk bergerak bersama dalam melakukan yang baik, benar, dan tepat bagi kehidupan bersama.
Usai pelayanan firman, Ketua Umum Majelis Pekerja Harian PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, melakukan tindakan simbolis dengan menimbun akar bibit pohon menggunakan tanah.
Tindakan ini menjadi lambang keberpihakan gereja kepada seluruh ciptaan dan komitmen untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.
Dalam sambutannya, Pdt. Jacklevyn menegaskan bahwa Merauke bukan sekadar sebuah lokasi penyelenggaraan sidang, melainkan ruang pembelajaran dan keberanian bagi gereja-gereja untuk berjalan bersama.
Gereja-gereja di seluruh Indonesia adalah satu tubuh yang dipanggil untuk menemani, mendengarkan, dan menyembuhkan luka, rintihan, serta tangis Papua.
Sejalan dengan tema sidang, gereja-gereja diingatkan untuk menjadi terang yang menghadirkan kebaikan, keadilan, dan pemulihan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan seluruh ciptaan.
Terang, tegasnya, adalah keberanian moral untuk tidak membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.
Gubernur Papua Selatan, Dr. Ir. Apolo Safanpo, ST., M.Th., dalam sambutannya mengutip pernyataan Ikatan Ahli Geologi Indonesia yang menyebut Papua sebagai ikat pinggang emas, sebuah ungkapan yang menggambarkan kekayaan alam Papua yang luar biasa.
Namun, ia menegaskan bahwa kekayaan tersebut harus dikelola dengan hikmat dan keadilan.
Ia juga mengutip doktrin Bapa Gereja, Santo Siprianus, Extra Ecclesiam Nulla Salus, untuk menegaskan pentingnya peran gereja dalam membawa manusia kepada Sang Bapa serta menghadirkan keselamatan yang nyata dalam kehidupan sosial.
Sidang MPL-PGI 2026 secara resmi dibuka melalui prosesi pemukulan tifa oleh Ketua Umum PGI bersama Gubernur Papua Selatan, Bupati Merauke, dan jajaran pemerintah daerah.
Pemukulan tifa ini menjadi simbol kebersamaan, panggilan persatuan, dan dimulainya proses persidangan.
Sidang MPL-PGI 2026 menjadi ruang perjumpaan, permenungan, dan pergumulan bersama gereja-gereja dalam mendengarkan jeritan tanah dan rakyat Papua.
Merumuskan langkah-langkah pelayanan yang profetis, serta memperteguh komitmen gereja untuk terus berjalan bersama sebagai terang yang memulihkan kehidupan keluarga dan bangsa, serta merawat segenap ciptaan Allah. (Redaksi)









